Jembatan Cinta, Menyambut Selamat Datang di Pulau Tidung

Firma Total Solution (FTS) dan Dekarbon Nusantara Unggul (DNU)
Firma Total Solution dan Dekarbon Nusantara Unggul di dermaga Marina Ancol Jakarta Utara

Catatan: Fadmin Malau

MENDUNG, menutupi Jakarta Utara, gerimis mengundang rasa malas. Matahari pagi Jum’at (12/1/2024) bersembunyi di balik awan cummulus, enggan menampakkan diri. Namun, para wisatawan yang akan berlayar ke Pulau Tidung di Kepuluan Seribu tidak menghiraukannya, tetap semangat untuk berlayar. Saat itu EGINDO.co akan mengunjungi pulau wisata, Pulau Tidung bersama Firma Total Solution (FTS) dan Dekarbon Nusantara Unggul (DNU) untuk mengadakan “Employee Gathering” selama dua hari dari Jum’at (12/1/2024) hingga Sabtu (13/1/2024) di Pulau Tidung yang merupakan adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Kapal Motor (KM) Bark Pearl dengan kapasitas 160 penumpang bersandar di dermaga 16 Morina Ancol. Cuaca mendung dan angin utara berhembus membuat gelombang laut tinggi, kapal memecah gelombang menuju Pulau Tidung dan penumpang tak nyaman tidur dan memandang laut yang mendung sebab guncangan kapal membuat beberapa penumpang harus menahan rasa mual. Tidak ada pilihan, harus bertahan untuk sampai ke pulau yang akan dituju, Pulau Tidung.

Selamat Datang di Pulau Tidung

Selepas mengharungi lautan luas, Pulau Tidung ditemukan, kapal berlabuh di dermaga Pulau Tidung, di depannya terbentang Jembatan Cinta sepanjang 800 meter sebagai penghubung Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Namanya pulau tentu angin berhembus tiada henti, suasana romantis ikon wisata di Pulau Tidung dengan Jembatan Cinta yang konon katanya dahulu tempat sepasang kekasih yang memadu cinta dikala matahari terbit. Kapal merapat puluhan pengemudi becak motor berdatangan ke pelabuhan menjemput pendatang.

Baca Juga :  Jokowi: Pemerintah Terus Negosiasi Pembebasan Pilot Susi Air

Pulau Tidung seluas 54 hektare itu adalah yang terluas di Kepulauan Seribu yang berlokasi di bagian barat dan dihuni 4.900 jiwa penduduk. Pulau terluas itu juga dari Jakarta bisa ditempuh tempuh sekitar tiga jam berlayar dari Muara Angke dan satu jam dengan KM Bark Pearl dari Marina, Ancol Jakarta Utara.

Puluhan pengemudi becak motor berdatangan ke dermaga menjemput pendatang, menuju gerbang Jembatan Cinta melintasi jalanan bersusun batako selebar tiga meter yang diapit rumah penduduk, cafe dan penginapan. Meskipun begitu menjejakkan kaki di dermaga Pulau Tidung, terhampar Jembatan Cinta, para wisatawan umumnya terlebih dahulu menuju penginapan sebab telah lelah bergoyang dengan gelombang.

Deburan ombak dan disambut angin laut menerpa dedaunan di sepanjang bibir pantai yang indah wisatawan memilih beristirahat sejenak di penginapan, baru kemudian beranjak ke Jembatan Cinta dan tidak hanya menapaki lantai Jembatan Cinta yang di bawahnya terlihat ikan-ikan berenang lincah dan terumbu karang yang indah. Jembatan cinta yang dibangun pada tahun 2005 itu dibuat narasi bernuansa mitos yakni jika meloncat dari jembatan akan menemukan cinta sejati. Ah, masak iya? Yang benar dan faktanya banyak wisatawan percaya dan melakukannya dengan melombat, menceburkan diri ke laut yang jernih dan tenang itu. Pada hal jembatan itu tingginya delapan meter, tetap saja ingin melombat ke laut.

Baca Juga :  Biden Akan Melepaskan 15 Juta Barel Dari Cadangan Minyak AS
Jembatan Cinta

Cerita awalnya Jembatan Cinta itu dibuat untuk penghubung yang bentuknya terapung berbahan kayu dengan drum di bawahnya yang diikat tali besi berbentuk garis lurus. Kondisinya tidak nyaman dan aman, lalu pada tahun 2008, jembatan itu dibangun dengan kayu tancap. Ternyata tidak bertahan lama, Jembatan Cinta ambruk dan dibangun lagi tahun 2012, jembatan itu kini dengan lantai beton yang pasti akan kuat dan bertahan lama.

Jembatan Cinta, pastinya mitos. Tidak ditemukan catatan sejarah mengapa menjadi namanya Jembatan Cinta. Memang dari alam yang ada memancarkan romantisme masa lalu dan masa kini pasti orang suka selfi-selfi atau berfoto ria. Sudah pasti sebab dari jembatan itu bisa menikmati sinar matahari dengan cahaya yang berubah warna dari kemerahan saat terbit di pagi hari, dan terang benderang di siang hari, serta meredup keemasan pada petang hari.

Baca Juga :  Jumat Ini, Samsat Keliling Di 14 Wilayah Jadetabek

Ceritapun tercipta, romantisme menjadi Jembatan Cinta. Namun, dari penyelusuran EGINDO.co dahulu Pulau Tidung besar dan Pulau Tidung kecil itu dipisahkan selat maka dibangunlah jembatan.

Awal keinginan membangun jembatan disebabkan dahulu ada penghuni Pulau Tidung besar dan Pulau Tidung kecil. Sudah pasti sulit berhubungan karena dipisahkan selat, dengan dibangunnya jembatan akan mudah berhubungan. Apakah karena penghuni di Pulau Tidung besar dan Pulau Tidung kecil bertemu di atas jembatan dan muncul rasa senang atau rasa cinta maka disebut Jembatan Cinta. Boleh jadi begitu. Selain Jembatan Cinta yang menyambut datangnya para wisatawan ke Pulau Tidung, apa lagi yang ada di pulau itu? Bila mau tahu, ikuti kelanjutan tulisan ini besok tentang Pulau Tidung. (BERSAMBUNG)

***

Bagikan :