Medan | EGINDO.com – Dahulu ia seorang aktivis yang ikut menyuarakan perubahan sejak 1996. Kini, Jhonson Simanjuntak harus berjibaku dengan jalanan sebagai pengemudi ojek online (ojol) demi menyambung hidup. Namun, di tengah kerasnya kehidupan, ada satu harapan yang tak pernah ia lepaskan: pendidikan anak-anaknya harus lebih baik daripada kehidupan yang dijalaninya.
Dengan nada penuh syukur, Jhonson berdiri memberikan kesaksian di hadapan Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan. Ia mengaku keluarganya telah merasakan bantuan pendidikan sejak anaknya duduk di bangku SMA hingga melanjutkan pendidikan tinggi. “Saya Jhonson Simanjuntak, pekerjaan ojek online. Terima kasih kepada Bapak Sofyan Tan. Saya selalu dibantu, waktu SMA juga mendapat bantuan sampai kuliah hari ini,” ujarnya.
Bagi Jhonson, pendidikan bukan sekadar persoalan memperoleh ijazah. Di balik pekerjaan sebagai pengemudi ojol, tersimpan harapan agar anak-anaknya tidak harus menjalani kehidupan dengan perjuangan ekonomi yang sama.
Jhonson menyampaikan bahwa dirinya adalah mantan aktivis sejak 1996. Ada banyak rekan sahabat dan kenalannya yang berhasil menjadi anggota dewan. Namun dirinya tidak pernah dianggap. Menurutnya tidak ada yang tulus berjuang seperti figure Sofyan Tan. “Saya juga dulu aktivis ’96. Jadi, banyak teman-teman kita yang jadi anggota dewan, enggak ada seperti ini, enggak ada seperti Pak Sofyan Tan ini. Sama sekali tidak ada. Ya bersukacitalah kepada Tuhan Yang Maha Esa memberkati Pak Sofyan Tan, membuat dia menjadi jalan hidup bagi anak-anak kita semua untuk mencapai cita-citanya,” ungkap Jhonson.
Kesaksian itu menjadi satu dari sejumlah cerita orangtua penerima KIP Kuliah dalam kegiatan Serap Aspirasi Masyarakat Bersama dr Sofyan Tan pada Senin (2/11/2026) di Hall Universitas Bunda Thamrin, Jalan Sei Batanghari, Medan.
Cerita yang lebih menggetarkan datang dari seorang ibu yang suaminya juga bekerja sebagai pengemudi ojol. Penghasilannya tidak menentu, sementara ia sendiri memiliki penyakit bawaan dan suaminya menderita penyakit jantung. Dalam kondisi keluarga seperti itu, membiayai pendidikan tinggi anaknya di Fakultas Hukum Universitas Bunda Thamrin terasa seperti mimpi yang sulit diwujudkan. “Saya sangat terbantu karena suami saya seorang ojol. Pendapatannya tidak menentu setiap hari. Saya punya penyakit bawaan, suami saya punya penyakit jantung,” tuturnya.

Kini, melalui KIP Kuliah jalur aspirasi, anaknya memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Sang ibu hanya berharap anaknya kelak berhasil menjadi seorang pengacara. Sebuah cita-cita yang mungkin tidak pernah terbayangkan jika keterbatasan ekonomi terus menjadi penghalang.
Kisah serupa disampaikan seorang ibu yang anaknya bernama Hanifah Iqbal, diterima di jurusan Keperawatan. Ia mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk membiayai anaknya kuliah di perguruan tinggi tersebut. “Jangan berhenti jadi orang baik, Bapak,” ucapnya kepada Sofyan Tan. Pesan sederhana itu disampaikan dengan penuh harapan agar perjuangan membuka akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu terus berlanjut.
Sementara itu, Rima Lumba Raja, warga Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, juga mengungkapkan rasa terima kasih karena anaknya, alumni SMA Sultan Iskandar Muda, memperoleh kesempatan kuliah di jurusan Keperawatan Universitas Bunda Thamrin.
Di balik kesaksian-kesaksian tersebut, tersimpan persoalan lain yang sempat membuat sejumlah keluarga kehilangan harapan, yakni ketidaksesuaian data desil kesejahteraan. Sofyan Tan menceritakan adanya orangtua yang bekerja sebagai pengemudi ojol, tukang becak, hingga pekerja rumah tangga, tetapi anaknya terkendala karena tercatat dalam Desil 6 hingga 10. Padahal, berdasarkan kondisi kehidupan mereka, keluarga-keluarga tersebut merasa sangat membutuhkan bantuan pendidikan.
Sofyan Tan mengaku membawa dokumentasi kondisi nyata keluarga penerima bantuan untuk disampaikan kepada pimpinan BPS. Ia ingin memastikan persoalan data tidak menjadi tembok yang menutup kesempatan anak-anak miskin mengenyam pendidikan tinggi. Salah satu hasil perjuangan tersebut, menurutnya, adalah perubahan data desil seorang calon mahasiswa yang akhirnya bisa kuliah. “Jangan mengubur orang miskin tidak bisa kuliah,” tegasnya.
Menutup pertemuan, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu mengingatkan para mahasiswa bahwa kesempatan kuliah yang mereka peroleh membawa tanggung jawab besar terhadap masa depan dan pengorbanan orangtua. Ia meminta mahasiswa belajar sungguh-sungguh, tidak bolos, tidak putus kuliah, serta mempertahankan IP di atas 3.
Bahkan, Sofyan meminta para mahasiswa memeluk orangtua masing-masing dan berjanji untuk memberikan yang terbaik melalui pendidikan. “Suatu saat kalian harus mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga. Jangan sampai orangtua terus menderita. Jadikan kesempatan ini sebagai jalan untuk mengubah kehidupan keluarga,” pesannya.
Sebab, bagi seorang pengemudi ojol seperti Jhonson, seorang ayah yang sakit jantung, atau ibu yang selama ini merasa tak sanggup membiayai pendidikan anaknya, keberhasilan seorang sarjana kelak bukan hanya kebanggaan. Itu adalah jawaban atas perjuangan panjang orangtua yang tidak pernah berhenti berharap.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dewan Penyantun Universitas Bunda Thamrin Dr Hely Widjaja M.Kes, dan Hendra Wibowo SE serta unsur pimpinan civitas akademika Universitas Bunda Thamrin. Hadir juga Tenaga Ahli DPR RI Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting dan Pandapotan Tamba.@
Rel/fd/timEGINDO.com