Jakarta|EGINDO.co Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mencatat inflasi bulanan (month to month/MtM) sebesar 0,3% pada September 2026. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,21%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September 2026. Secara tahunan (year on year/YoY), inflasi tercatat sebesar 3,28%, sementara secara tahun kalender (year to date/YtD) mencapai 2,17%.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,26% dari total inflasi kelompok sebesar 0,88%. Lonjakan harga komoditas pangan mendominasi pendorong utama, dipimpin oleh cabai rawit dengan andil 0,08%, cabai merah (0,06%), daging ayam ras (0,05%), beras (0,03%), telur ayam ras (0,02%), serta ikan segar dan kangkung masing-masing 0,01%. Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatatkan deflasi sebesar 0,14% dengan andil minus 0,01%.
Sebelumnya, realisasi inflasi tahunan September 2026 ini sedikit di bawah median proyeksi 14 ekonom dan analis dalam BIG Consensus Insights DataIndonesia yang memperkirakan angka 3,3% YoY. Namun, proyeksi bulanan para ekonom di kisaran 0,33% MtM tidak jauh berbeda dari realisasi aktual.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual, sebelumnya memperkirakan tekanan harga utama berasal dari komoditas pangan pokok yang mengalami kenaikan tinggi, seperti cabai dan beras. Di sisi lain, meski inflasi umum merangkak naik, inflasi inti justru diperkirakan melandai ke level 2,82% YoY dari sebelumnya 2,92% YoY, tertahan oleh penurunan harga emas global. (Sn)