Palembang|EGINDO.co Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatra Selatan, kembali memburuk pada Selasa (20/10/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 melonjak hingga 486 mikrogram per meter kubik (µg/m³) di kawasan Talang Betutu, sementara kabut asap menyelimuti sejumlah titik kota.
Berdasarkan pemantauan situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di kawasan Musi 2 tercatat 350,1 µg/m³. Sementara itu, angka di Talang Betutu mencapai 486 µg/m³.
Data tersebut menunjukkan kualitas udara kembali berada pada tingkat yang mengkhawatirkan setelah sempat membaik dalam beberapa hari terakhir. Grafik pemantauan BMKG memperlihatkan konsentrasi PM2.5 bertahan pada kisaran 300–400 µg/m³ sejak tengah malam di sejumlah waktu pengukuran.
Kondisi serupa terlihat di lapangan. Kabut asap mengurangi jarak pandang di sejumlah kawasan, termasuk Jembatan Ampera yang tampak samar dari kejauhan. Kawasan Bundaran Air Mancur dan bangunan di sekitarnya juga terselimuti asap.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan pada pukul 06.00 WIB mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) PM2.5 di Palembang mencapai 321. Berdasarkan klasifikasi yang dirujuk BPBD Sumsel dari Kementerian Lingkungan Hidup, angka tersebut masuk kategori berbahaya.
Sebelumnya, kualitas udara Palembang sempat menunjukkan perbaikan seiring upaya penanganan kabut asap, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice. Namun, tingginya konsentrasi PM2.5 pada Selasa pagi menunjukkan bahwa kondisi udara kembali memburuk.
Karhutla Tersebar di Sembilan Kabupaten/Kota
Di tengah memburuknya kualitas udara, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatra Selatan. Hasil patroli udara dan pemantauan tim darat pada Senin (19/10/2026) mencatat kejadian karhutla tersebar di sembilan kabupaten/kota.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatat jumlah kejadian terbanyak, yakni 22 kejadian. Berikutnya, Musi Banyuasin dengan 10 kejadian dan OKU Timur sebanyak tujuh kejadian.
Muara Enim dan Banyuasin masing-masing mencatat enam kejadian, disusul Ogan Ilir dengan lima kejadian. Palembang mencatat empat kejadian, sedangkan Empat Lawang dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) masing-masing satu kejadian.
Di OKI, penanganan karhutla meliputi wilayah Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, Pampangan, Pedamaran, Pedamaran Timur, Air Sugihan, Cengal, dan Sungai Menang. Sementara itu, penanganan di Muara Enim mencakup Gelumbang, sedangkan di Musi Banyuasin meliputi Bayung Lencir, Lalan, dan Lais.
Sejumlah titik di Banyuasin dan Ogan Ilir juga menjadi lokasi penanganan. Di Palembang, wilayah yang tercatat meliputi Sematang Borang, Alang-Alang Lebar, Kertapati, Sukarami, dan Jakabaring.
Tingginya konsentrasi PM2.5 yang beriringan dengan masih berlangsungnya karhutla menjadi perhatian serius dalam penanganan kabut asap di Sumatra Selatan. Pemantauan kualitas udara dan upaya pengendalian kebakaran perlu terus dilakukan untuk mengurangi dampak pencemaran terhadap masyarakat. (Sn)