Inflasi Maret 2026 Melandai di Tengah Ramadan, Tekanan Tarif Listrik dan Emas Masih Dominan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam rilis berita resmi statistik, Rabu (1/4/2026). / Tangkapan layar YouTube BPS
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam rilis berita resmi statistik, Rabu (1/4/2026). / Tangkapan layar YouTube BPS

Jakarta|EGINDO.co Badan Pusat Statistik melaporkan laju inflasi pada Maret 2026 menunjukkan tren perlambatan, baik secara bulanan (month to month/MtM) maupun tahunan (year on year/YoY), meskipun periode tersebut bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong kenaikan harga.

Berdasarkan rilis resmi, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 110,95, meningkat dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 110,57. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,41% (MtM), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,68%. Sementara itu, inflasi tahunan turun cukup signifikan menjadi 3,48% (YoY) dari 4,76% pada Februari.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menegaskan bahwa perlambatan ini mencerminkan meredanya tekanan harga, meskipun aktivitas konsumsi masyarakat meningkat selama Ramadan.

Dari sisi komponen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,08%, terutama akibat kenaikan tarif listrik. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tinggi hingga 15,32%, didorong oleh lonjakan harga emas perhiasan.

Sejalan dengan data tersebut, proyeksi dari ekonom Bank Mandiri sebelumnya memperkirakan inflasi Maret akan berada di kisaran 0,62% (MtM) dan 3,70% (YoY). Perlambatan inflasi dinilai tidak lepas dari koreksi harga emas di pasar yang membantu meredam tekanan inflasi inti, meskipun indikator konsumsi seperti Mandiri Spending Index menunjukkan peningkatan selama Ramadan.

Pandangan serupa disampaikan ekonom Bank Permata yang memperkirakan inflasi tahunan di level 3,71%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi efek basis rendah (low base effect) dari kebijakan diskon tarif listrik pada awal tahun sebelumnya, sehingga angka pembanding tahunan menjadi lebih stabil.

Sejumlah media nasional seperti Bisnis Indonesia dan Kontan turut mencatat bahwa meskipun tekanan musiman dari Ramadan dan Lebaran biasanya meningkatkan harga pangan, transportasi, dan rekreasi, dampaknya pada tahun ini relatif terbatas terhadap inflasi tahunan.

Ke depan, para ekonom mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, antara lain potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) domestik jika harga minyak mentah global kembali mengalami kenaikan tajam. (Sn)

Scroll to Top