Inflasi DKI Jakarta Melandai pada April 2026, Tekanan Harga Energi Masih Membayangi

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Laju inflasi di DKI Jakarta pada April 2026 menunjukkan tren perlambatan setelah momentum Ramadan dan Idulfitri mulai mereda. Berdasarkan data terbaru, inflasi bulanan Jakarta tercatat sebesar 0,21 persen secara month-to-month (mtm), lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 0,51 persen. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas inflasi nasional yang tercatat 0,13 persen.

Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi Ibu Kota juga turun signifikan menjadi 2,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,37 persen. Angka itu sekaligus lebih rendah dibandingkan inflasi nasional tahunan yang berada di level 2,42 persen.

Perlambatan inflasi terutama dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat usai periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Harga sejumlah komoditas pangan yang sebelumnya mengalami kenaikan mulai terkoreksi, seperti daging ayam ras, cabai rawit, hingga telur ayam ras.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau bahkan mencatat deflasi sebesar 0,36 persen secara bulanan. Kondisi ini mencerminkan mulai membaiknya pasokan pangan dan meredanya tekanan konsumsi masyarakat setelah libur Lebaran.

Namun demikian, penurunan inflasi Jakarta belum berlangsung lebih dalam akibat tekanan dari sektor energi dan transportasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, tarif avtur, serta penyesuaian fuel surcharge tiket pesawat disebut menjadi faktor utama yang menahan laju penurunan inflasi.

Kelompok transportasi tercatat menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan mencapai 1,46 persen secara bulanan. Peningkatan tarif angkutan udara terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berdampak pada harga energi dunia.

Dalam keterangan resminya pada Selasa (5/5/2026), otoritas terkait menyebut inflasi tahunan Jakarta tetap berada dalam rentang sasaran pengendalian harga.

“Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta pada April 2026 tercatat sebesar 2,12 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,37 persen maupun inflasi nasional sebesar 2,42 persen,” demikian disampaikan dalam pernyataan resmi.

Untuk menjaga stabilitas harga ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus memperkuat berbagai langkah pengendalian. Strategi yang dijalankan antara lain melalui operasi pasar murah, distribusi pangan bersubsidi, penguatan pasokan antarwilayah, serta kerja sama dengan daerah sentra produksi pangan.

Sejumlah ekonom juga menilai tren inflasi Jakarta masih relatif terkendali. Mengacu pada laporan beberapa lembaga riset ekonomi nasional, tekanan harga diperkirakan tetap moderat sepanjang semester pertama 2026 seiring stabilnya pasokan pangan dan mulai terkendalinya biaya distribusi.

Di sisi lain, tantangan utama tetap berasal dari volatilitas harga energi global dan nilai tukar rupiah yang berpotensi memengaruhi harga barang impor serta tarif transportasi.

Bank Indonesia dan pemerintah daerah optimistis inflasi DKI Jakarta sepanjang 2026 tetap terjaga dalam target nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. (Sn)

Scroll to Top