Jadilah Tua-Tua yang Dicatat Sejarah

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si

Catatan Pinggir Wilmar Eliaser Simandjoran

Kita tidak kekurangan Tua-Tua. Kita kekurangan Tua-Tua yang marsahala. Dalam khazanah Batak, sahala tidak sekadar berarti pengaruh. J. Warneck mengaitkannya dengan kemuliaan, hikmat, kecakapan, wibawa, serta kekuasaan atau otoritas. Karena itu, marsahala menunjuk pada kualitas pribadi yang membuat seseorang dipercaya, dihormati, dan mampu menggunakan kewibawaannya bagi kebaikan bersama.

Jabatan bisa diberikan. Gelar bisa disandang. Tetapi marsahala tidak diwariskan. Ia tumbuh dari kepercayaan dan dibuktikan melalui keteladanan.

Dalam peradaban Batak, Tua-Tua tidak semata-mata lahir dari surat pengangkatan. Ia lahir dari kepercayaan: manat kepada dongan tubu, elek kepada boru, somba kepada hula-hula. Ketiganya adalah etika relasi yang menjaga keseimbangan kehidupan. Tetapi nilai itu baru bermakna apabila diwujudkan dalam sikap.

UJIANNYA: APAKAH KEHADIRANNYA MEMBERI MANFAAT?

Zaman menguji Tua-Tua ketika jabatan adat terseret ke panggung kepentingan dan nama besar digunakan untuk menguatkan golongan. Tugas Tua-Tua bukan memenangkan kelompok, melainkan menjaga persaudaraan tetap utuh. Bukan memperbesar api, tetapi memadamkannya sebelum membakar persaudaraan. Setelah api padam, ia bertanya: mengapa api itu menyala?

Ibarat tungku, Tua-Tua bukan apinya. Ia adalah batunya: tidak selalu menjadi pusat perhatian, tetapi menahan panas agar api memberi manfaat. Ia mempertemukan yang renggang, meneduhkan yang panas, meluruskan yang menyimpang, dan menjaga yang hampir pecah agar tidak hancur.

Di situlah marsahala diuji: apakah kewibawaan dipakai untuk menguasai atau untuk mengayomi?

TUA KARENA USIA, ATAU KARENA KETELADANAN?

Tidak semua yang tua telah menjadi Tua-Tua. Usia membuat seseorang tua. Jabatan membuat seseorang dituakan. Tetapi keteladanan membuatnya layak menjadi Tua-Tua. Jabatan membuat seseorang dituakan; keteladanan membuatnya menjadi Tua-Tua; marsahala membuatnya dikenang.

Lima puluh tahun dari sekarang, anak cucu mungkin tidak bertanya siapa pernah menjadi ketua. Mereka mungkin hanya bertanya: “Ompung itu dulu orangnya bagaimana?”

Jawabannya bukan terutama pada harta, sebab harta dapat habis. Bukan pada jabatan, sebab masa bakti berakhir. Bukan pula pada kelompok, sebab kelompok dapat berubah.

Yang tinggal adalah cerita: apakah ia menjadi peneduh ketika orang berselisih, mendengar sebelum menghakimi, dan menjaga kehormatan semua pihak? Terutama: apakah kehadirannya membuat huta lebih teduh atau lebih gaduh?

Pertanyaan itu bukan untuk menghakimi. Ia adalah cermin bagi kita semua. Sebab setiap orang yang menerima kepercayaan akan meninggalkan sesuatu: teladan atau pelajaran.

Maka jadilah Tua-Tua yang ketika namanya disebut, orang mengangguk hormat—bukan karena takut, bukan semata karena marga, dan bukan karena jabatan, melainkan karena marsahalanya.

Jadilah Tua-Tua yang kehadirannya menyatukan, perkataannya meneduhkan, dan kepergiannya meninggalkan kerinduan. Pada akhirnya, yang diwariskan bukan jabatan, melainkan nama: nama yang mengharumkan martabat atau nama yang meninggalkan jejak yang patut direnungkan dalam sejarah.

Kitalah yang memilih nama seperti apa yang kelak tinggal dalam cerita anak cucu. Wilmar Eliaser Simandjorang Di lereng Dolok Pusuk Buhit@

 ****

Scroll to Top