Krisis Lingkungan: Dari Nasional ke Danau Toba

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang,Dipl_Ec.,M.Si

INDONESIA sebagai negara dengan kekayaan alam yang luar biasa, menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestarian lingkungan. Perubahan iklim, pencemaran air, dan kerusakan hutan menjadi isu nasional yang memerlukan perhatian serius. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa Indonesia mengalami 2.726 kejadian bencana hidrometeorologi pada tahun 2025, dengan kerugian ekonomi yang signifikan dan ratusan korban jiwa.

Di tingkat regional, Sumatera menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh krisis lingkungan. Banjir bandang, longsor, dan kebakaran hutan menjadi ancaman bagi masyarakat dan ekosistem di pulau ini. Pada tahun 2025, Sumatera mengalami 1.345 kasus kebakaran hutan dan lahan, dengan luas area yang terbakar mencapai 2.456 hektar.

Banjir bandang di Sumatera Barat dan Sumatera Utara pada November 2025 menelan korban jiwa 1.180  orang, 145 orang hilang masih dalam pencarian  dan ribuan rumah terendam sehingga 231.000 jiwa mengungsi akibatnya.

Danau Toba, salah satu destinasi wisata super prioritas nasional di Sumatera, menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Pencemaran air, penebangan hutan, dan keramba jaring apung (KJA) yang tidak berkelanjutan menjadi isu lingkungan yang memerlukan perhatian serius. Banjir bandang di Parapat, Humbang Hasundutan, dan Sihotang, Kabupaten Samosir, pada November 2023 menyebabkan kerusakan parah pada 8 rumah dan 1 korban jiwa. Intensitas curah hujan yang tinggi menjadi penyebab utama banjir bandang ini.

Sebagai penggiat lingkungan dan Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia, saya telah lama menyuarakan kekhawatirannya tentang kondisi Danau Toba. Ekoteologi, sebagai pendekatan yang mengintegrasikan ilmu ekologi dan teologi, dapat menjadi solusi untuk mengatasi krisis lingkungan di Danau Toba.

Dengan ekoteologi, kita dapat memahami bahwa manusia bukan hanya sebagai pengelola lingkungan, tapi juga sebagai bagian dari ekosistem itu sendiri. Mari kita bekerja sama untuk menjaga kelestarian Danau Toba dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan.@

***

Scroll to Top