Krisis Campak di Bangladesh Menewaskan Lebih dari 1.000 Anak

Krisis Campak di Bangladesh
Krisis Campak di Bangladesh

Dhaka | EGINDO.co – Jumlah kematian akibat campak di Bangladesh telah melampaui 1.000 anak sejak bulan Maret, demikian disampaikan pejabat kesehatan pada hari Rabu (9 September), sembari mengakui bahwa kegagalan dalam program vaksinasi mungkin telah memicu wabah tersebut.

Negara Asia Selatan dengan populasi 170 juta jiwa ini telah mencatat 1.002 kematian dan 187.484 kasus infeksi pada anak-anak, menjadikan wabah tahun ini sebagai yang paling mematikan di negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir, menurut Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan (DGHS).

Campak sangat menular, menyebar melalui batuk dan bersin, serta tidak memiliki pengobatan khusus setelah seseorang terinfeksi.

Komplikasi penyakit ini dapat mencakup pembengkakan otak dan masalah pernapasan yang parah. Meskipun siapa saja bisa tertular penyakit ini, anak-anak kecil sangat rentan.

Penyakit ini terus menyebar di Bangladesh bahkan saat otoritas kesehatan meluncurkan program vaksinasi massal untuk memerangi wabah tersebut.

Juru bicara DGHS, Zahid Raihan, mengatakan bahwa lebih dari 18 juta anak telah divaksinasi sejauh ini, dan tim-tim kesehatan sedang mencari anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi.

“Kami tidak berhasil mencapai kekebalan kelompok (*herd immunity*),” ujar Raihan kepada AFP.

Data resmi menunjukkan bahwa sekitar empat juta anak tidak tercakup dalam kampanye tersebut, sehingga menyisakan kantong-kantong kerentanan yang menurut para ahli telah memicu wabah ini.

“Campak tidak dapat diberantas sepenuhnya, dan tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah korban. Kami akan terus memvaksinasi anak-anak kami,” kata Raihan.

Namun, pengendalian wabah memerlukan lebih dari sekadar vaksinasi, kata Raihan, seraya menyoroti perlunya mengatasi masalah gizi buruk kronis pada anak-anak—faktor yang dapat memperparah dampak penyakit tersebut.

Krisis campak yang kian memburuk ini juga membebani sistem layanan kesehatan yang sudah kewalahan, di saat pihak berwenang harus menangani lonjakan kasus demam berdarah secara bersamaan.

“Rumah sakit yang memiliki kapasitas untuk menangani 50 pasien demam berdarah kini harus menangani 500 pasien,” ujar Raihan.

Sembilan orang meninggal akibat demam berdarah pada hari Selasa saja, sementara 1.571 pasien dirawat di rumah sakit, menurut data departemen kesehatan.

Sejak Januari, Bangladesh telah mencatat 45.475 kasus demam berdarah dan 130 kematian. Pada tahun 2023, tercatat 321.017 kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini—angka tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut. Menteri Muda Kesehatan MA Muhit memperingatkan bahwa kasus demam berdarah dapat meningkat lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang.

“Jika kita melakukan langkah-langkah untuk menjaga kebersihan lingkungan, kita mungkin dapat melihat penurunan angka kejadian demam berdarah,” ujarnya dalam sebuah seminar pada hari Rabu.

“Jika tidak… situasi demam berdarah bisa menjadi berbahaya pada minggu terakhir bulan September dan awal Oktober.”

Perdana Menteri Tarique Rahman dijadwalkan akan meresmikan kampanye nasional anti-demam berdarah yang berlangsung selama tiga bulan pada hari Sabtu.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top