Kunci Petani Sawit Swadaya Tembus Pasar Global, Harus Ada Sertifikasi RSPO

Kelapa sawit bahan baku untuk CPO
Tanda Buah Segar (TBS) Kelapa sawit di kebun petani. (Foto: Fadmin Malau)

Jakarta | EGINDO.com – Kunci petani sawit swadaya menembus pasar global, harus ada sertifikasi RSPO. Sertifikasi keberlanjutan semakin menjadi syarat penting bagi petani sawit swadaya untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing di tengah tuntutan global terhadap ketertelusuran dan praktik usaha berkelanjutan.

Hal itu dikatakan Head of Smallholder Global RSPO, Guntur Cahyo Prabowo, bahwa sertifikasi bukan sekadar pemenuhan dokumen atau proses audit, melainkan upaya membangun kelembagaan petani yang kuat agar mampu memenuhi standar keberlanjutan secara konsisten. Sertifikasi membutuhkan organisasi yang mampu memastikan kepatuhan terhadap standar.

Guntur mengatakan itu dalam Media Brunch RSPO, pada Jumat (12/6/2026) lalu dan menurutnya mayoritas dari sekitar 2,6 juta petani sawit di Indonesia masih beroperasi secara mandiri sehingga akses terhadap sertifikasi, pembiayaan, dan pasar masih terbatas. Karena itu, penguatan kelompok tani dan koperasi menjadi penting untuk meningkatkan posisi tawar petani sekaligus memperpendek rantai pasok.

Urgensi sertifikasi juga meningkat seiring ketatnya regulasi internasional, terutama di Eropa, yang menuntut sistem ketertelusuran untuk memastikan produk sawit berasal dari sumber yang legal dan dikelola secara bertanggung jawab. Pasar ingin memastikan buah sawit berasal dari petani siapa dan dari lokasi mana.

Untuk mendukung petani swadaya katanya, RSPO menjalankan berbagai program pendampingan bersama pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Sejak 2013, RSPO telah menyalurkan dana dukungan global sebesar US$ 5,5 juta, termasuk US$ 1,94 juta untuk Indonesia.

Sepanjang 2018–2026, sekitar 89.650 hektare kebun sawit telah tersertifikasi dengan melibatkan 41.134 petani swadaya. Selain itu, insentif sekitar Rp416 miliar telah disalurkan kepada kelompok petani dan yang terpenting adalah dampak jangka panjang terhadap peningkatan kesejahteraan petani.@

Bs/timEGINDO.com

Scroll to Top