Nagoya | EGINDO.co – Penyelenggara Asian Games pada hari Sabtu (26 September) mengakui bahwa mereka “tidak puas” dengan penjualan tiket setelah terlihat banyak kursi kosong di stadion utama dan berbagai lokasi pertandingan lainnya di Jepang.
Lari cepat 100 meter merupakan salah satu sorotan utama dalam setiap ajang olahraga ini, namun Stadion Atletik Mizuho Park yang berkapasitas 30.000 penonton tampak hanya terisi sekitar seperempatnya pada Jumat malam saat berlangsungnya nomor-nomor bergengsi tersebut.
Bahkan potensi raihan medali emas lompat galah putri bagi atlet Jepang, Misaki Morota, tidak mampu menarik minat penonton tuan rumah dalam jumlah besar di awal akhir pekan tersebut.
Pihak penyelenggara Aichi-Nagoya Games menyatakan bahwa kurang dari 60 persen tiket telah terjual untuk delapan cabang olahraga, termasuk sepak bola, dengan jumlah yang sama belum terjual untuk upacara penutupan yang akan berlangsung delapan hari lagi.
“Kami tidak puas,” ujar Satoshi Murate, Sekretaris Jenderal panitia penyelenggara Asian Games, menanggapi pertanyaan dari AFP.
“Kami akan terus berupaya agar stadion penuh, terus menjual tiket, dan berupaya memastikan bahwa mereka yang telah mendapatkan tiket benar-benar hadir.”
Ia menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen tiket telah terjual untuk upacara pembukaan sepekan yang lalu, namun ia menilai ketidakhadiran penonton sebagai penyebab banyaknya kursi kosong saat para atlet melakukan defile dan penyalaan obor Asian Games.
“Secara keseluruhan, menurut saya angka penjualannya cukup baik,” ujarnya.
“Namun, memang ada sorotan mengenai banyaknya kursi kosong yang terlihat jelas pada beberapa pertandingan.”
“Ada beberapa alasan. Pertama, beberapa sesi mencakup sejumlah pertandingan dalam satu hari. Penonton cenderung hanya fokus pada pertandingan utama.”
Ia mengatakan bahwa tiket yang telah dibagikan kepada para pemangku kepentingan Asian Games, seperti sponsor, tidak selalu digunakan.
“Kursi sudah dialokasikan, namun ada orang-orang yang tidak bisa hadir.”
“Akibatnya, pada beberapa pertandingan memang terlihat banyak kursi kosong, dan hal itu kami sayangkan.”
Permintaan Maaf atas Kekacauan Teknis
Murate juga menyampaikan permintaan maaf atas kekacauan teknis terkait akomodasi dan transportasi. Sejumlah tim melontarkan kritik keras kepada pihak penyelenggara; Thailand mengibaratkan situasi ini sebagai permainan “kursi musik” yang kacau, sementara Korea Selatan menyatakan bahwa penyelenggara “layak mendapat nilai gagal”.
Masalah terbesar adalah kurangnya ketersediaan kamar bagi 17.000 peserta, sebuah persoalan yang diperparah oleh penundaan di bandara serta waktu tunggu hingga berjam-jam untuk naik ke kapal pesiar yang difungsikan sebagai hotel terapung.
Tidak ada perkampungan atlet konvensional yang dibangun, sebagai langkah penghematan biaya.
Sebagai gantinya, tim-tim peserta ditempatkan di hunian sementara berbentuk kontainer, hotel, dan kapal pesiar Costa Serena.
Layanan transportasi yang tidak menentu menyebabkan bus yang mengangkut atlet menuju lokasi latihan dan arena pertandingan sering terlambat datang atau bahkan tidak muncul sama sekali.
“Terdapat kesalahan terkait akomodasi dan transportasi yang disebabkan oleh berbagai faktor,” aku Murate.
“Apa pun penyebabnya, AINAGOC (panitia penyelenggara) bertanggung jawab atas penyediaan layanan tersebut, dan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan-kesalahan yang terjadi.
“Staf kami terus berupaya setiap hari untuk mengidentifikasi penyebab setiap kesalahan dan memastikan hal serupa tidak terulang kembali.”
Sumber : CNA/SL