Kebijakan Subsidi Dan Insentif Tidak Cukup, Investasi EBT

Ilustrasi: Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt milik Star Energy Geothermal di Sukabumi, Jawa Barat
Ilustrasi: Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt milik Star Energy Geothermal di Sukabumi, Jawa Barat

Jakarta | EGINDO.com       – Penasihat Senior Ekonomi Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan mengatakan, investasi mempercepat transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) masih menjadi tantangan besar.

Menurutnya, kebijakan subsidi dan insentif saja belum cukup karena transisi ke arah energi baru kompleks.

“Kondisi yang kita hadapi saat ini adalah urgensi jangka pendek yang dimanifestasikan dengan krisis energi dengan kompleksitas transisi ke masa panjang,” kata Indra, Kamis (21/10/2021).

Menurut Indra, transisi ke masa panjang untuk menggantikan sumber energi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Yang harus kita lakukan adalah langsung action saja.

Kita lakukan beberapa yang kira-kira bisa menguntungkan secara ekonomi, diterima secara sosial di suatu lokasi, dan sekaligus rendah karbon,” ucap Indra.

“Saya pikir itu adalah inti dari sustainable development. Kita kembali ke basic-nya.

Lalu kita lakukan lagi menjadi sebuah kerja yang nyata,” sambungnya.

Ia menambahkan, krisis energi yang terjadi saat ini akan mengubah cara pandang dan meyakinkan bahwa energi hijau harus berlimpah.

Tantangannya kemudian adalah meningkatkan investasi di bidang EBT.

Indra memaparkan, data Kementerian Investasi dan BKPM terkait investasi setiap tahun terdapat realisasi sekitar Rp800 triliun.

Jumlah itu berasal dari asing dan lokal.

“Kita tidak kategorikan mana yang hijau dan tidak. Dua bulan lalu kita sudah groundbreaking sebuah proyek investasi besar untuk memproduksi mobil listrik,” tuturnya.

Sebelumnya, pemerintah telah menelurkan proyek investasi di Citata, yaitu PLTA.

Terdapat pula pembangkit listrik tenaga bayu di Sulawesi dengan kapasitas 75 Megawatt.

Meski demikian, untuk mencapai target energi terbarukan 23 persen di tahun 2025, masih diperlukan tambahan 9.000 Megawatt.

Sumber: Tribunnews/Sn

 

Bagikan :
Baca Juga :  Presiden Bali Siapkan Tiga Zona Hijau Covid-19 Untuk Dibuka