Medan | EGINDO.com – Kondisi pascabanjir di Sari Rejo Medan Polonia diteliti mahasiswa Universitas Satya Terra Bhinneka. Dipilihnya lingkungan I Sari Rejo sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu kawasan yang kerap terdampak banjir dan masih menghadapi persoalan kebersihan lingkungan setelah bencana.
Kemudian adanya tumpukan sampah, genangan air yang tersisa, serta keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah menjadi tantangan yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Pengelolaan sampah rumah tangga setelah banjir memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah munculnya berbagai penyakit, khususnya pada anak-anak. Penanganan banjir dinilai tidak berhenti ketika genangan air surut, tetapi harus dilanjutkan dengan upaya menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit.
Penelitian tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Adapun tim peneliti terdiri atas Meilani Saputri, Barbisya Kinanti, Diya Frasa Nasution, Intan Kartika Sari Sihombing, Revalina Manuela Saragih, Cronika Sesilia Sipahutar, Amelia Batubara, dan Artia Deswita, mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan, Fakultas Kesehatan, Universitas Satya Terra Bhinneka, di bawah bimbingan Bd. Dita Anggriani Lubis, S.Tr.Keb., M.K.M., CTM-BM.
Kondisi tersebut menjadi salah satu temuan dalam penelitian yang dilakukan mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan, Fakultas Kesehatan, Universitas Satya Terra Bhinneka di Lingkungan I, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia.
Dosen pembimbing penelitian Universitas Satya Terra Bhinneka, Bd. Dita Anggriani Lubis, S.Tr.Keb., M.K.M., CTM-BM, mengatakan bahwa kondisi lingkungan pascabanjir sering kali masih menyisakan persoalan serius berupa penumpukan sampah rumah tangga yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta memicu berbagai penyakit berbasis lingkungan.
Katanya penanganan banjir tidak cukup hanya ketika air sudah surut. Justru pada fase pascabanjir, masyarakat harus lebih memperhatikan pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan karena di situlah risiko penyebaran penyakit mulai meningkat, terutama bagi anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.
Penelitian yang berjudul “Pengaruh Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Pascabanjir terhadap Perkembangbiakan Nyamuk dan Risiko Penyakit Anak di Lingkungan I Sari Rejo Medan Polonia” dilakukan untuk mengkaji hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga setelah banjir dengan potensi berkembangnya nyamuk penyebab penyakit serta dampaknya terhadap kesehatan anak.
Menurut Dita Anggriani Lubis, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terdampak kondisi tersebut. Sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang secara optimal membuat mereka lebih mudah terserang berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hingga infeksi lain yang berkaitan dengan buruknya sanitasi lingkungan.
Katanya karena itu, menjaga kebersihan lingkungan pascabanjir bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh masyarakat. Upaya sederhana seperti membersihkan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan keluarga.
Ditambahkannya dalam pelaksanaan penelitian, tim mahasiswa melakukan observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat, serta survei kesehatan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi pengelolaan sampah rumah tangga setelah banjir. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi sistem pengangkutan sampah, ketersediaan fasilitas pembuangan, hingga mengamati keberadaan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah memiliki hubungan erat dengan upaya pencegahan penyakit. Sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng bekas, ember, maupun wadah lain yang mampu menampung air dapat menjadi media berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, vektor penyebab demam berdarah. Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk akan semakin tinggi. Sebaliknya, pengelolaan sampah yang dilakukan secara tepat mampu mengurangi potensi munculnya tempat perindukan nyamuk. Membersihkan lingkungan secara rutin, membuang sampah pada tempatnya, menguras wadah yang dapat menampung air, serta menjaga kebersihan saluran drainase menjadi langkah sederhana yang efektif dalam mencegah penyebaran penyakit.
Dita menjelaskan bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi masyarakat, tenaga kesehatan, maupun pemerintah daerah dalam menyusun strategi pengelolaan sampah pascabanjir yang lebih efektif dan berkelanjutan. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami bahwa pencegahan penyakit dapat dimulai dari tindakan sederhana di sekitar rumah.
Kesadaran kolektif menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak. Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, penelitian ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di tengah masyarakat. Melalui penelitian yang berangkat dari kondisi lapangan, diharapkan lahir berbagai rekomendasi yang mampu mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.@
Bs/fd/timEGINDO.com