Jakarta|EGINDO.co Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bergerak naik drastis hingga menyentuh level tertinggi sejak akhir 2024. Perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives mencatat harga CPO berjangka sempat melambung ke 4.977 ringgit per ton pada Kamis (20/8/2026), sebelum bertahan kuat di kisaran 4.947 ringgit per ton pada Senin (24/8/2026).
Reli kenaikan harga ini dipicu oleh double blow: lonjakan permintaan domestik Indonesia untuk energi bersih serta ancaman kekeringan yang membayangi sisi produksi.
Faktor Utama Pendorong Harga CPO
dynamic pasar saat ini didorong oleh beberapa kombinasi fundamental:
-
Mandat Biodiesel B50 Indonesia: Pelaksanaan program B50 yang dimulai pada Juli 2026 menyedot porsi CPO nasional dalam jumlah besar untuk kebutuhan biofuel domestik. Dampaknya, alokasi CPO yang tersedia untuk pasar ekspor global menjadi kian terbatas.
-
Risiko Cuaca El Niño: Fenomena El Niño memicu kekeringan di sentra perkebunan utama Indonesia dan Malaysia. Pembentukan bunga dan buah sawit terganggu, yang berpotensi menekan total volume panen.
-
Prospek Stok Global Mengetat: Departemen Pertanian AS (USDA) memproyeksikan stok minyak sawit dunia musim 2026/2027 akan merosot ke level terendah dalam sembilan tahun terakhir.
-
Gangguan Pasokan Minyak Nabati Lain: Ketegangan di kawasan Laut Hitam memperlambat ekspor minyak bunga matahari dari Rusia dan Ukraina. Pembeli global pun mengalihkan permintaan ke minyak sawit, di tengah kenaikan harga komoditas pangan lain seperti jagung dan gula.
Dampak pada Petani dan Prospek Produksi 2027
Meski penguatan harga CPO berpotensi menaikkan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat perkebunan, para petani belum tentu bisa menikmati keuntungan optimal.
“Kenaikan harga CPO pada dasarnya merupakan kabar baik bagi petani… Namun, petani juga menyadari bahwa El Niño dapat menurunkan produksi. Jadi, kenaikan harga belum tentu sepenuhnya memberikan keuntungan jika volume panen ikut berkurang,” ujar Kepala Sekretariat Fortasbi, Rukaiyah Rafik.
Dampak cuaca terhadap tanaman sawit juga memiliki jeda waktu (lag effect). Ketua Umum POPSI, Mansuetus Darto, menambahkan bahwa perlambatan produksi sudah mulai dirasakan saat ini, namun penurunan hasil panen yang signifikan diprediksi baru akan terlihat jelas pada 2027.
Tantangan Reli Harga ke Depan
Secara teknikal, penembusan level 4.977 ringgit menjadi sinyal kuat pergerakan breakout. Namun, potensi penguatan harga CPO tetap dibayangi sejumlah penahan:
-
Penguatan Mata Uang Ringgit: Ringgit yang menguat membuat CPO Malaysia lebih mahal bagi pembeli pemegang mata uang asing.
-
Persaingan Minyak Kedelai: Pergerakan harga minyak kedelai sebagai substitusi utama dapat membatasi ruang kenaikan jika harganya jauh lebih kompetitif. (Sn)