Kenya Umumkan Kasus Ebola Kedua, ‘Tidak Ada Bukti’ Penyebaran Lebih Luas

Kasus Ebola kedua di Kenya
Kasus Ebola kedua di Kenya

Nairobi | EGINDO.co – Kenya telah mencatat kasus Ebola kedua, menurut pernyataan Kementerian Kesehatan pada hari Rabu (14 Oktober). Pihak kementerian menyatakan bahwa “tidak ada bukti” mengenai penularan virus mematikan tersebut dalam skala luas.

Pekan lalu, Kenya melaporkan kematian akibat Ebola untuk pertama kalinya, setelah seorang pria Kenya yang sempat tinggal di Republik Demokratik Kongo (RDK) meninggal dunia sekembalinya ke Kenya.

Republik Demokratik Kongo mengumumkan wabah Ebola ke-17 di negara tersebut pada bulan Mei. Penyakit mematikan ini telah merenggut nyawa lebih dari 15.000 orang di Afrika selama 50 tahun terakhir.

“Kementerian Kesehatan mengonfirmasi kasus Ebola kedua,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Kementerian menambahkan bahwa pria berusia 39 tahun itu merupakan anggota keluarga dekat dari korban pertama, dan ia sudah berada dalam karantina serta dalam pengawasan saat virus tersebut terdeteksi.

Kementerian menekankan bahwa deteksi dini seperti ini “membatasi kemungkinan penularan virus kepada orang lain” dan menegaskan bahwa “tidak ada bukti penyebaran di masyarakat luas”.

Individu tersebut diisolasi “segera setelah ia mengalami demam, kelelahan, dan nyeri sendi,” ungkap kementerian, sebelum akhirnya menjalani tes dan dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut.

“Saat ini ia berada di pusat perawatan khusus, tempat tim terlatih memberikan perawatan pendukung baginya.”

Kementerian menyatakan telah mendata 128 orang yang sempat melakukan kontak dengan korban pertama, dan hingga hari Selasa, 113 orang di antaranya telah berhasil dilacak.

Sebanyak 108 orang kini menjalani karantina di dalam negeri, sementara lima orang lainnya berada di luar Kenya; pihak berwenang di negara-negara tersebut telah diberitahu.

Pihak berwenang masih terus berupaya melacak 15 orang sisanya, tambah kementerian tersebut.

Sebelumnya, Kenya belum pernah melaporkan adanya kasus Ebola.

Negara tetangga, Uganda, sempat mencatat 20 kasus—yang hampir seluruhnya melibatkan orang-orang yang baru tiba dari Republik Demokratik Kongo—serta dua kematian, sebelum akhirnya dinyatakan bebas Ebola pada bulan Agustus.

Korban pertama di Kenya adalah seorang warga negara Kenya—identitasnya tidak diungkapkan, namun ia disebut sebagai seorang pengusaha berusia 40 tahun. Ia jatuh sakit sekitar sebulan yang lalu dan sempat menjalani perawatan di Republik Demokratik Kongo (RDK), sebelum menempuh perjalanan darat ke Kampala, ibu kota Uganda, lalu terbang menuju Nairobi pada 3 Oktober.

Ia sempat dirawat di rumah sakit di Nairobi, namun kemudian meninggal dunia pada 5 Oktober, menurut Menteri Kesehatan Aden Duale.

Berdasarkan keterangan otoritas kesehatan Kongo, wabah ini telah menginfeksi 9.066 orang dan menyebabkan 4.381 kematian sejak munculnya virus Ebola jenis Bundibugyo di RDK—sebuah jenis virus yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top