Madinah Kota Nabi; Jabal Uhud, Monumen Batu Merah Dirindukan Surga, di Dunia Berlinang Air Mata


Para pengunjung, peziarah hanya bisa melihat makam para syuhada Perang Uhud dari balik pagar kawat setinggi 1,75 meter. (Foto: Fadmin Malau)
Para pengunjung, peziarah hanya bisa melihat makam para syuhada Perang Uhud dari balik pagar kawat setinggi 1,75 meter. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

Madinah Kota Nabi, Gunung Uhud atau Jabal Uhud. Posisi gunung Uhud kini berada di pinggir jalan raya Madinah menuju Mekah atau sebaliknya. Hadirnya jalan raya yang luas dan mulus itu menjadikan Jabal Uhud pemandangan yang menarik bagi setiap pengunjung atau jamaah yang akan memasuki kota Madinah atau bagi yang dari Madinah menuju Mekah.

Posisi Jabal Uhud sekira enam hingga hingga tujuh kilometer dari Masjid Nabawi yang mana Jabal Uhud merupakan gunung batu hitam yang diselimuti oleh tanah kering dengan ketinggian sekitar 1.050 meter.

Kemudian pada sekitar Gunung Uhud ada sebuah bukit yang disebut sebagai Bukit Panah atau Bukit Pemanah. Lalu pada lokasi lahan dari Bukit Pemanah itu ada pekuburan atau makam yang berukuran 50 kali 50 meter dimana pada makam itu adalah makam para syuhada Perang Uhud.

Bagi para pengunjung, peziarah hanya bisa melihat makam dari balik pagar kawat setinggi 1,75 meter. Namanya makam akan tetapi tidak ada batu nisan atau tumpukan batu pada lahan pemakaman itu, komplek makam hanya berupa hamparan tanah. Lalu tidak jauh jauh dari lokasi makam ada sebuah masjid dan banyak pedagang berjualan di sekitar lokasi Gunung Uhud yakni souvenir seperti tasbeh, pakaian, kurma, pernak-pernik perhiasan wanita.

Jabal Uhud merupakan gunung batu hitam yang diselimuti oleh tanah kering dengan ketinggian sekitar 1.050 meter. (Foto: Fadmin Malau)

Memang Jabal Uhud menjadi tempat berziarah bagi kaum muslimin dan jamaah haji dan jemaah umrah. Boleh jadi begitu karena Jabal Uhud satu tempat bersejarah dalam Islam. Pasalnya di kaki Jabal Uhud itu pernah terjadi peperangan antara umat Islam dengan kaum kafir Quraisy, sehingga perang tersebut dinamakan Perang Uhud.

Ya, Perang Uhud terjadi setelah usai perang Badar dimana pada perang Badar, kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan telak dan kekalahan itu membuat para pemimpin Quraisy untuk melakukan serangan balas kepada kaum Muslimin.

Adapun panglima perang kaum Quraisy pada perang Uhud adalah Abu Sofyan yang mengomandoi lebih 3000 prajurit dan 700 diantaranya dilengkapi dengan baju besi. Pasukan membawa 3000 ekor unta dan 200 ekor kuda.

Sementara itu Rasulullah Muhammad SAW bersama pasukannya berjumlah 1000 orang, juga bergerak ke Gunung Uhud. Kemudian 300 pasukan dalam perjalanan, berbalik arah membelot yang dipimpin Abdullah bin Ubay dan pasukan Rasulullah Muhammad SAW tinggal 700 orang serta Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan 50 orang pemanah unggul dibawah pimpinan Abdullah bin Zubair untuk menempati posisi di puncak bukit.

Kini jika kita atau Anda melihat Jabal Uhud hanyalah gugusan bukit batu berona kemerahan yang membentang sepanjang tujuh kilometer di utara Madinah. Gersang dan bisu. Namun, bagi sejarah Islam, bukit itu adalah saksi bisu dari pertempuran paling emosional dan penuh drama pada pertengahan Syawal tahun 3 Hijriah atau pada bulan Maret 625 Masehi.

Uhud bukan sekadar latar tempat akan tetapi adalah panggung tempat iman, kesetiaan, ketamakan, dan pengorbanan diuji dalam satu waktu.

Perang Uhud, strategi jenius di kaki bukit. Ketika matahari baru saja naik sekira 700 pasukan muslim berhadapan dengan 3.000 tentara musyrik Quraisy yang datang membawa dendam membara dari Makkah.

Makam berukuran 50 kali 50 meter dimana dimakamkan para syuhada Perang Uhud termasuk paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur. (Foto: Fadmin Malau)

Jumlah yang begitu banyak, tidak seimbang, menghadapi jumlah yang timpang, Rasulullah Muhammad SAW menerapkan taktik militer yang sangat jenius. Nabi Muhammad SAW menempatkan 50 pemanah terbaik di Jabal Rumat, sebuah bukit kecil di kaki Jabal Uhud. Posisi para pemanah itu sangat strategis untuk melindungi punggung pasukan muslim dari sergapan kavaleri musuh.

Ketika sebelum perang dimulai, sebuah instruksi tegas ditekankan oleh Rasulullah Muhammad SAW: “Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jaga punggung kami. Jangan pernah tinggalkan posisimu, baik kita menang atau kalah!”

Kala itu detik-detik kemenangan bagi kaum muslimin mulai terlihat. Strategi yang dilakukan terbukti ampuh. Anak-anak panah yang melesat dari Jabal Rumat berhasil memporak-porandakan formasi Quraisy. Pasukan musuh kocar-kacir, mundur teratur dan meninggalkan berton-ton harta rampasan perang (ghanimah) di medan laga.

Apa yang terjadi? Ketika melihat kilauan harta yang berserakan, ketika itulah petaka justru datang, dimulai dari atas bukit. Apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dilupakan dan tidak dipatuhi, dilaksanakan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan: “Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jaga punggung kami. Jangan pernah tinggalkan posisimu, baik kita menang atau kalah!”

Nabi Muhammad SAW mengatakan: “Jangan pernah tinggalkan posisimu, baik kita menang atau kalah!”

Perintah itu tidak diindahkan ketika melihat kilauan harta yang berserakan. Sebanyak 40 pemanah di atas Jabal Rumat terlena. Mereka mengira perang telah usai. Mengabaikan teriakan sang komandan, Abdullah bin Jubair, mereka berbondong-bondong turun bukit demi mengejar dunia, mengejar kilauan harta yang berserakan.

Celah kosong itu terbaca oleh mata elang Khalid bin Walid, panglima berkuda Quraisy yang kala itu belum memeluk Islam. Dengan cepat, Khalid memutar pasukannya, merebut puncak Jabal Rumat, dan menghujani pasukan Muslim yang sedang lengah dari arah belakang. Situasi berbalik 180 derajat dalam sekejap. Kemenangan yang sudah di depan mata berganti menjadi badai kepanikan.

Akhirnya banjir air mata dan gugurnya sang Singa Allah. Lembah Uhud seketika berubah menjadi saksi kepedihan. Pasukan muslim terdesak hebat dan bahkan, Rasulullah Muhammad SAW terluka parah, gigi geraham Nabi Muhammad SAW patah, wajah beliau terluka oleh pecahan baju besi dan darah suci mengalir membasahi tanah Uhud.

Hari itu, 70 sahabat terbaik gugur sebagai syuhada. Diantara tubuh-tubuh yang terbaring, ada satu sosok yang membuat dada Rasulullah Muhammad SAW sesak oleh duka yang mendalam yakni paman Nabi Muhammad SAW tercinta, Hamzah bin Abdul Muthalib, sang Asadullah atau Singa Allah gugur secara tragis setelah dadanya ditombak oleh Wahsyi dan jasadnya dirusak oleh Hindun binti Utbah.

Hamzah bin Abdul Muthalib dimakamkan di tempat beliau gugur yakni tepat dipelukan kaki Jabal Uhud. Bukit Surga yang saling mencintai dengan Nabi Muhammad SAW meskipun Uhud mencatat kekalahan militer yang menyakitkan bagi kaum Muslimin, tempat itu tidak pernah dibenci.

Sekitar Jabal Uhud ada terdapat Jabal Rumat sebuah bukit tempat pasukan Nabi Muhammad SAW memanah. (Foto: Fadmin Malau)

Jabal Uhud menjadi simbol, Rasulullah Muhammad SAW justru mengikat bukit batu itu dengan benang cinta yang abadi. Kemuliaan Jabal Uhud bahkan melintasi batas dunia. Keindahannya tidak hanya berhenti di tanah Madinah, karena Jabal Uhud diyakini sebagai salah satu bukit yang kelak akan dipindahkan dan berada di surga.

Umat Islam memandang bukit itu dengan penuh takzim berkat sabda Rasulullah SAW: “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” (Hadist Riwayat  Bukhari & Muslim)

Kini Jabal Uhud bukan sekadar monumen geologis. Bagi setiap peziarah, bagi para jemaah haji, jemaah umrah yang berdiri di kaki Jabal Uhud hari ini, angin yang berembus diantara celah batu seolah membisikkan pesan abadi: Bahwa kepatuhan mutlak pada kebenaran adalah kunci keselamatan, dan kemilau duniawi sering kali menjadi jebakan yang menghancurkan.

Pelajaran yang sangat berharga dari Perang Uhud bahwa kekalahan sebagian pasukan dalam Perang Uhud karena melihat harta yang berkilauan dan ketika kaum muslimin lalai dan ketidaktaatan terhadap perintah Nabi Muhammad SAW dalam berperang sehingga kekalahan diperoleh. Bila ingin menang, selamat dunia dan akhirat maka laksanakan dengan baik semua perintah Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.@

***

Bersambung Jum’at pekan depan; Madinah Kota Nabi……

Scroll to Top