Jakarta|EGINDO.co Pertumbuhan kredit perbankan nasional menunjukkan kinerja solid pada awal tahun. Bank Indonesia melaporkan penyaluran kredit pada Januari 2026 meningkat 9,96% secara tahunan (year on year/YoY), mencerminkan penguatan fungsi intermediasi di tengah pemulihan aktivitas ekonomi domestik.
Dari sisi likuiditas, ruang ekspansi kredit dinilai masih terbuka lebar. Hal ini tercermin dari posisi undisbursed loan—fasilitas kredit yang telah disetujui namun belum ditarik—yang mencapai Rp2.506,47 triliun. Besarnya angka tersebut mengindikasikan kapasitas pembiayaan perbankan masih kuat untuk mendorong pertumbuhan sektor riil ke depan.
Gubernur Perry Warjiyo menjelaskan bahwa akselerasi kredit terutama ditopang oleh kinerja kredit investasi yang tumbuh signifikan.
“Perkembangan positif kredit ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia serta realisasi program prioritas pemerintah,” ujarnya dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Februari 2026, Kamis (19/2/2026).
Bank sentral mencatat pertumbuhan kredit terjadi di berbagai segmen pembiayaan, dengan komposisi sebagai berikut:
-
Kredit Investasi: tumbuh 22,38% YoY
-
Kredit Modal Kerja: meningkat 4,13% YoY
-
Kredit Konsumsi: naik 6,58% YoY
Lonjakan kredit investasi mencerminkan mulai bergulirnya ekspansi usaha dan proyek baru, sejalan dengan perbaikan permintaan domestik serta keberlanjutan proyek strategis nasional.
Sejumlah faktor utama yang menopang pertumbuhan kredit antara lain:
-
Pemulihan aktivitas ekonomi di sektor manufaktur, perdagangan, dan infrastruktur.
-
Pelonggaran kebijakan moneter, termasuk stabilitas suku bunga dan kecukupan likuiditas.
-
Kebijakan makroprudensial akomodatif, seperti pelonggaran rasio penyangga likuiditas.
-
Program prioritas pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur dan hilirisasi industri.
Sejumlah media ekonomi menilai tren ini sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan 2026. Laporan Bloomberg menyoroti bahwa permintaan kredit investasi yang tinggi mencerminkan meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Sementara itu, CNBC Indonesia mencatat bahwa likuiditas longgar dan stabilitas sektor keuangan memberi ruang bagi perbankan untuk menjaga pertumbuhan kredit di kisaran dua digit sepanjang tahun, selama risiko global tetap terkendali.
Dengan masih besarnya undisbursed loan dan berlanjutnya stimulus kebijakan, pertumbuhan kredit diperkirakan tetap kuat pada semester I-2026. Namun, otoritas moneter tetap mewaspadai dampak ketidakpastian global, termasuk suku bunga internasional dan volatilitas nilai tukar, terhadap permintaan pembiayaan domestik.
Secara keseluruhan, kinerja kredit Januari menjadi fondasi awal yang positif bagi pembiayaan ekonomi nasional di 2026, terutama dalam mendukung investasi dan ekspansi dunia usaha. (Sn)