Seoul | EGINDO.co – Korea Utara menyebut jembatan jalan raya pertama yang melintasi perbatasan sempitnya dengan Rusia sebagai tanda nyata dari hubungan yang semakin erat, demikian dilaporkan media pemerintah pada hari Selasa (8 September), di saat Pyongyang memperoleh keuntungan dari tetangga-tetangganya yang kuat, Moskow dan Beijing.
Jembatan yang melintasi Sungai Tumen menuju Rusia serta satu jembatan lain yang sedang dibangun menuju Tiongkok merupakan bagian dari perubahan yang memberikan pilihan ekonomi dan strategis—yang telah lama dicari—bagi Pyongyang, yang saat ini sedang dikenai sanksi oleh negara-negara Barat, menurut para ahli.
Korea Utara “akan secara bersamaan mengamankan dua jalur darat utama yang menghubungkannya dengan Rusia dan Tiongkok, sehingga memungkinkannya mendorong persaingan antara kedua negara tersebut dan memaksimalkan keuntungan yang diperolehnya,” ujar Lim Eul-chul, seorang profesor di Universitas Kyungnam.
Ia mencatat bahwa jembatan-jembatan tersebut juga “dapat menjadi pesan bagi Amerika Serikat bahwa Korea Utara tidak memiliki alasan untuk memohon keringanan sanksi kepada Washington atau memberikan konsesi terkait denuklirisasi demi bisa bernegosiasi.”
Pihak Rusia menyatakan bahwa jembatan tersebut dirancang untuk mengakomodasi peningkatan arus angkutan barang dengan kapasitas hingga 300 kendaraan per hari, melengkapi jalur kereta api dan udara yang sudah ada di antara negara-negara tetangga tersebut.
Namun, kelompok hak asasi manusia asal Ukraina, Truth Hounds, sebelumnya memperingatkan bahwa jembatan baru ini dapat menjadi “jalur utama langsung untuk memindahkan pasukan, brigade konstruksi, dan pejabat militer Korea Utara ke Rusia, sementara teknologi dan sumber daya Rusia mengalir ke arah sebaliknya.”
Upacara peresmian jembatan baru tersebut pada hari Senin berlangsung di tengah semakin eratnya hubungan militer dan ekonomi antara Rusia dan Korea Utara sejak Moskow melancarkan serangan ke Ukraina pada tahun 2022.
Korea Utara mengirimkan ribuan tentara ke Rusia pada tahun 2024 untuk membantu menghalau serangan Ukraina ke wilayah Kursk, sementara Kyiv menuduh Moskow menggunakan rudal Korea Utara dalam serangan-serangan gencar yang dilakukannya secara rutin.
Bank sentral Korea Selatan pada bulan Juli memperkirakan bahwa ekonomi Korea Utara tumbuh lebih dari tiga persen selama tiga tahun berturut-turut hingga tahun 2025, dengan menyebut perluasan kerja sama ekonomi dengan Rusia sebagai “pendorong utama.”
Pejabat bank tersebut mengatakan bahwa pendapatan nasional bruto Korea Utara juga “mendapat dorongan dari lonjakan pendapatan mata uang asing” yang terkait dengan pengerahan pasukannya ke Rusia.
Blok Beijing-Moskow-Pyongyang
Menurut kantor berita resmi KCNA, pejabat Korea Utara Pak Thae Song menyatakan bahwa “penyelesaian jembatan ini merupakan peristiwa penting yang memberikan dinamika baru bagi kerja sama bilateral secara keseluruhan”.
Korea Utara dan Tiongkok telah terhubung melalui Jembatan Persahabatan Sino-Korea yang secara rutin dilalui kereta penumpang, namun kapasitasnya terbatas.
Setelah sempat ditutup cukup lama, jembatan tersebut dibuka kembali sebagian dan layanan kereta penumpang harian dengan Tiongkok dipulihkan pada awal tahun ini; namun, Korea Utara belum kembali menerbitkan visa wisata bagi warga negara Tiongkok, yang sebelumnya merupakan kelompok terbesar dari pengunjung asingnya.
Korea Utara telah lama menerapkan pengawasan ketat terhadap pengunjung asing dan secara efektif menutup perbatasannya sejak awal pandemi enam tahun lalu.
Jembatan Baru Sungai Yalu—yang dirancang sebagai alternatif sekaligus pengganti Jembatan Persahabatan Sino-Korea di masa mendatang—diperkirakan oleh para ahli akan rampung tahun ini.
Penyelesaian jembatan tersebut “mengirimkan pesan politik dan geopolitik yang menunjukkan terbentuknya blok segitiga kontinental Korea Utara-Tiongkok-Rusia,” ujar Lim.
Sumber : CNA/SL