Jelang RDG, Konsensus Ekonom Sebut BI Rate Tetap 5,75 Persen

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/1/2023).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/1/2023).

Jakarta|EGINDO.co Ekonom memproyeksikan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di 5,75 persen dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) siang ini, Kamis (24/8/2023).

Menurut konsensus ekonom Bloomberg, sebanyak 28 dari 30 lembaga yakin Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di level 5,75 persen.

Sementara 2 lembaga lainnya, yaitu ING Bank dari Filipina dan PT Bahana Sekuritas memproyeksikan suku bunga acuan akan dikerek naik sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.

Ekonom PT Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengungkapkan bahwa BI perlu melakukan pengetatan untuk menstabilkan rupiah karena defisit transaksi berjalan dan posisi cadangan devisa yang lebih buruk dari perkiraan.

Selain itu, dia menilai keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dan pensiunan berpotensi menaikkan inflasi. Pasalnya, upah sektor publik cenderung memiliki korelasi dengan IHK inti.

Baca Juga :  Garuda Indonesia Buka Kembali Rute Tokyo-Denpasar

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun di atas 4 persen menjadi angka standar baru di masa mendatang.

“Karena mata uang negara berkembang seperti CNY dan KRW melemah terhadap dollar, maka akan ada tekanan depresiasi tertimbang perdagangan terhadap IDR.

Dalam hal ini, BI perlu menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (24/8/2023).  BI7DRR Bertahan di Level 5,75 Persen Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri (BMRI) Andry Asmoro melihat BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di tingkat 5,75 persen saat kondisi rupiah yang melemah.

“Saya meyakini BI masih menahan suku bunga acuan di 5,75 persen karena inflasi yang rendah,” katanya kepada Bisnis, Rabu (23/8/2023).

Menurutnya, volatilitas rupiah saat ini bersifat temporer karena sentimen Fed Fund Rate (FFR) yang diprediksi naik pada September 2023. Nantinya setelah mencapai puncaknya, Andry melihat dolar akan kembali melemah. Senada dengan Andry, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan level suku bunga yang sudah bertahan sejak Januari 2023 tersebut masih akan konsisten pada 5,75 persen dan cukup dalam rangka menjaga stabilitas inflasi dan rupiah.

Baca Juga :  Swasembada Gula Nasional Harus Libatkan Para Petani

“Stabilitas rupiah di tengah sentimen risk off mempengaruhi pasar keuangan negara berkembang termasuk pasar keuangan domestik. Dengan upaya stabilisasi rupiah, diharapkan akan membatasi dampak imported inflation sehingga pada akhirnya ekspektasi inflasi akan tetap terkendali,” ungkapnya, Rabu (23/8/2023).

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. atau Bank BCA (BBCA) David Sumual menyebutkan alasan kuat BI untuk menahan suku bunga acuan yakni kondisi inflasi terakhir pada Juli 2023 yang semakin mendekati nilai tengah target pemerintah dan BI, yaitu 3,0±1 persen.

Selain itu, Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Banjaran Surya Indrastomo juga memprediksi hasil RDG hari ini masih akan menjaga suku bunga acuan di tingkat 5,75 persen.

Baca Juga :  Korut Menembakkan Beberapa Rudal Jelajah Ke Arah Laut Kuning

Banjaran menyebutkan bahwa beberapa indikator perekonomian dalam negeri sesuai dengan target dan kondisi perekonomian domestik cenderung kondusif, namun ketidakpastian ekonomi global menurunkan optimisme investor.

Salah satu yang menjadi concern dari pelaku pasar adalah spread antara BI rate dan Fed Rate yang tipis. Sedangkan Fed Rate diproyeksikan akan naik 25 bps menjadi 5,75 persen pada September mendatang.

“Namun, kemungkinan besar BI tidak akan tergesa untuk menaikkan suku bunga acuan meskipun akan berada di level yang sama dengan The Fed.

Kami melihat upaya BI akan lebih diarahkan kepada meningkatkan yield obligasi pemerintah khususnya di tenor jangka pendek untuk menarik para investor,” ujarnya.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :