Jepang Selidiki Bulan Mars untuk Ungkap Asal-Usul Tata Surya

Jepang Selidiki Bulan Mars
Jepang Selidiki Bulan Mars

Tanegashima Space Centre | EGINDO.co – Para ilmuwan Jepang sedang mempersiapkan misi ke bulan-bulan Mars untuk mengambil sampel yang dapat mengungkap asal-usul Tata Surya dan kehidupan di Bumi, meskipun misi saingan dari Tiongkok berupaya untuk kembali lebih dulu.

Misi tanpa awak *Martian Moons eXploration* (MMX), yang dijadwalkan meluncur dari Pusat Antariksa Tanegashima dalam beberapa bulan mendatang, juga dapat meletakkan dasar bagi kunjungan manusia ke planet merah tersebut.

Wahana antariksa ini, yang diperlihatkan kepada media pada Kamis lalu (13 Agustus), akan berada di orbit Mars selama sekitar tiga tahun dan akan mencoba mendarat di Phobos.

Wahana ini akan mengumpulkan setidaknya 10 gram material dari permukaan Phobos, sementara penjelajah (rover) IDEFIX—nama Prancis untuk anjing milik tokoh komik Asterix—akan melakukan pengamatan permukaan.

Wahana tersebut juga akan mengamati Deimos, bulan Mars lainnya—namun tanpa mendarat—sebelum kapsul pengembalian meluncur kembali ke Bumi untuk mendarat di Australia sekitar tahun 2031.

Dampak atau Penangkapan

Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) berharap misi ini akan mengungkap bagaimana Mars dan bulan-bulannya terbentuk, sebuah pengetahuan kunci dalam memahami bagaimana Tata Surya bermula.

Salah satu teori mengenai asal-usul bulan-bulan Mars—hipotesis “tumbukan raksasa” (*giant impact*)—menyatakan bahwa bulan-bulan tersebut terbentuk setelah sebuah benda langit bertabrakan dengan Mars.

Sementara itu, hipotesis “penangkapan” (*capture*) menduga bahwa bulan-bulan tersebut adalah asteroid dari bagian luar Tata Surya yang tertangkap oleh gravitasi Mars.

Menentukan teori mana yang benar akan membantu mengungkap “bagaimana lingkungan yang layak huni bagi kehidupan mungkin muncul di planet-planet kebumian (*terrestrial planets*),” ujar JAXA, merujuk pada empat planet berbatu yang paling dekat dengan Matahari—Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

“MMX akan memberikan pencerahan mengenai mekanisme transportasi yang membawa air, zat volatil, dan senyawa organik dari bagian luar Tata Surya ke wilayah planet berbatu di bagian dalam—proses yang mungkin memainkan peran kunci dalam menjadikan dunia-dunia ini layak huni,” kata Patrick Michel, seorang astrofisikawan Prancis yang terlibat dalam proyek IDEFIX.

“Jika Phobos dan Deimos memang merupakan sisa-sisa dari sistem pengiriman awal ini, keduanya mungkin menyimpan petunjuk mengenai asal-usul kehidupan itu sendiri, atau lebih tepatnya, mengenai transportasi material yang menjadi kunci munculnya kehidupan di planet-planet berbatu,” ujarnya kepada AFP. JAXA menyatakan bahwa misi ini juga akan menjajaki kemungkinan memanfaatkan Phobos sebagai “stasiun luar angkasa alami” dengan mengembangkan teknologi yang diperlukan untuk perjalanan pulang-pergi ke Mars—sesuatu yang “sangat penting bagi eksplorasi Mars berawak”.

Kaki Penopang untuk Misi Mars

MMX merupakan proyek kolaborasi yang melibatkan Pusat Studi Antariksa Nasional Prancis (CNES), Pusat Kedirgantaraan Jerman (DLR), NASA, dan Badan Antariksa Eropa (ESA), serta sejumlah universitas dan perusahaan teknologi.

Pengembangan kaki pendarat wahana antariksa ini tergolong sangat sulit karena gravitasi di Phobos sangatlah rendah, menurut Akinari Uehara, seorang insinyur Mitsubishi Electric.

“Kami harus mencegah wahana (penyelidik) itu jatuh terguling dengan cara merancang kaki yang mampu meredam benturan saat mendarat,” ujar Uehara.

Wahana nirawak Jepang, Smart Lander for Investigating Moon (SLIM)—yang dijuluki “Moon Sniper”—sempat terguling setelah mendarat di Bulan pada tahun 2024, namun tetap mampu mengirimkan data dan bertahan melewati beberapa periode malam bulan yang berlangsung selama dua minggu.

Jepang juga memiliki pengalaman dalam membawa pulang sampel dari luar angkasa; contohnya adalah misi nirawak Hayabusa-2 milik JAXA yang berhasil membawa kembali 5,4 gram batuan dan debu dari sebuah asteroid yang berjarak ratusan juta kilometer dari Bumi pada tahun 2020.

Perseverance

Namun, MMX bukan satu-satunya misi Mars yang berupaya membawa pulang material.

Wahana penjelajah (rover) Perseverance milik NASA, yang telah menjelajahi Planet Merah sejak tahun 2021, telah mengumpulkan sampel yang siap untuk dibawa kembali ke Bumi.

Akan tetapi, misi tersebut pada praktiknya telah dibatalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump menyusul pemungutan suara di Kongres AS pada bulan Januari.

Tiongkok juga telah mengumumkan rencana peluncuran wahana antariksa Tianwen-3 sekitar tahun 2028, yang akan membawa pulang sampel Mars ke Bumi sekitar tahun 2031—kemungkinan lebih awal dibandingkan misi pengembalian sampel MMX.

Misi Tianwen-1 milik Tiongkok telah berhasil mendaratkan wahana penjelajah bernama Zhurong di permukaan Mars pada tahun 2021, yang menjadi salah satu keberhasilan paling spektakuler dalam program antariksa Beijing.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top