Surabaya|EGINDO.co Gejolak ekonomi dan volatilitas pasar keuangan dinilai belum mengikis daya tarik Indonesia bagi investor Amerika Serikat (AS). US-ASEAN Business Council (USABC) bahkan memasukkan Indonesia dalam kelompok negara VIP di Asia Tenggara, bersama Vietnam dan Filipina, yang menjadi destinasi utama investasi perusahaan-perusahaan AS.
Senior Director for Strategic Initiatives & ASEAN USABC Angga Antagia mengatakan, istilah VIP merupakan sebutan bagi tiga negara yang dinilai menjadi primadona investasi perusahaan Amerika di kawasan.
“Vietnam, Indonesia, Filipina. Jadi, tiga negara ini termasuk primadona untuk investasi perusahaan-perusahaan Amerika di Asia Tenggara,” ujar Angga seusai diskusi publik di Universitas Airlangga, Surabaya, Selasa (20/10/2026).
Menurut Angga, daya tarik Indonesia tercermin dari keberadaan perusahaan-perusahaan AS yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Salah satunya ExxonMobil, yang telah berbisnis di Indonesia selama satu abad.
Keberlanjutan investasi perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan utama penanaman modal AS di Asia Tenggara, meski menghadapi dinamika ekonomi domestik.
Data investasi memperkuat posisi tersebut. Realisasi investasi AS di Indonesia mencapai Rp259,9 triliun atau setara US$14,85 miliar selama 2020 hingga semester I/2025. Sementara itu, komitmen investasi perusahaan AS sepanjang 2020 hingga Januari 2026 tercatat sebesar Rp399,7 triliun atau US$22,84 miliar.
Kontribusi perusahaan AS juga terlihat dalam pengembangan ekosistem bisnis. Sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2026, sebanyak 43 perusahaan AS mengembangkan 91 inisiatif inovasi di Indonesia. Nilai ekonomi dari berbagai inisiatif tersebut, termasuk investasi, program sosial, hibah, dan produksi, diklaim mencapai Rp434 triliun atau US$24,8 miliar.
Kepastian Usaha Jadi Kunci
Menanggapi kekhawatiran mengenai pelemahan rupiah dan gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, Angga menilai pergerakan pasar bukan satu-satunya faktor penentu keputusan investasi.
Menurut dia, kepastian regulasi dan iklim usaha yang kondusif tetap menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan asing dalam menentukan arah penanaman modal.
“Selama ada kepastian dalam iklim usaha, selama ada opportunity, bisnis akan terus berekspansi. Bisnis akan mengikuti sistem yang mendukung dan berupaya memperdalam investasi,” katanya.
Angga menambahkan, hingga kini USABC belum menerima keluhan langsung mengenai hambatan regulasi spesifik dari perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di Jawa Timur.
Alih-alih mengurangi investasi, perusahaan AS justru dinilai masih mencari peluang untuk memperluas bisnis di Indonesia. Potensi perdagangan, peluang usaha, serta ketersediaan sumber daya manusia menjadi sejumlah faktor yang menopang optimisme tersebut.
USABC juga melihat peluang penguatan kerja sama, terutama di sektor teknologi. Angga menegaskan, perusahaan-perusahaan AS masih ingin memperluas kontribusi positifnya di Indonesia di tengah dinamika ekonomi yang berlangsung.
“Sejauh ini kita tidak melihat adanya upaya untuk menurunkan jumlah investasi, tapi justru sebaliknya, bagaimana bisa berekspansi lebih jauh karena potensi Indonesia akan sangat besar,” ujarnya. (Sn)