Catatan: Fadmin Malau
MADINAH kota nabi. Semburat sinar matahari bersinar terang, naik sepenggalahan hampir di atas kepala. Sinar matahari itu menyentuh menara-menara megah Masjid Quba. Angin siang itu berhembus sejuk dengan aroma tanah gurun, padang pasir dan kepungan suhu gurun khas Jazirah Arab.
Pemandangan pada sekitar Masjid Quba terlihat asri meskipun berada di gurun. Penyebabnya adanya teknologi yang membuat tanah gurun itu menjadi lembab. Masjid Quba yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW itu menyajikan pemandangan kontras.
Ada ribuan batang pohon kurma berdiri kokoh menjulang ke langit tidak jauh dari Masjid Quba, begitu juga hadir taman pohon kurma di depan Masjid Quba dengan hamparan rumput hijau yang kontras dengan kondisi gurun yang harusnya gersang. Namun, taman tanaman pohon Kurma itu hidup subur karena dirawat secara tehnologi pertanian modern.
Sangat berbeda dengan tanaman yang ada di taman di Indonesia, tumbuh dengan perjuangan sendiri tanpa ada perawatan sentuhan teknologi. Bila musim kemarau tiba maka tanaman kekurangan air dan rumput pun mongering, kering kerontang mengharapkan hujan turun dari langit membahasi bumi.

Beruntung pohon kurma raksasa hijau dan rimbun seolah menolak tunduk pada gersangnya gurun dan panasnya cuaca. Hal itu karena di halaman dan kawasan sekitar Masjid Quba di Madinah menggunakan sistem irigasi otomatis (smart automated irrigation) seperti sistem tetes (drip irrigation) dan penyiraman bubbler (bubbler irrigation) untuk merawat pohon-pohon kurma secara efisien.
Pengamatan penulis digunakan teknologi dan sistem Penyiraman Irigasi Tetes (Drip Irrigation) dimana mengalirkan air secara perlahan dan langsung ke zona akar pohon kurma untuk mengurangi penguapan akibat suhu panas Kota Madinah.
Kemudian juga menggunakan Sistem Bubbler (Mikro-irigasi) dimana menyalurkan air dalam bentuk aliran atau gelembung air yang terkontrol di pangkal pohon kurma yang ada di halaman/lanskap masjid Quba. Selanjutnya membuat pengaturan Jadwal Otomatis dimana pengoperasian pengairan diatur menggunakan pengatur waktu digital untuk mencegah pemborosan air serta menjaga kelembapan tanah secara stabil.
Subhanallah. Bagi para jemaah yang berkunjung ke Masjid Quba, pemandangan hijau yang langsung menyambut di area depan masjid selalu berhasil mencuri perhatian. Masjid Quba memiliki lanskap alami yang dikelilingi oleh rimbunnya pohon kurma.
Suasana asri itu membuat kawasan Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW itu terasa sejuk dan meneduhkan, bahkan pada tengah teriknya cuaca kota Madinah. Kemudian tepat di depan dan sisi timur Masjid Quba sekira 100 meter dari masjid ada pintu gerbang masuk ke kawasan perkebunan kurma yang legendaris yakni kebun kurma Abdurrahman bin Auf dan kebun kurma Bustan Al-Mustadhal yang merupakan perkebunan bernilai sejarah sebab sudah ada sejak zaman kenabian.

Dipastikan kala itu, 1448 tahun yang lalu tentunya para sahabat menyiram tanaman Pohon Kurma dengan menggunakan timba kayu dari sumur-sumur bersejarah seperti sumur peninggalan sahabat Abdurrahman bin Auf atau Salman Al-Farsi. Namun, kini sudah berubah, telah bermetamorfosis. Sistem irigasi tetas (drip irrigation) modern telah menjadi urat nadi baru perkebunan kurma. Air dialirkan secara otomatis langsung ke pusat akar tanpa membuang satu tetes pun sia-sia ke udara gurun yang kering. Komputerisasi pengairan mengontrol volume air berdasarkan kelembapan tanah, memastikan pohon-pohon yang memproduksi ratusan kuintal kurma terbaik tetap terhidrasi dengan efisiensi maksimal.
Kawasan Masjid Quba kini sedang bersolek dalam proyek penataan besar-besaran. Lapangan-lapangan yang dulunya gersang kini dilengkapi deretan payung cantik, taman-taman baru, dan ruang terbuka hijau. Kini wajah baru Masjid Quba yang megah memikat mata ribuan jemaah yang sholat di Masjid Quba.
Andai hari ini kita atau Anda berkunjung ke Masjid Quba akan disuguhi wajah baru Masjid Quba yang megah, sejuk dan ramah bagi umat Islam yang datang. Ternyata Masjid Quba masuk sebagai dari target Saudi Vision 2030, dimana kawasan masjid terus bersolek lewat mega proyek berskala besar.
Faktanya, kini saja pelataran luar masjid tidak lagi gersang karena berkat hadirnya lebih dari 150 payung raksasa baru yang otomatis terbuka untuk menghalau terik matahari gurun. Udara di sekitar pelataran juga terasa sejuk berkat instalasi kipas angin dengan teknologi mist (semburan air halus).
Sementara itu pada bagian dalam, jemaah dimanjakan dengan amparan karpet baru berdesain eksklusif yang terinspirasi langsung oleh identitas visual dan estetika historis Masjid Quba. Ditambah lagi dengan modernisasi sistem pendingin udara masif dan pembenahan area shalat baru seluas 2.500 meter persegi, maka beribadah di Masjid Quba terasa sangat khusyuk dan nyaman.
Kini, Masjid Quba yang menyimpan pahala setara ibadah umrah bagi siapa saja yang bersuci dan salat di dalamnya sedang mengalami transformasi terbesar sepanjang sejarahnya. Lewat payung mega-proyek Saudi Vision 2030, Masjid Quba tidak lagi sekadar menjadi saksi bisu masa lalu Islam, melainkan mercusuar masa depan pelayanan jemaah global.
Jika kita atau Anda berkunjung ke Madinah saat ini, suasana sibuk yang teratur langsung menyergap di sekitar lingkar luar luar Masjid Quba. Sebagaimana dilaporkan bahwa dibawah instruksi Putra Mahkota Mohammed bin Salman melalui Proyek Raja Salman untuk perluasan Masjid Quba, cetak biru ambisius sedang dikebut.
Hebatnya, Kerajaan Arab Saudi tidak main-main dimana luas area yang semula hanya berkisar belasan ribu meter persegi, kini dilebarkan hingga 10 kali lipat menjadi 50.000 meter persegi. Bagi jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia, perluasan itu menjadi jawaban atas kerinduan. Jika dulu jemaah harus berdesakan di ruang salat yang hanya menampung 20.000 orang, proyek masa depan didesain mantap untuk mengakomodasi hingga 66.000 jemaah sekaligus.
Berdasarkan data operasional, perbaikan fasilitas di kawasan Masjid Quba berjalan sangat progresif. Kenyamanan fisik para peziarah diutamakan demi menghadirkan kekhusyukan spiritual yang maksimal. Untuk mengatasi cuaca ekstrem gurun, sistem pendingin udara masif berkapasitas lebih dari 160 ton dipasang. Area pelataran luar kini diteduhi oleh lebih dari 150 kanopi modern.
Area parkir luas Masjid Quba telah berubah menjadi samudra bus antarkota berukuran raksasa. Ratusan armada bus pariwisata yang membawa ribuan jemaah umrah dari berbagai penjuru dunia berderet rapi, menciptakan pemandangan masif yang mencerminkan denyut spiritual tiada henti di Tanah Suci. Dari pintu-pintu bus yang terbuka, mengalir gelombang manusia bergegas mengejar keutamaan luar biasa yang dijanjikan Rasulullah Muhammad SAW yakni barang siapa yang bersuci dari tempat tinggalnya kemudian melaksanakan salat dua rakaat di Masjid Quba, maka baginya pahala yang setara dengan satu kali ibadah umrah.

Kini ratusan bus terus datang dan pergi membawa rombongan city tour, aman dan nyaman area parkir bus, tidak memakan waktu lama untuk mendapatkan lokasi parkir. Sangat berbada dengan lokasi daerah tujuan wisata di Indonesia yang terus bermasalah dengan area parkir kendaraan.
Meskipun tidak bermasalah dengan area parkir akan tetapi kini juga terus dikembangkan dibawah program modernisasi Saudi Visi 2030 yang mana tetap mampu menampung arus kendaraan dengan teratur. Dalam program modernisasi Saudi Visi 2030 akan membuat transformasi infrastruktur terintegrasi langsung dengan jantung Kota Madinah. Sebuah jalur pedestrian teduh (walking trail) sepanjang 3 kilometer membentang indah, menghubungkan Masjid Nabawi langsung menuju Masjid Quba.
Untuk itu telah uji coba teknologi mutakhir seperti bus pintar tanpa sopir (autonomous bus) berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai menghiasi koridor transportasi kawasan itu yang memanjakan mobilitas jemaah lansia dan disabilitas. Arab Saudi memiliki ambisi menyambut dunia. Semua kemegahan dan kenyamanan itu bermuara pada satu target ambisius dalam platform Saudi Vision 2030 mempersiapkan Madinah dan Makkah untuk menyambut 30 juta jemaah umrah per tahun. Subhanallah.@
***
Bersambung Jum’at mendatang; Madinah Kota Nabi…