Kemenkes: Hantavirus Sudah Lama Ada di Indonesia, Berbeda dengan Strain Luar Negeri

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberikan klarifikasi terkait kekhawatiran masyarakat mengenai ancaman Hantavirus. Meski virus ini kembali menjadi sorotan global pasca temuan kasus Andes Virus pada kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini, pemerintah menegaskan bahwa situasi di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda.

Jejak Hantavirus di Tanah Air

Berdasarkan data resmi pemerintah, Hantavirus bukanlah ancaman baru di Indonesia. Virus ini tercatat telah diidentifikasi di wilayah Nusantara sejak tahun 1991. Keberadaannya terus dipantau melalui berbagai riset kesehatan lingkungan dan zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia).

Perbedaan Signifikan: Strain Seoul vs. Andes Virus

Pemerintah menekankan perbedaan mendasar antara virus yang ditemukan di Indonesia dengan kasus internasional yang viral belakangan ini.

  • Strain Indonesia: Jenis yang beredar di Indonesia didominasi oleh Strain Seoul Virus. Infeksi ini menyebabkan gejala klinis yang dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

  • Strain Luar Negeri (Andes Virus): Virus yang ditemukan pada kapal MV Hondius merupakan Andes Virus. Jenis ini jauh lebih berbahaya karena dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi.

Tinjauan Pakar dan Media Lain

Melansir laporan dari Kompas.com, Hantavirus di Indonesia umumnya dibawa oleh tikus jenis Rattus norvegicus (tikus got) dan Rattus rattus (tikus rumah). Penelitian di berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya menunjukkan adanya prevalensi antibodi Hantavirus pada populasi tikus di pelabuhan.

Sementara itu, mengutip Tempo.co, para ahli epidemiologi mengingatkan bahwa meskipun strain Seoul di Indonesia cenderung memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan strain di Benua Amerika, masyarakat tetap harus waspada terhadap kebersihan lingkungan. Gejala awal HFRS seringkali menyerupai flu biasa, namun jika tidak ditangani dapat menyebabkan gagal ginjal akut.

Langkah Pencegahan

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun disiplin dalam menjaga sanitasi. Fokus utama pencegahan adalah:

  1. Pemberantasan Sarang Tikus: Menutup akses tikus ke dalam rumah.

  2. Kebersihan Makanan: Menyimpan bahan pangan dalam wadah tertutup rapat agar tidak terkontaminasi kencing atau kotoran tikus.

  3. Penggunaan APD: Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga menjadi sarang tikus.

Hingga saat ini, sistem surveilans kesehatan di Indonesia terus melakukan pemantauan ketat di pintu-pintu masuk negara guna memastikan tidak ada “impor” strain baru yang lebih berbahaya ke wilayah Indonesia. (Sn)

Scroll to Top