“Laba Pindar Tembus Rp1,15 Triliun, Kredit Bermasalah Masih Membayangi”

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Industri pinjaman daring (pindar) atau fintech lending Indonesia kembali menunjukkan kinerja finansial yang solid pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis pada Rabu (2/9/2026), industri ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,15 triliun pada semester I/2026, melonjak 10,41% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Kendati mencatatkan pertumbuhan laba yang positif, industri masih dihadapkan pada tantangan rasio pembiayaan bermasalah atau TWP90 yang saat ini berada di level 4,26% hingga 4,42%. Kondisi ini mendorong regulator dan asosiasi untuk meminta para penyelenggara pindar mengalihkan fokus dari sekadar mengejar volume pinjaman ke pertumbuhan pembiayaan yang lebih berkualitas.

Dorongan Teknologi AI dan Mitigasi Risiko OJK

Dalam lembar jawaban RDK OJK periode Juli 2026 yang dikutip pada Rabu (2/9/2026), Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, menjelaskan bahwa tingginya volume penyaluran pembiayaan menjadi penopang utama pertumbuhan laba di tengah tekanan tingkat TWP90. OJK pun optimistis peluang industri untuk melampaui capaian laba tahun 2025 masih terbuka lebar.

Untuk mempertahankan momentum positif ini, OJK mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam operasional bisnis pindar. AI dinilai efektif dalam meningkatkan kualitas credit scoring, deteksi kecurangan (fraud detection), serta pemantauan portofolio.

“Pemanfaatan teknologi, termasuk AI, disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing Penyelenggara Pindar dengan tetap memperhatikan tata kelola dan manajemen risiko,” ujar Agusman.

Optimisme AFPI dan Tuntutan Pertumbuhan Berkualitas

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) turut optimistis terhadap prospek profitabilitas pada semester II/2026. Dalam keterangannya kepada media pada Rabu (2/9/2026), Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, mengungkapkan optimisme ini didasari oleh tingginya kebutuhan pembiayaan masyarakat, di mana outstanding pembiayaan industri telah mencapai Rp105,14 triliun (tumbuh 25,88% YoY) per Juni 2026.

Namun, Entjik mengingatkan adanya tantangan ekonomi makro yang dapat memengaruhi kemampuan membayar (repayment capacity) masyarakat.

  • Imbauan AFPI: Pindar diminta tidak hanya fokus pada volume penyaluran, melainkan memperketat seleksi kredit, menerapkan prinsip kehati-hatian, serta memperkuat edukasi literasi keuangan bagi pengguna.

Memasuki ‘Fase Seleksi’ dan Orientasi Responsible Lending

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, berpendapat bahwa pertumbuhan industri pada semester II/2026 kemungkinan akan bergerak lebih moderat dan memasuki “fase seleksi”. Hanya penyelenggara dengan manajemen risiko dan model bisnis yang sehat yang mampu bertahan.

Beberapa poin krusial yang ditegaskan Heru meliputi:

  1. Penerapan Responsible Lending: Penyesuaian tenor dan cicilan harus selaras dengan kemampuan bayar konsumen. Jangan sampai kenaikan laba didorong oleh utang konsumtif jangka pendek yang memberatkan masyarakat.

  2. Prioritas Kualitas Kredit: Dengan TWP90 di level ~4%, efisiensi operasional, pengendalian biaya pendanaan, dan pemeliharaan kualitas pembiayaan harus menjadi prioritas utama setara dengan target laba.

  3. Peran Perlindungan Konsumen: OJK diharapkan memastikan bahwa mengejar laba tidak menjadi insentif bagi industri untuk bertindak agresif tanpa memperhitung risiko gagal bayar.

Komitmen ini turut didukung oleh pelaku industri. Pada Selasa (1/9/2026), Direktur Utama PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU), Tony Jackson, menegaskan bahwa fokus utama perusahaan tahun ini adalah pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan melalui pengoptimalan credit scoring, efisiensi operasional, serta peningkatan layanan bagi peminjam berulang (repeat borrowers).

Ringkasan Indikator Keuangan Pindar (Semester I/2026)

Indikator Keuangan Capaian Semester I/2026 Pertumbuhan (YoY) Tanggal / Periode Data
Laba Bersih Industri Rp1,15 Triliun +10,41% Semester I/2026 (Juni 2026)
Outstanding Pembiayaan (OJK) Rp103,73 Triliun +25,60% Semester I/2026 (Juni 2026)
Outstanding Pembiayaan (AFPI) Rp105,14 Triliun +25,88% Per Juni 2026
Tingkat Wanprestasi (TWP90) 4,26% – 4,42% Perlu Pengawasan Per Juni 2026
Scroll to Top