Lonjakan Harga Global, Pemerintah Tahan Penutupan Pabrik Pupuk Tua

file_00000000dcdc71fa9d11c91c58f29309

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah memutuskan menunda rencana penghentian operasional pabrik pupuk berusia tua di tengah meningkatnya harga dan permintaan global. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas terganggunya rantai pasok internasional, termasuk potensi disrupsi di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi pupuk dunia.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menjelaskan, kondisi pasar global saat ini membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas ekspor urea. Dengan dukungan pasokan gas alam domestik yang relatif aman, Indonesia dinilai memiliki keunggulan dibanding sejumlah negara lain yang terdampak krisis energi dan logistik.

Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya pemerintah telah merancang langkah bertahap untuk meremajakan fasilitas produksi, termasuk menghentikan operasional pabrik lama. Namun, situasi global yang berubah cepat membuat strategi tersebut disesuaikan.

“Awalnya pabrik-pabrik tua ini akan diremajakan secara bertahap dan kemudian dihentikan operasinya,” ujar Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Dalam kondisi saat ini, pemerintah memilih mengoptimalkan seluruh kapasitas produksi, termasuk fasilitas lama, guna menangkap momentum kenaikan harga pupuk internasional. Berdasarkan data yang dirangkum dari Trading Economics, harga urea global mengalami lonjakan signifikan secara tahunan, mencerminkan tingginya permintaan di pasar internasional.

Indonesia sendiri diproyeksikan memiliki surplus urea sekitar 1,5 juta ton pada 2026. Surplus ini akan diarahkan untuk ekspor setelah kebutuhan domestik, khususnya bagi petani, terpenuhi sepenuhnya.

Di sisi lain, pemerintah memastikan program revitalisasi industri pupuk tetap berjalan. Holding BUMN pupuk, PT Pupuk Indonesia (Persero), tengah menyiapkan sejumlah proyek modernisasi yang ditargetkan rampung sebelum 2029. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi, menekan biaya produksi, serta memperkuat daya saing industri pupuk nasional.

Sejumlah analis menilai kebijakan mempertahankan operasional pabrik tua merupakan langkah pragmatis dalam jangka pendek untuk merespons lonjakan harga global. Namun, mereka mengingatkan bahwa agenda modernisasi tetap krusial agar industri pupuk Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan jangka panjang, terutama dari negara produsen besar lainnya.

Dengan kombinasi optimalisasi produksi dan percepatan revitalisasi, Indonesia diharapkan mampu menjaga ketahanan pupuk domestik sekaligus memanfaatkan peluang ekspor di tengah dinamika pasar global. (Sn)

Scroll to Top