KAI Commuter Izinkan Buka Puasa di KRL, Dukung Mobilitas Ekonomi Pekerja Saat Ramadan

Sejumlah penumpang menunggu gerbong kereta rel listrik (KRL) Commuterline Jabodetabek di Stasiun Kebayoran, Jakarta.
Sejumlah penumpang menunggu gerbong kereta rel listrik (KRL) Commuterline Jabodetabek di Stasiun Kebayoran, Jakarta.

Jakarta|EGINDO.co Kebijakan layanan transportasi publik selama Ramadan kembali mendapat perhatian dari sisi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat perkotaan. KAI Commuter menetapkan bahwa penumpang KRL Commuter Line diperkenankan membatalkan puasa di dalam rangkaian kereta selama Ramadan 1447 Hijriah.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk penyesuaian layanan terhadap kebutuhan pengguna, khususnya pekerja komuter yang masih berada dalam perjalanan saat waktu berbuka tiba. Kebijakan tersebut juga berpotensi menjaga kelancaran arus penumpang pada jam sibuk sore hari, karena pengguna tidak perlu terburu-buru turun hanya untuk mencari makanan atau minuman.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa pelanggan diperbolehkan berbuka dengan konsumsi ringan.

Ia menegaskan, penumpang disarankan mengonsumsi makanan dan minuman secukupnya serta menghindari menu beraroma tajam guna menjaga kenyamanan bersama di dalam kereta.

Selain itu, petugas operasional akan menyampaikan informasi waktu berbuka, baik melalui pengumuman di dalam perjalanan maupun di area stasiun. Hal ini bertujuan membantu pengguna yang masih berada di perjalanan agar dapat menyesuaikan waktu berbukanya.

Dari aspek tata kelola layanan, KAI Commuter juga mengimbau penumpang untuk menjaga kebersihan. Seluruh sampah sisa makanan diminta disimpan terlebih dahulu dan dibuang di tempat sampah yang tersedia di stasiun tujuan.

Sejumlah media nasional turut menyoroti kebijakan ini sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan transportasi massal saat Ramadan. Pemberitaan oleh Kompas dan Bisnis Indonesia menilai fleksibilitas aturan berbuka di KRL dapat mendukung produktivitas pekerja urban sekaligus mempertahankan minat masyarakat menggunakan transportasi publik.

Dengan mobilitas harian Jabodetabek yang tetap tinggi selama bulan puasa, kebijakan ini dipandang tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga berdampak ekonomi melalui terjaganya efisiensi waktu perjalanan dan aktivitas pekerja. (Sn)

Scroll to Top