Jakarta | EGINDO.co – Kotak hitam kedua dari pesawat Sriwijaya Air naas yang jatuh ke Laut Jawa pada awal Januari dan menewaskan 62 orang di dalamnya telah ditemukan, kata pihak berwenang pada Rabu (31 Maret).
Lokasi alat perekam suara kokpit (CVR) Sriwijaya Air SJ 182 teridentifikasi pada Selasa malam sekitar pukul 20.00, kemudian diambil dan dibawa ke darat pada Rabu pagi.
Kotak hitam pertama, perekam data penerbangan (FDR) yang berisi parameter penerbangan seperti kecepatan udara dan ketinggian, ditemukan tiga hari setelah kecelakaan.
Menemukan CVR beberapa bulan setelah kecelakaan itu tidak mudah, kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
“Kami tahu FDR ditemukan beberapa waktu lalu, dan kami mencoba menemukan CVR di antara puing-puing.
“Menemukannya tidak mudah karena penyelam harus menyelam ke dasar laut,” kata Sumadi seraya menambahkan CVR tersebut ditemukan tidak jauh dari tempat FDR berada.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, pihaknya akan membawa CVR tersebut ke laboratorium dan butuh waktu tiga hari hingga seminggu untuk memproses datanya.
“Dan kami akan mencocokkannya dengan data FDR agar bisa menganalisis data dan situasi di kokpit. Tanpa CVR, akan sangat sulit untuk menentukan apa yang terjadi,” ujarnya.
Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Pontianak lepas landas dari bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada 9 Januari pukul 14.36 waktu setempat.
Pesawat itu menghilang dari layar radar pengawas lalu lintas udara empat menit setelah penerbangan, dan pihak berwenang kemudian menyatakan bahwa pesawat itu jatuh di Laut Jawa, tidak meninggalkan korban.
Dalam laporan awal yang dirilis pada bulan Februari, KNKT mengungkapkan bahwa sistem autothrottle pesawat, yang mengontrol tenaga mesin secara otomatis, bisa saja tidak berfungsi.
Sumber : CNA/SL