Oleh: Fadmin Malau
LEMANG makanan sudah berusia ratusan tahun sampai hari ini belum bisa mengalahkan kehadiran panganan atau makanan modren lainnya. Hal itu terjadi di Indonesia, khususnya di daerah Sumater Utara (Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan). Bagi masyarakat di daerah ini, bila Hari raya Idul Fitri tiba, Lemang menjadi makanan istimewa dan bisa lupa bahwa Lemang merupakan panganan yang mengundang kalestrol tinggi dan berbahaya bagi mereka yang memiliki kolestrol tinggi.
Lemang bukan panganan yang mudah dibuat karena membuat Lemang membutuhkan keahlian khusus sehingga bukan mudah dan gampang membuatnya. Membuat Lemang memerlukan kemahiran menakar beras ketan pulut, memiliki keahlian memasukkan daun pisang muda ke dalam buluh dan juga memilih buluh atau bambu Lemang yang baik. Disamping itu dibutuhkan juga keahlian menakar atau menyukat santan kelapa ke dalam beras ketat pulut di dalam buluh dan juga menjaga perapi Lemang agar dapat masak dengan sempurna dan rasanya enak. Tidak mudah, semuanya membutuhkan kemahiran dan keahlian tersendiri.
Wajar jika memasak Lemang bukan gampang dan tidak bisa dilakukan sembarang orang karena Lemang makanan istimewa. Menariknya, Lemang yang bukan mudah memasaknya itu ternyata Lemang bukan sekadar makanan, akan tetapi memiliki makna yang sakral ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Makna yang terkandung dalam panganan Lemang sebagai makanan tradisional itu sangat banyak dan memiliki nilai-nilai kebersamaan, silaturahmi dan sebagai manifestasi dari rasa persaudaraan dengan sesama manusia. Panganan Lemang dapat sebagai sarana silaturrahim, kasih sayang dan nilai-nilai religius bagi kaum Muslimin yang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Tidak sama maknanya dengan panganan lain yang dihidangkan pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Pada daerah pesisir tepi pantai Tapanuli Tengah, Sibolga, Barus sampai Singkil (perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh), Tapanuli Selatan, khususnya di daerah tepi pantai Natal, panganan Lemang sebagai tanda kasih sayang seorang anak kepada orangtuanya.
Panganan Lemang juga sebagai pererat tali silaturahmi dengan sesama saudara, famili dan tetangga. Boleh jadi karena panganan Lemang bukan sekadar panganan maka dari itu untuk membuat Lemang menjadi sangat istimewa. Rasanya hampir semua orang berkeinginan untuk membuat atau memasak Lemang ketika Hari Raya Idul Fitri.
Panganan Lemang bukan saja dibuat atau dimasak perorangan akan tetapi bisa juga dimasak secara bergotongroyong agar tidak merasa sulit untuk membuat atau memasak Lemang. Pada daerah Tapanuli Tengah, Lemang dibuat atau dimasak secara beramai-ramai atau berkeluarga dari mulai mencari bahan-bahan pembuat Lemang sampai kepada memasak Lemang itu.
Memasak Lemang bergotongroyong sangat tepat sebab membuat Lemang dari pekerjaan halus sampai pekerjaan kasar atau berat seperti menjaga api atau perapian ketika membakar Lemang agar masak atau matangnya menyeluruh. Menjaga api atau perapian Lemang tidak mudah, membutuhkan tenaga yang kuat, tahan panas dan sebagainya maka biasanya dilakukan kaum lelaki. Sedangkan menakar beras ketan pulut, santan kelapa, melapisi bagian dalam buluh dengan daun pisang muda dilakukan kaum wanita dan mencari, memotong buluh dikerjakan kaum lelaki.
Memasak Lemang merupakan tradisi turun temurun yang usianya sudah ratusan tahun dan umumnya dari generasi ke generasi saling mengajarkan bagaimana memasak Lemang yang lezat dan enak. Ketika akhir bulan puasa Ramadhan terlihat masyarakat banyak mencari dan membuat buluh Lemang serta mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat dan memasak Lemang. Mulai dari bahan-bahan membuat Lemang sampai kepada bahan bakar membakar Lemang seperti ranting-ranting kayu atau sabut dan tempurung kelapa.
Tradisi turun temurun memasak Lemang ketika Hari Raya Idul Fitri ini tetap lestari meskipun secara umum perlahan-lahan terus mengalami penurunan dari segi kwantitas atau jumlah, seperti di daerah perkotaan sudah tidak memasak Lemang lagi karena kurang memungkinkan sebab lahan untuk memasak Lemang sudah tidak ada lagi.
Biasanya masyarakat yang bermukim di daerah perkotaan di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan menompang untuk memasak Lemang kepada saudara-saudaranya yang masih tinggal di daerah pedesaan yang memiliki lahan untuk membakar Lemang. Hal ini satu tanda hasrat atau keinginan untuk memasak Lemang atau membakar Lemang masih sangat besar.
Keinginan atau hasrat yang besar ini disebabkan panganan Lemang pada Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar panganan akan tetapi ada nilai-nilai luhur yang mengakar dan turun temurun dalam kearifan lokal masyarakat Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan khususnya dan umumnya masyarakat Indonesia. Tradisi budaya kearifan lokal ini harus tetap bertahan dari gempuran panganan modren karena panganan Lemang merupakan panganan khas yang memiliki nilai-nilai tanda kasih sayang dan silaturrahim. Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan bathin.
***
Penulis adalah Pemimpin Redaksi EGINDO.com