Athena | EGINDO.co -Tahun ini, pemilik kapal telah memesan supertanker dalam jumlah lebih dari dua kali lipat dibandingkan sepanjang tahun lalu—sebuah aksi borong senilai lebih dari $20 miliar yang merupakan rekor terbesar setidaknya dalam 25 tahun terakhir—seiring dengan perang AS-Iran yang mengubah peta rute perdagangan dan meningkatkan permintaan untuk pengiriman minyak mentah jarak jauh.
Data dari Signal Group, sebuah platform analitik pelayaran, menunjukkan adanya pemesanan 217 kapal *Very Large Crude Carrier* (VLCC) sejauh tahun ini, dibandingkan dengan 93 kapal pada tahun lalu. Allied Shipbroking mencatat 164 pesanan VLCC, naik dari 83 pesanan. Satu kapal VLCC mampu mengangkut sekitar dua juta barel minyak.
Lonjakan pemesanan ini menandakan penerimaan yang kian meluas bahwa minyak akan terus menempuh jarak lebih jauh dari wilayah cekungan Atlantik seiring langkah pembeli untuk mendiversifikasi sumber pasokan agar tidak bergantung pada Timur Tengah. Hal ini juga mencerminkan keyakinan umum di kalangan pemilik kapal bahwa perdagangan minyak jarak jauh akan tetap tangguh, terlepas dari adanya transisi meninggalkan bahan bakar fosil.
“Kami meyakini bahwa langkah pemilik kapal yang bertaruh pada peningkatan pengiriman jarak jauh dari Atlantik ke Asia berperan besar dalam bangkitnya kembali permintaan pemesanan VLCC,” ujar Rebecca Galanopoulos, analis senior di perusahaan analitik pelayaran Veson Nautical.
Dampak Penutupan Selat Hormuz Terasa Hingga ke Seluruh Dunia
Kilang-kilang minyak di Asia dan Eropa harus mencari pengganti pasokan yang hilang akibat penutupan praktis Selat Hormuz—jalur yang sebelumnya dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum pecahnya perang antara AS dan Iran.
Ekspor minyak mentah AS telah mencapai rekor tertinggi, dan pemasok lain di wilayah cekungan Atlantik pun turut meningkatkan produksi. Negara-negara di pesisir timur Amerika Selatan—yang dipimpin oleh Brasil, Guyana, dan Argentina—akan mendorong pertumbuhan ekspor lebih lanjut, kata Ioannis Papadimitriou, analis di perusahaan intelijen data Vortexa.
“Produksi regional dapat meningkat sekitar 2,5 juta barel per hari hingga tahun 2030, yang sebagian besar akan memasok pasar Eropa dan Asia serta mendorong perdagangan jarak jauh,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya juga melihat adanya ekspektasi yang berkembang mengenai perdagangan jarak jauh menggunakan kapal-kapal berukuran lebih besar.
Permintaan terhadap VLCC dan kapal tanker Suezmax yang lebih kecil juga didorong oleh kebutuhan untuk mengangkut minyak keluar dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz, guna kemudian dipindahkan ke kapal tanker yang lebih besar di Teluk Oman. Produsen Timur Tengah mendapati bahwa pemilik kapal enggan mengambil risiko serangan Iran saat mengangkut minyak melalui selat tersebut, sehingga mereka memutuskan untuk memiliki kapal sendiri.
Kini, setelah pipa minyak Arab Saudi yang mengalirkan minyak ke arah barat menuju Laut Merah mengalami kerusakan, “Arab Saudi perlu terlibat jauh lebih besar dalam bisnis ini… setidaknya untuk sementara waktu,” ujar Lars Barstad, CEO grup tanker Frontline, dalam sebuah konferensi di Norwegia.
Sejak pipa tersebut terkena serangan pesawat nirawak (drone), biaya pengangkutan minyak menggunakan tanker terbesar melonjak hingga mencapai rekor tertinggi. Menurut Allied Shipbroking, harga pasar spot untuk VLCC baru-baru ini naik melampaui angka $500.000 per hari—naik dari sekitar $132.000 pada bulan Februari, sebelum konflik memanas.
Proses pengangkutan minyak keluar dari kawasan Teluk untuk kemudian dipindahkan ke kapal lain (transshipment) menyita penggunaan kapal dan menambah waktu tunggu, yang pada gilirannya semakin memacu permintaan akan kapal tanker.
Permintaan saat ini begitu tinggi hingga perusahaan pialang Pareto Securities—penyelenggara konferensi tersebut—memperkirakan bahwa harga beli tanker minyak berusia 10 tahun kini lebih mahal dibandingkan harga pemesanan kapal baru.
Usia Armada VLCC Juga Mendorong Pemesanan Baru Setelah Bertahun-Tahun Lesu
Menurut Allied Shipbroking, biaya pembangunan satu unit VLCC mencapai sekitar $130 juta.
Gelombang pemesanan ini bukan semata-mata didasarkan pada spekulasi mengenai arus minyak di masa depan. Setelah bertahun-tahun dilanda krisis dan kelebihan pasokan, peremajaan armada menjadi semakin mendesak mengingat sekitar 20 persen armada VLCC telah berusia lebih dari 20 tahun, menurut data Veson Nautical.
Kontrak-kontrak terbaru mencakup kapal-kapal yang dijadwalkan untuk diserahterimakan pada tahun 2029 dan 2030; hal ini menunjukkan keyakinan pemilik kapal bahwa permintaan akan terus berlanjut hingga jangka menengah, kata Pavlos Fakinos, analis pasar angkutan laut di Allied Shipbroking.
Bahkan VLCC tua pun tetap mendapatkan pembeli alih-alih dibesituakan (scrapped), menurut perusahaan intelijen data Kpler. Kapal-kapal ini menjadi bagian dari “armada bayangan” (shadow fleet) yang digunakan untuk mengangkut minyak dari negara-negara yang terkena sanksi—seperti Rusia, Iran, dan Venezuela—di luar sistem pelayaran dan asuransi Barat yang umum digunakan.
Sumber : CNA/SL