Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Saya membaca sebuah tulisan yang berjudul MAAF, BIUS BUKAN PAGUYUBAN. ITU SALAH BESAR.
Tulisan itu penting. Karena Bius adalah jati diri kita. Maka saya membacanya pelan-pelan, tiga kali, seperti membaca Pustaha. Bukan untuk mencari siapa salah. Tapi untuk memastikan air yang diminum anak cucu kita nanti tetap jernih. Dan dalam bacaan yang pelan itu, saya menemukan tulisan itu sendiri sedang menjelaskan dirinya sendiri. Teks bertanya kepada teksnya sendiri.
Saya catat di sini, dengan jujur, sebagai pembelajar yang haus kebenaran, tanpa menambah satu kata pun dari luar tulisan itu.
- Teks Yang Menolak Namanya Sendiri
Di judulnya tertulis dengan huruf besar: BIUS BUKAN PAGUYUBAN Tapi di dalam tubuh tulisan itu sendiri, tertulis begini, saya kutip verbatim: “Literatur adat mencatatnya dengan tegas: ‘Bius’ adalah paguyuban yang memiliki kekuasaan dan pemerintahan dalam wilayah tertentu”
Dan tertulis lagi: “Harajaon Bius is an autonomous group or paguyuban system” Saya berhenti di sini. Judul bilang BUKAN. Isi bilang ADALAH paguyuban yang punya kekuasaan dan ADALAH paguyuban system.
Mana yang harus saya ikuti? Judulnya atau isinya? Saya tidak berani bilang ini salah besar. Saya hanya mencatat, sebagai pembelajar yang haus kebenaran: teks ini sedang menolak namanya sendiri.
- Teks Yang Menolak Ciri Tapi Memakai Cirinya
Di tengah tulisan tertulis: “Secara sosiologis, ini bukan lagi Gemeinschaft ala Tönnies yang hanya diikat oleh rasa batin. Bius adalah Patembayan.”
Tapi dua alinea di bawahnya, tulisan yang sama menjelaskan kesakralan Bius dengan ciri Gemeinschaft itu sendiri: “legitimasinya tidak datang dari KTP dan sertifikat, melainkan dari tanah, darah, dan doa leluhur”
“Status mereka keramat sakral, sebagai perwujudan nyata dari yang keramat”
Menurut Tönnies, Gemeinschaft adalah persatuan yang diikat oleh darah, tanah, dan kesakralan leluhur. Tulisan itu bilang BUKAN Gemeinschaft, tapi untuk mengagungkan Bius, dia memakai semua ciri Gemeinschaft: tanah, darah, doa, sakral.
- Teks Yang Bingung Antara Negara dan Negara Bagian
Di atas tertulis: Bius adalah negara. Ia otonom. Fungsinya yudikatif, legislatif, eksekutif.
Di bawah tertulis: “harajaon… merupakan pemerintahan konfederasi dari sejumlah bius”
“Bius adalah Negara Bagiannya” Kalau Bius adalah Negara yang otonom, dia tidak bisa menjadi Negara Bagian. Kalau Bius adalah Negara Bagian dari Harajaon, maka yang Negara adalah Harajaon, bukan Bius. Di dalam satu tulisan, Bius berganti peran dua kali: sekali jadi Negara, sekali jadi Negara Bagian. Anak cucu kita nanti mau pakai yang mana?
- Teks Yang Bilang Huta Bukan Kampung, Tapi Menjelaskan Huta Sebagai Kampung.
Tertulis: Huta (huta tidak sama dengan kampung)
Lalu dijelaskan: Huta adalah dunia kecil yang tertutup dari satu nenek moyang. Ketika Huta menjadi padat, ia melahirkan Huta baru. Bukankah itu definisi kampung genealologis? Dunia kecil dari satu nenek moyang yang berkembang karena kepadatan. Menolak kata kampung di dalam kurung, tapi memakai isi kampung di luar kurung.
Penutup: Jala Litok Aek, Jala Litok Batu
Ompung kami berumpasa: Molo litok aek, litok ma batu. Molo litok hata, litok ma roha. Kalau keruh air, keruh batu. Kalau keruh kata, keruh hati. Saya menulis ini bukan untuk mengatakan siapa salah besar. Saya menulis ini sebagai pembelajar yang haus kebenaran, karena tulisan kita adalah air.
Kalau di dalam satu teko ada air yang bilang bukan air, anak cucu kita haus. Tugas kita bukan berdebat. Tugas kita menjernihkan air itu kembali. Bius adalah persatuan Huta. Itu tertulis di dalam tulisan itu sendiri. Bius adalah paguyuban yang punya kekuasaan. Itu juga tertulis di dalam tulisan itu sendiri. Biarlah teks menjelaskan teksnya sendiri. Mauliate.@
***
Penulis adalah Wilmar Eliaser Simandjorang sebagai pembelajar yang haus kebenaran. Dolok Pusuk Buhit, 3 Oktober 2026