JAPFA, Protein Hewani, Berkomitmen Generasi Bebas Stunting

Zoom Metting bersama Japfa
Zoom Metting bersama Japfa

Oleh: Fadmin Malau

PERUSAHAAN penyedia protein hewani berkualitas, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA), melalui unit kerja di Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara (Sumut) berkomitmen mendukung pemerintah membebaskan generasi dari stunting dengan program bertema Penuhi Asupan Protein Hewani, Sambut Generasi Bebas Stunting. Dalam media Gathering Daring, Rabu 13 Juli 2022 lalu JAPFA, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Prof. Dr. Ir. Evawany Yunita Aritonang memaparkan mencegah stunting dengan asupan protein hewani berkualitas.

Tegasnya Evawany Yunita Aritonang, stunting berdampak jangka panjang dan terhambatnya pertumbuhan ekonomi suatu negara, untuk itu membebaskan stunting bagi generasi mendatang menjadi penting dilakukan semua pihak.

Menurutnya, penyebab stunting karena masalah gizi kronis pada bayi dibawah lima tahun (balita) akibat kurang asupan protein hewani dalam waktu lama. Penelitian telah membuktikan katanya kekurangan asupan protein berhubungan dengan risiko stunting.

Dalam kesempatan Media Gathering Daring itu, Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya mengatakan dalam upaya pencegahan stunting, JAPFA memastikan ketersediaan produk protein hewani kualitasnya terjaga dan aman.

PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk perusahaan agri-food penghasil protein hewani terbesar, berkualitas dan terpercaya sejak tahun 1975 di Indonesia. Memiliki jaringan distribusi dan keagenan tersebar di seluruh Indonesia serta terus menciptakan formulasi pakan ternak berkualitas, bibit ternak unggul, peternakan ayam broiler, ikan, udang, sapi potong dan produk-produk makanan olahan yang menyeluruh dan terintegrasi.

Protein hewani seperti telur yang sangat dibutuhkan masyarakat dan bila harga telur naik maka menjadi masalah di Indonesia maka PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) pada dasarnya mendukung pemerintah dalam penyediaan produksi telur ayam nasional, membantu menstabilkan harga telur ayam pada tingkat peternak. Tujuannya untuk mendukung peningkatan konsumsi protein hewani bagi masyarakat Indonesia.

Program penyerapan telur nasional merupakan salah satu langkah harus didukung oleh berbagai pihak untuk memperbaiki harga telur nasional. Sebagai perusahaan agribisnis nasional memproduksi beragam jenis protein hewani, JAPFA berkomitmen untuk terus berjalan beriringan bersama seluruh pemangku kepentingan dalam membangun industri peternakan di Indonesia.

Dr. Rusli Tan, SH, MM doktor ekonomi dan praktisi pada dunia peternakan

Dalam kesempatan terpisah Dr. Rusli Tan, SH, MM seorang doktor ekonomi dan praktisi pada dunia peternakan kepada EGINDO.co Sabtu (3/9/2022) di Jakarta mengatakan tidak mudah untuk meningkatkan jumlah produksi telur ayam dalam waktu dua pekan agar harga telur ayam turun atau tidak mahal sebagaimana yang dikatakan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dalam siaran persnya.

Menurut Rusli Tan untuk menjadikan ayam bertelur paling cepat lima bulan yakni dari anak ayam hingga ayam tersebut bisa bertelur, jadi tidak mungkin dalam waktu dua minggu bisa direalisasikan. Kemudian harus diperhatikan harga pakan ternak yang tidak stabil, harga jagung, harga dedak, harga tepung ikan yang semua pada naik, semua pada mahal, “Kalau soal berternak ayam saya sudah berpengalaman, saya berani berargumentasi bagi siapa saja, bagaimana caranya meningkatkan produksi ternak ayam. Bila asal-asalan produksi telur ayam bisa anjlok,” kata Rusli Tan.

Baca Juga :  Bank Pemerintah China Beli Dolar Menyeret Yuan Lebih Rendah

Menurutnya, harga pakan ternak yang mahal selalu menjadi masalah bagi para peternak dan masalah itu timbul dari berbagai faktor seperti faktor naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sekarang ini akan mempengaruhi harga pakan ternak, “Harusnya masalah peternakan diatasi dengan membenahi semua faktor-faktor yang mempengaruhi produksi telur. Hal itu karena telur merupakan kebutuhan utama masyarakat dalam memenuhi protein. Penting memenuhi protein hewani agar generasi mendatang bebas dari stunting,” kata Rusli Tan memberikan alasan.

Rusli Tan mengatakan pemanggilan perusahaan besar yang menguasai pasar ayam pedaging atau ayam potong di Indonesia oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan untuk dimintai upaya agar bisa menaikan harga ayam pada kelas peternak yang anjlok adalah boleh-boleh saja akan tetapi para pengusaha besar telah berbuat semaksimal mungkin agar produksi ayam tetap tersedia dengan harga terjangkau.

Menurut Rusli Tan kalau hanya untuk harga ayam pedaging murah tidak sulit karena ada teknologi cold storage maka simpan saja di cold storage ayam pedaging itu. Artinya, ayam-ayam pedaging dari peternak tetap dibeli atau terjual sehingga harga ayam pedaging pada peternak tetap terjaga, tetap harganya stabil. “Menteri perdagangan cukup meminta pengusaha untuk membeli ayam pedaging dan menyimpannya di cold storage,” kata Rusli Tan.

Ditegaskannya sangat mudah, ayam dimasukkan ke cold storage atau boleh dalam bentuk gading yang dimasukkan ke cold storage hal itu tergantung kondisi. “Kalau di pasar basah ayam pedaging yang dibeli masyarakat itu umumnya dengan berat maksimal 1,2 kilogram, bila berat ayam pedaging diatas 1,2 kilogram masyarakat tidak mau lagi membelinya. Artinya tidak ada pembeli ayam pedaging di pasar basah maka perusahaan yang membelinya sebab bisa dimasukkan kedalam cold storage sehingga harga ayam pedaging stabil,” kata Rusli Tan dan meyakini apa yang dikatakannya itu sudah dilakukan para pengusaha agri-food penghasil protein hewani dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat.

Sementara itu Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya mengatakan ada program pembelian telur peternak rakyat agar membantu memperbaiki harga pada tingkat peternak dan mengurangi efek fluktuasi harga yang dapat merugikan peternak. Selain itu sebagai upaya mengkampanyekan konsumsi makanan berprotein hewani, baik itu telur, susu, ikan, ayam, dan daging sapi untuk meningkatkan permintaan konsumen akan produk-produk pangan hewani. “Semua upaya tersebut merupakan kontribusi nyata JAPFA bagi bangsa Indonesia. Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak terkait lainnya untuk menjadikan negara kita ini menjadi semakin kuat dan berkembang,” kata Rachmat.

Baca Juga :  Gempa Berkekuatan 7,0 Magnitudo Mengguncang Meksiko

Menurut Rachmat, upaya menjaga kesegaran bahan baku daging dan ikan, JAPFA menggunakan teknologi cold storage, serta mengaplikasikannya sesuai standar keamanan pangan domestik dan global. Proses penting itu dijalankan dengan disiplin dan pengawasan yang ketat untuk memastikan kandungan protein daging dapat terjaga saat sampai di tangan konsumen.

JAPFA katanya konsisten menyediakan beragam produk kaya akan protein hewani dengan harga terjangkau. Produk yang disediakan mulai dari produk protein hewani yang belum diolah sampai dengan makanan olahan. Bentuk produk yang dihasilkan seperti daging ayam, daging sapi, udang, eel atau sidat dan ikan tilapia atau nila serta hasil olahan seperti chicken nugget, sosis, pempek dan otak-otak.

Target JAPFA berharap dapat memacu kontribusi dalam mengangkat peringkat ketahanan pangan Indonesia pada tingkat yang lebih baik melalui penyediaan produk protein hewani yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat hingga generasi Indonesia mendatang bebas dari stunting.

“Stunting menjadi tugas dan tanggungjawab semua masyarakat Indonesia, bukan hanya tugas pemerintah semata dan JAPFA sebagai pihak swasta aktif mempromosikan konsumsi gizi seimbang melalui peningkatan konsumsi protein hewani,” kata Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya menegaskan.

dr. Rizali H Nasution DAN (tengah) bersama kader Posyandu Melati I, Lingkungan I, Kelurahan Menteng, Medan Denai Provinsi Sumatera Utara, memastikan berat bayi sesuai dengan usianya

Tentang stunting menurut ahli gizi, dr. Rizali H Nasution, DAN pada Kamis (1/9/2022) di Jalan Senayan Nomor 4 Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjawab pertanyaan EGINDO.co bahwa secara medis, stunting bukan disebabkan faktor keturunan tetapi stunting faktor perilaku, faktor lingkungan, faktor sosial, ekonomi, budaya dan pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat.

Dokter spesialis gizi itu mengatakan stunting masalah kurang asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak mulai dari tinggi badan anak lebih rendah atau pendek atau kerdil dari standar usianya. Namun, stunting bukan sekadar kurang gizi akan tetapi ada faktor lingkungan, faktor pola asuh anak dan kondisi sanitasi serta ketersedian air bersih.

Untuk itu dr. Rizali H. Nasution, DAN menilai sangat penting mengonsumsi protein hewani sebagai upaya pencegahan stunting. Hal itu karena belum ada zat gizi yang menggantikan peranan protein dalam membantu pertumbuhan dan proses regenerasi sel tubuh manusia. “Protein hewani mengandung lebih lengkap dan lebih banyak asam amino esensial dan itu dibutuhkan oleh tubuh manusia. Apa bila kekurangan konsumsi protein hewani dapat menyebabkan stunting,” katanya.

Baca Juga :  Mitsui Akuisisi Saham $5.3 Miliar di Proyek Bijih Besi Rio Tinto

Dari faktor penyebab stunting maka generasi mendatang Indonesia seharusnya dapat bebas dari stunting yakni dengan memperbaikan faktor-faktor penyebab stunting itu sendiri. Tegasnya, stunting berkaitan dengan masalah gizi dan solusinya asupan gizi yang diperoleh si anak yakni memenuhi sumber protein hewani dan dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

Dijelaskannya, faktor penyebab stunting diantaranya kurang gizi dalam waktu lama. Hal itu bisa terjadi tanpa disadari. Anak bisa kurang gizi sejak dalam kandungan. Hal itu karena sang ibu tidak memiliki akses terhadap makanan sehat dan bergizi sehingga janinnya kekurangan nutrisi. Rendahnya asupan vitamin dan mineral yang dikonsumsi ibu memengaruhi kondisi malnutrisi janin.

Perawatan pasca melahirkan dianggap perlu untuk mendeteksi gangguan yang mungkin dialami ibu dan anak pasca persalinan. Disamping itu saat kehamilan, seorang ibu tidak boleh mengalami tekanan mental karena akan berpengaruh pada kondisi kesehatan anak yang dikandung. Jika seorang ibu mengalami gangguan mental dan hipertensi dalam masa kehamilan, risikonya anak bisa menderita stunting.

Menurut Rizali H. Nasution, stunting harus dilihat sebelum kelahiran bayi. Artinya bagi ibu hamil perlu mendapat perhatian sebab akan memengaruhi kondisi usapan gizi bagi calon bayi. Ibu yang sehat akan melahirkan anak yang sehat maka pemberian gizi yang baik, terpenuhi protein hewani bagi ibu sangat penting. Ibu rumah tangga berperan menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. “Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia maka dari itu harus mengenal Stunting dengan baik dan benar, semua orang tanpa terkecuali, bukan hanya paramedis,” kata Rizali H Nasution menegaskan.

Apa yang ditegaskan dr. Rizali H Nasution, DAN bahwa semua orang tanpa terkecuali harus mengenal Stunting dengan baik dan benar, bukan hanya paramedis maka hal itu direspon baik oleh JAPFA dimana Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya pada siaran persnya menyebutkan pihaknya dalam berbagai kegiatan selama ini telah berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara pada semua situasi termasuk situasi sulit ketika pandemi Coronavirus (Covid-19) melanda dunia termasuk Indonesia. “Kami telah melakukan aksi untuk membantu pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, bersinergi dalam mengatasi pandemi Covid-19,” kata Rachmat.

Begitu juga pada saat Hari Pangan Sedunia setiap tahun, PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk terus berkomitmen menyediakan bahan makanan protein hewani untuk mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia. Upaya yang dilakukan perusahaan, menurut Rachmat seperti menjamin keamanan dan kualitas daging ternak mulai dari penyembelihan dengan menerapkan metode Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).

Untuk itu JAPFA ingin menjadi perusahaan penyedia bahan makanan protein hewani untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat Indonesia sehingga dengan pemenuhan protein hewani dapat membebaskan generasi Z atau Gen Z, generasi Milinial sebagai generasi harapan bangsa Indonesia mendatang bebas dari Stunting.

***

 

Bagikan :
Scroll to Top