Jakarta Siaga Lonjakan Kasus

Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan cairan disinfektan di tempat isolasi mandiri di Graha Wisata Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (27/12/2020).

Jakarta | EGINDO.com     — Lonjakan kasus Covid-19 di Ibu Kota diantisipasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta dengan menyiapkan 34 lokasi isolasi terkendali dan penginapan bagi tenaga kesehatan. Ke-34 tempat baru itu menambah tiga lokasi yang lebih dulu ditetapkan.

Fify Mulyani, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Senin (7/6/2021), menjelaskan, penyiapan lokasi baru itu tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 675 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Keputusan Gubernur Nomor 979 Tahun 2020 tentang Lokasi Isolasi Terkendali Milik Pemprov DKI Jakarta dalam Rangka Penanganan Covid-19.

Dalam kepgub tersebut, tertulis ada 37 lokasi. Tiga lokasi sudah ditetapkan melalui Kepgub No 979/2020, sisanya 34 lokasi baru ditetapkan dalam kepgub yang baru tersebut.

Dari 37 lokasi itu, untuk lokasi isolasi terkendali ditetapkan di 31 lokasi dengan kapasitas tampung 8.249 orang. Sisanya, enam lokasi sebagai lokasi penginapan bagi tenaga kesehatan dengan total kapasitas 835 orang. Adapun lokasi baru itu mulai dari gedung sekolah, hotel, gedung olahraga, hingga masjid raya.

Untuk penggunaan lokasi baru sebagai lokasi isolasi terkendali, kepgub tersebut mengatur penggunaan dalam tiga tahap. Tahap 1 menggunakan lima lokasi dengan total kapasitas 607 orang, yakni di Graha Wisata TMII, Graha Wisata Ragunan, Hotel Grand Mansion Menteng, Pusdiklat Gulkarmat Ciracas, dan Masjid Raya KH Hasyim Ashari.

Tahap 2 menggunakan tujuh lokasi dengan total kapasitas 6.648 orang. Sementara tahap 3 menggunakan 19 lokasi dengan kapasitas total 994 orang.

Meski menyediakan lokasi baru, sampai hari ini DKI Jakarta masih mengandalkan Wisma Atlet yang difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

”Penyediaan lokasi baru itu untuk mengantisipasi jika terjadi lonjakan kasus. Apabila tingkat keterisian di Wisma Atlet sudah lebih dari 80 persen, baru tempat isolasi yang disiapkan Pemprov DKI digunakan,” ujarnya.

Dari catatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, untuk penambahan kasus positif harian pada dua hari terakhir lebih dari 1.000 kasus. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia menjelaskan, pada 6 Juni 2021, dari tes PCR terhadap 10.893 spesimen dari 7.625 orang, didapati 1.019 kasus positif dan 6.606 kasus negatif.

 

Pada 5 Juni 2021, dari tes PCR kepada 10.605 orang, sebanyak 1.317 kasus positif dan 9.288 kasus negatif. Sementara pada 4 Juni 2021, dari tes PCR kepada 9.829 orang, 906 kasus positif dan 8.923 kasus negatif.

Penambahan kasus positif di DKI Jakarta salah satunya berasal dari kluster di permukiman yang muncul seusai Idul Fitri. Kluster permukiman tersebut, di antaranya, di Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur; di Bambu Apus, Cipayung; dan di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Adapun di Jakarta Utara, ada kluster Ciracas dan Semper Barat di Cilincing. Kamudian di Kayu Putih di Pulogadung, Jakarta Timur, dan di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Penambahan kluster penularan juga terjadi di tetangga Jakarta, yaitu Tangerang dan Tangerang Selatan di Banten. Sebanyak 33 warga Kelurahan Gandasari, Jatiuwung, Kota Tangerang, Banten, yang berprofesi sebagai buruh pabrik terkonfirmasi positif Covid-19.

Kluster permukiman buruh itu diketahui setelah warga Gandasari menjalani tes Covid-19 pada Jumat dan Sabtu (4-5/6/2021). Sebanyak 31 warga terkonfirmasi positif dan sebagian di antaranya kini dirawat serta sebagian lagi menjalani isolasi mandiri.

Seusai meninjau lokasi, Senin, Wakil Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Brigadir Jenderal (Pol) Hendro Pandowo mengatakan, jajarannya menutup wilayah RT 001 RW 003 dan melakukan tes Covid-19 kepada semua warga.

 

Kluster ini menambah panjang kluster yang bermunculan pascalibur Lebaran di Jabodetabek. Kasus terkini ialah 63 warga RW 006 Kelurahan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kluster penularan ini diketahui setelah seorang warga sakit seusai kerja bakti dan makan bersama.

Di Tangerang Selatan, laporan harian Rumah Lawan Covid-19 mencatat ada 90 pasien yang masih menjalani isolasi mandiri hingga kemarin. Jumlah tersebut naik dari 30 pasien sebelum Lebaran.

”Jumlah pasien selalu naik setelah liburan. Setelah libur Lebaran ini, setiap hari rata-rata 10 orang yang masuk. Sebagian besar merupakan asisten rumah tangga yang mudik sebelum atau setelah Lebaran. Sampai hari ini masih ada majikan yang tanya tempat tidur isolasi mandiri,” ucap Koordinator Rumah Lawan Covid-19 Suhara Manullang.

Di kota ini, sebelumnya telah muncul kluster keluarga dengan tujuh anggota di RT 007 RW 005 Jurangmangu Timur, Pondok Aren, yang terkonfirmasi positif.

Perbanyak pengetesan

Kluster Pondok Pesantren Bina Madani, Harjasari, Bogor Selatan, Jawa Barat, bertambah 33 kasus baru positif sehingga total menjadi 65 kasus. Pemerintah Kota Bogor fokus menangani kasus kluster ini dengan upaya tracing, treatment, dan testing (3T). Pemkot Bogor juga menjamin kebutuhan harian penghuni pesantren agar mereka tidak keluar masuk.

”Seperti di kluster perumahan Bubulak. Kami fokus pada penanganan di Pondok Pesantren Bina Madani dengan upaya maksimal 3T. Sebelumnya ada 32 santri yang positif. Lalu, kami segera menggelar tes usap PCR seluruh penghuni sebanyak 453 orang. Hasilnya 33 kasus positif baru sehingga total 65 kasus,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya saat berkunjung ke Redaksi Harian Kompas di Menara Kompas, Jakarta Pusat, kemarin.

Berdasarkan data pembaruan Dinas Kesehatan Kota Bogor, kemarin, ada penambahan konformasi positif harian 39 kasus termasuk dari Bina Madani. Total terkonfirmasi positif selama pandemi mencapai 16.325 kasus. Sebanyak 10.731 kasus positif hasil dari pelacakan kontak erat.

Dari pemberitaan Kompas.id, 9 Febuari 2021, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemeriksaan spesimen harus dikejar dalam waktu paling lama 72 jam setelah hasil konfirmasi positif keluar. Hal itu bertujuan agar identifikasi penularan serta pelacakan kontak erat bisa cepat dilakukan sehingga tindakan yang diperlukan juga dapat cepat diterapkan. Dengan proses ini, laju penularan diharapkan bisa ditekan agar pandemi dapat diatasi dengan baik.

Jika merujuk pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satgas Covid-19 harus melacak kontak erat 1 : 1.000 penduduk per minggu. Target yang ditetapkan untuk rasio kontak erat yang dilacak per satu orang positif adalah 10-30 orang.

Menurut perkiraan epidemiologi, jumlah kasus aktif pada 2021 di Indonesia mencapai 1,7 juta kasus. Apabila pelacakan dilakukan pada 15 kontak erat, ada sekitar 25 juta orang yang harus diperiksa terkait Covid-19.

Khusus untuk Kota Bogor dengan penduduk 1.043.000 orang, seharusnya ada 1.000 lebih penduduk dites Covid-19 per minggu. Untuk kasus terbaru 39 orang terkonfirmasi positif, dengan mengambil angka media standar WHO, seharusnya ada 15 kontak erat diperiksa untuk setiap satu kasus positif yang berarti minimal ada 585 kontak erat yang harus diperiksa oleh satgas.

Sumber: Kompas.com/Sn