Lalu Lalang Jet Pribadi, Kontradiksi Energi Hijau KTT G20

ilustrasi-pesawat-jet

Jakarta|EGINDO.co  -Belasan pesawat jet pribadi tercatat lalu lalang dan mendarat di Pulau Bali, mendekati pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 Bali. Pada saat yang sama, penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil justru dibatasi di sekitaran venue G20, demi unjuk komitmen pada energi hijau.

Palang pembatas jalan sudah tampak di sejumlah gerbang masuk menuju area pelaksanaan pertemuan-pertemuan G20 di Nusa Dua, Bali.

Sebagian jalan memang ditutup aksesnya, tetapi terdapat jalan yang hanya dapat dilalui secara terbatas. Hari ini, hanya kendaraan dengan tanda stiker resmi G20 dan kendaraan listrik yang bisa memasuki area venue G20.

Kabarnya, mulai Senin (14/11/2022) hanya kendaraan listrik yang dapat beredar di sekitaran venue dan orang-orang harus menggunakan transportasi umum berbasis listrik untuk bermobilitas di sana.

Baca Juga :  Mahasiswa Asal Medan Ubah Limbah Medis Jadi Bed Rumah Sakit

Penggunaan kendaraan listrik saat G20 itu menjadi ajang unjuk diri Indonesia soal komitmennya dalam hal transisi menuju energi hijau. Tak tanggung-tanggung, Indonesia menyediakan 1.442 kendaraan listrik untuk pelaksanaan G20, terdiri dari 962 mobil listrik, 454 motor listrik, dan 26 bus listrik.

Peneliti Trend Asia Zakki Amali memperoleh temuan menarik. Pada saat aksi unjuk energi hijau berlangsung besar-besaran di darat, justru kondisi yang cukup kontradiktif terjadi di udara. Zakki menemukan bahwa lalu lintas jet pribadi (private jet) meningkat pesat menjelang pelaksanaan KTT G20. Dia mencatat bahwa dalam kurun 9—12 November 2022 setidaknya sudah terdapat 21 jet pribadi yang mendarat di Denpasar, Bali.

Data lalu lintas pesawat bersifat terbuka dan dapat diakses oleh publik. Zakki mengumpulkan data penerbangan itu dan mendapati bahwa terdapat jet dan helikopter pribadi yang hilir mudik di Bali, kebanyakan berangkat dari landasan udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Baca Juga :  Kolaborasi Internasional Yang Kuat Di Tengah Krisis Iklim

Data pesawat atau jet pribadi yang berada dan melintas di Bali jelang KTT G20:

1.7TUN

2.PKVPJ (private helicopter)

3.GLEX

4.N969FA

5.PKYGK

6.T7ARN

7.N240K

8.B8255

9.LJ45

10.B65S

11.PKWMW (private helicopter)

12.CL60

13.VJT895

14.GLF5

15.T7MPI

16.E35L

17.B8160

18.N152QS

19.N566NS

20.VPCDZ

21.PKTWY

*Tail number dari jet privat nomor 3, 14, dan 16 tidak terlihat

Energi Hijau

Zakki menyayangkan penggunaan jet pribadi oleh orang-orang kelas atas tersebut, apalagi menjelang KTT G20 yang menjadi ajang unjuk energi hijau. Menurutnya, hal tersebut tidak mencerminkan usaha untuk menekan emisi karbon dan menangani krisis iklim.

“Emisi jet pribadi lebih banyak lima hingga 14 kali dibandingkan pesawat komersial. Kontradiksi juga dengan komitmen untuk transisi energi, seharusnya [mereka] pakai pesawat komersial,” ujar Zakki kepada Bisnis, Sabtu (12/11/2022).

Baca Juga :  Telekom Malaysia Akan Melakukan Uji Coba 5G

Dia pun sebenarnya mempertanyakan ‘kemurnian’ upaya transisi energi dari penggunaan kendaraan listrik. Pasalnya, jika energi itu masih berasal dari pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara maka sebenarnya masih terdapat emisi karbon yang cukup besar.

“Pakai mobil listrik juga patut dipertanyakan sumber listriknya, jangan-jangan dari pembangkit listrik batu bara,” kata Zakki.

Tidak salah jika terdapat upaya transisi energi hijau di KTT G20. Namun, langkah itu jangan sampai terhenti ketika rangkaian acara G20 usai, sehingga hanya jadi ajang unjuk diri semata, bukan aksi transisi yang nyata.

Sumber: Bisnis.com/Sn

 

 

Bagikan :