Kerajinan Lidi Sawit, Program Inkubasi Bisnis APP Sinarmas

Kerajinan lidi sawit merek Pirlisae
Kerajinan lidi sawit merek Pirlisae

Jakarta | EGINDO.co – Kerajinan lidi sawit merek Pirlisae, salah satu dari lima UMKM terbaik di program Inkubasi Bisnis.

Pemilik usaha kerajinan “Pirlisae”, Lenirawati Susila Fitri, adalah satu di antara lima perempuan yang meraih “Best Progress” atau Kemajuan Terbaik pada program Inkubasi Bisnis Batch 2, program kolaborasi antara Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas dengan Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) – Womenpreneur Community (WPC).

Program yang ditujukan untuk membina dan memajukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dipimpin perempuan ini berkontribusi terhadap kemandirian finansial dan pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.

Selama beberapa minggu ke depan, APP akan menampilkan para perempuan yang berhasil mengembangkan bisnisnya setelah menerapkan strategi baru yang dipelajari selama program inkubasi.

Lenirawati mulai tertarik untuk membuat piring dari lidi sawit pada tahun 2014 melalui kursus singkat selama tiga hari. Hebatnya, perempuan berusia 44 tahun ini cepat menangkap keterampilan barunya itu – hanya dalam waktu 2 jam. Pada tahun 2019, dia terinspirasi lagi setelah melihat piring-piring terbuat dari lidi sawit di sebuah pernikahan dan memutuskan untuk menekuni kerajinan itu lagi. Dengan dukungan keluarga, ia memulai bisnisnya dan membagi-bagikan piring ini kepada teman-temannya. Pada Januari 2020, Lenirawati menerima pesanan pertamanya sebanyak 10 lusin piring.

Baca Juga :  Tzu Chi Sinarmas Memperingati 100 Tahun Eka Tjipta Widjaja

Dengan harga Rp 60.000 per lusin, piring ini cepat laku dan laris terjual, bahkan menjadi tumpuan keluarga Lenirawati di masa pandemi. Namun setelah itu ia melihat antusiasme pembeli meredup, sehingga penjualan menurun. Ia pun harus memeras otak mencari ide baru untuk mempromosikan bisnisnya.

Awal tahun ini, Lenirawati mengikuti program Inkubasi Bisnis setelah didukung oleh Indah Kiat Perawang. Program ini memberinya pengetahuan dan wawasan yang berharga tentang cara mengembangkan bisnisnya.

“Saya tidak menyangka hanya dengan memposting foto kerajinan tangan saya dan nomor telepon saya di Facebook akan mendatangkan begitu banyak pesanan,” kata Lenirawati.

Dengan pesanan yang sekarang melonjak, suami dan anak-anaknya turut membantu merangkai piring dan kerajinan lainnya dari pelepah dan lidi sawit. Sekarang, bisnis tersebut telah menjadi sumber pendapatan yang cukup besar bagi rumah tangga mereka, menghasilkan “sekitar Rp3-4 juta per bulan,” menurut perkiraan Lenirawati.

Baca Juga :  Emiten Batubara Grup Sinarmas DSSA Putuskan Tahan Laba 2022

Hal ini sangat menguntungkan baginya, mengingat harga bahan baku yang didapat dengan harga murah. “Pelepah sawit dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp10.000 per karung,” katanya.

“Lidi sawit biasanya dibuang sebagai sampah tapi saya mengubahnya menjadi sumber pendapatan.”

Produk Lenirawati populer di kalangan reseller dengan pembeli dari seluruh Indonesia. Keterampilannya ini juga membuat Lenirawati diundang mengisi kelas prakarya di beberapa SMA di sekitarnya.

Selama program inkubasi, ia terkesan dengan dedikasi para mentor dan sesi pembelajaran yang intensif dan informatif. Lenirawati mengatakan ia ingin menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan dan memperluas bisnisnya.

Gelombang kedua program Inkubasi Bisnis berlangsung dari Mei hingga Agustus 2023, menyediakan kurikulum komprehensif yang mencakup berbagai aspek kewirausahaan. Peserta mendapatkan pelatihan tentang elemen-elemen bisnis yang penting, termasuk proses produksi, pengembangan produk, diversifikasi, manajemen kelompok, dan penguatan, serta literasi keuangan dan pemasaran produk. Dengan membekali pengusaha perempuan dengan keterampilan ini, APP tidak hanya mendukung bisnis individu tetapi juga meletakkan dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah tempatnya beroperasi.

Baca Juga :  CEO Apple, Tim Cook Kunjungi Apple Developer Academy BSD City

Di akhir program, peserta dinilai berdasarkan beberapa parameter, seperti antusiasme, komitmen, konsistensi, dan penerapan materi. Proses evaluasi ini memastikan bahwa mereka tetap terlibat dan termotivasi sepanjang program.

Dampak positif dari program Inkubasi Bisnis bukan menguntungan Lenirawati saja. Saat perempuan-perempuan seperti Lenirawati tumbuh dan sukses, mereka bisa menjadi panutan, mendorong perempuan lain untuk menekuni kewirausahaan. Efek ini dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam bisnis yang dipimpin perempuan, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Tujuan dari program Inkubasi Bisnis adalah untuk menciptakan wirausahawan mandiri yang dapat mendorong perubahan positif dalam keluarga dan komunitas mereka. Dengan membina ekosistem yang mendukung dan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, program ini bertujuan untuk menciptakan peluang kerja di masyarakat lokal dan mengubah pelaku UMKM menjadi juara pendapatan keluarga yang akan menginspirasi perempuan lain untuk menjadi pengusaha juga.@

App/fd/timEGINDO.co

Bagikan :