Kredit Hilirisasi Lesu, Perbankan Siap Biayai

Ilustrasi perbankan dan pembiayaan proyek hilirisasi sektor pertambangan, perkebunan, industri, dan kelautan.
Ilustrasi perbankan dan pembiayaan proyek hilirisasi sektor pertambangan, perkebunan, industri, dan kelautan.

Jakarta|EGINDO.co Perbankan nasional dinilai memiliki ruang besar untuk membiayai proyek hilirisasi di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, perkebunan hingga kelautan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terserap karena permintaan kredit dari sektor hilir masih relatif rendah.

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, mengatakan kesiapan perbankan tercermin dari kondisi permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan masih tinggi, sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di sekitar 88%.

Menurut Aviliani, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan bank menyediakan pembiayaan, melainkan pada sisi permintaan. Banyak perusahaan di sektor riil masih menghadapi kendala, antara lain perizinan, kepastian usaha, hingga persoalan pasar.

“Dari sisi perbankan sebenarnya tetap tumbuh tinggi, tetapi dana sendiri masih sangat besar,” ujar Aviliani dalam acara Bisnis Indonesia Group: Downstream Insight 2026, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, permintaan pembiayaan saat ini masih lebih banyak terkonsentrasi di sektor hulu. Sementara di sektor hilir, aktivitas masih didominasi pembangunan smelter yang sebagian baru menghasilkan produk antara, belum sepenuhnya masuk ke tahap hilirisasi dengan nilai tambah tinggi.

Kondisi tersebut membuat pembiayaan perusahaan secara mandiri dan penanaman modal asing (PMA) masih menjadi sumber dana utama. Padahal, menurut Aviliani, meningkatnya kredit investasi menunjukkan perbankan tetap berperan dalam mendukung pengembangan sektor penghiliran.

Selain persoalan permintaan, bank juga harus mempertimbangkan prospek perusahaan, kemampuan pembayaran, jangkauan pasar serta fluktuasi harga komoditas sebelum menyalurkan kredit.

Aviliani juga mendorong Danantara memperkuat basis sumber daya dan mempertimbangkan ekspansi investasi ke luar negeri untuk proyek jangka panjang. Salah satu contohnya adalah sektor kelapa sawit yang menghadapi keterbatasan lahan dan persoalan perizinan di dalam negeri.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan reindustrialisasi agar sektor industri kembali produktif, meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja. Kebijakan investasi juga perlu disesuaikan dengan perubahan kompetisi global agar pembiayaan perbankan dapat lebih optimal menopang hilirisasi nasional. (Sn)

Scroll to Top