Oleh: Fadmin Malau
ERA pemerintahan Orde Baru dibawah kepeminpinan Presiden Soeharto memiliki konsep yang jelas yakni Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dilaksanakan secara bertahap dari program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Artinya, program pembangunan dalam GBHN itu berkesinambungan.
Konsep pembangunan yang terarah dan terukur itu berjenjang yakni pembangunan jangka pendek yakni Pelita dan pembangunan jangka panjang, Pelita demi Pelita dengan tujuan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara totalitas bahwa pembangunan itu berbasis pembangunan dari desa dengan pemerataan pembangunan dalam segala bidang. Pemerataan pembangunan bertujuan memperkecil jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin maka dilakukan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Pemerataan pembangunan itu mewujudkan pembangunan yang merata di seluruh nusantara.
Sejak Jakarta menjadi kota Metropolitan maka menjadi impian dan kebanggaan bagi masyarakat bila bisa tinggal di Jakarta. Sejak itu Kota Jakarta didatangi orang-orang udik dan menjadi tempat penampungan orang-orang udik. Tercatat lebih dari 80% para urban datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Para urban menjadikan Jakarta sebagai harapan hidup masa depan. Masyarakat bangga jika sudah bisa ke Jakarta dan lebih bangga lagi bila bisa bekerja di Jakarta.
Besarnya keinginan masyarakat datang ke Jakarta maka semakin banyak masyarakat urban di Jakarta. Masyarakat urban, masyarakat memiliki kampung halaman dan menjadikan Jakarta sebagai tempat perantauan. Kondisi ini menjadi kekhawatiran pemerintah era Orde Baru kala itu maka dibuat program transmigrasi yakni perpindahan penduduk dari kota ke desa yang dikenal program transmigrasi.
Program kembali ke desa dengan pemerataan pembangunan berbasis pedesaan maka ada program bidan masuk desa, listrik masuk desa, koran (suratkabar) masuk desa, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) masuk desa, ekonomi masuk desa dengan membangunan Koperasi Unit Desa (KUD) pada setiap desa di Indonesia. Meskipun begitu gencar promosi dan hebatnya pelaksanaan program pembangunan ekonomi desa seperti KUD yang dibangun hampir pada semua desa di Indonesia. Kala itu hampir semua desa ditemukan kantor KUD yang megah dan bentuknya sama pada setiap desa akan tetapi tetap terjadi arus perpindahan penduduk dari desa ke kota.
Berbagai alasan masyarakat desa pindah dari desa ke kota. Satu alasan yang kuat merasa pembangunan belum merata dilaksanakan. Disamping itu faktor gengsi, prestise, status sosial dari masyarakat desa yang pindah ke kota. Perpindahan masyarakat desa ke kota dinilai satu keberhasilan. Dahulu ketika ada anak desa yang hijriah (pindah) dari desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, kuliah di Perguruan Tinggi merupakan kebanggaan tersendiri, menjadi marwah mengangkat status sosial keluarga.
Meskipun pada sisi lain tidak mudah menjadi masyarakat urban, sebab sudah pasti terputus dengan saudara, famili, sanak keluarga di kampung. Lantas sudah pasti akan timbul rasa rindu ingin bertemu mereka di kampung. Rasa rindu itu semakin menggebu-gebu ketika tiba Hari Raya Idul Fitri. Mengobat rasa rindu itu harus bertemu dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Tidak ada jalan lain selain mudik.
Awal tradisi mudik dikaitkan dengan Hari Raya Idul Fitri pada dasawarsa tahun 1970-an. Awalnya dari Kota Jakarta sebab menjadi kota besar impian semua rakyat Indonesia. Kala itu Jakarta mengalami kemajuan luar biasa yang dipimpin Gubernur Ali Sodikin (1966-1977). Kini mudik bukan saja dari Jakarta tetapi dari berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Medan dan lainnya. Namun, Jakarta masih menjadi pusat mudik di Indonesia.
Jakarta menjadi sentral mudik di Indonesia dan kota lain sebagai pendukung. Alasan mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri karena menjadi ajang silaturahmi dengan sesama sanak keluarga dalam dimensi keagamaan. Jika dahulu masyarakat urban di Jakarta mudik karena rindu sanak saudara di kampung kini ditambah ajang silaturahmi.
Mudik ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri menjadi legitimasi menekankan seolah-olah Hari Raya Idul Fitri bersilaturahmi dan berziarah. Kini mudik bukan saja dari Jakarta tetapi dari berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Medan dan lainnya. Namun, Jakarta masih menjadi pusat mudik di Indonesia. Nah, itu sebabnya Jakarta menjadi sentral mudik di Indonesia dan kota lain sebagai pendukung.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata mudik bermakna pergi ke “udik” atau pulang ke kampung. Kata mudik berasal dari Bahasa Jawa yakni “mulih dhisik” yang artinya pulang dulu.
Dalam kehidupan sehari-hari mudik adalah aktivitas masyarakat perantau ingin kembali ke kampung. Aktivitas mudik ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Mudik ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri sangat fenomenal sebab dilakukan ribuan orang bahkan jutaan orang.
Akibatnya timbul beberapa masalah, para pemudik kesulitan mendapatkan transport untuk mudik. Para pemudik berdesak-desakkan di kareta api, berjubel di terminal bus. Imbasnya kemacetan panjang di jalur yang dilalui para pemudik. Berbagai jenis kendaraan memenuhi jalur mudik, mulai sepeda motor, mobil, bus dan beca bermotor. Semangat besar para pemudik sehingga resiko dalam perjalanan kurang diperhatikan.
Kini mudik cenderung untuk memperoleh legitimasi sosial, pemudik ingin menunjukkan keberadaan (eksistensi) ketika menjadi masyarakat urban yang berhasil kepada saudara di kampung. Akhirnya mudik menyatakan bahwa pemudik telah berhasil di perantauan. Meskipun begitu yang ditampilkan ingin menjalin kasih sayang dengan orang-orang yang dikasihi di kampung.
Wajar jika kini mudik menjadi fenomena sosial karena melahirkan problem sosial tentang belum berhasilnya pemerintah melakukan pemerataan pembangunan. Kota-kota besar masih menjadi tumpuan harapan hidup masyarakat untuk masa depan. Hal ini disebabkan sistem pembangunan yang dilakukan pemerintah masih sentralistik yakni terpusat di Jakarta. Selama sistem pembangunan yang dilakukan pemerintah belum merata pada semua daerah maka mudik terus menjadi fenomena sosial.
Solusinya jika Jakarta bukan menjadi pusat segala-galanya dalam hidup masyarakat Indonesia maka jumlah pemudik akan berkurang. Bila pusat ekonomi tidak saja di Jakarta, juga pusat pendidikan tidak saja di Jakarta maka pemudik berkurang. Sistem sentralistik membuat jumlah urban semakin banyak maka ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri pemudik semakin banyak.
Tradisi mudik melahirkan problem kenyamanan dan keamanan ketika mudik, gangguan kelancaran lalulintas para pemudik ketika menjelasng Hari Raya Idul Fitri harus dicarikan solusinya. Jalur angkutan mudik dan balik harus nyaman dan aman para pemudik. Satu problem besar yang belum didapat solusinya. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan pihak-pihak tekait. Berbagai pihak yakni Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Daerah dan Kepolisian telah berupaya agar tradisi budaya tahunan berjalan lancar.
Disamping itu bila saja pemerintah berhasil menciptakan pemerataan pembangunan yang merata pada semua daerah dan sektor kehidupan yang berinbang maka jumlah pemudik terus turun jumlahnya dari tahun ke tahun. Sebaliknya jika jumlah pemudik setiap tahun terus meningkat maka berarti pemerataan pembangunan pada semua daerah di Indonesia belum terwujud.@
***
Penulis adalah Pemimpin Redaksi EGINDO.com dan mantan Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan