Jakarta|EGINDO.co Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia mengalami lonjakan signifikan sebesar 19,84% sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026. Total impor tercatat menembus angka US$186,39 miliar, meningkat tajam dibandingkan US$155,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan ini disumbang oleh sektor migas maupun nonmigas. Impor migas mencatatkan lonjakan tertinggi hingga 39,03% dari US$21,08 miliar menjadi US$29,30 miliar. Sementara itu, impor nonmigas tumbuh 16,83%, naik dari US$134,46 miliar menjadi US$157,09 miliar.
-
Bahan Baku dan Penolong: Menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$133,38 miliar (naik 20,67%) dan memberikan andil 14,69% terhadap total kenaikan impor.
-
Barang Modal: Tumbuh sebesar 18,82%, dari US$30,92 miliar menjadi US$36,75 miliar.
-
Barang Konsumsi: Mengalami peningkatan 15,48%, naik dari US$14,09 miliar menjadi US$16,27 miliar.
Cina Tetap Jadi Mitra Utama Sumber Impor
Ditinjau berdasarkan kawasan dan negara asal, Cina masih mendominasi sebagai pemasok terbesar impor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$66,64 miliar, naik dari US$54,67 miliar pada tahun lalu.
Peningkatan pasokan juga dicatat oleh beberapa kawasan lain:
-
ASEAN: Naik dari US$21,36 miliar menjadi US$22,91 miliar.
-
Uni Eropa: Naik dari US$7,69 miliar menjadi US$9,98 miliar.
-
Australia: Meningkat dari US$5,54 miliar menjadi US$7,31 miliar.
Di sisi lain, Jepang menjadi satu-satunya negara dalam catatan utama yang mengalami penurunan nilai impor nonmigas, yakni dari US$9,91 miliar turun menjadi US$8,88 miliar. Adapun kelompok negara lainnya menyumbangkan total impor sebesar US$41,37 miliar pada periode ini. (Sn)