Washington | EGINDO.co – Harga konsumen di AS meningkat lebih cepat pada bulan September seiring dengan lonjakan harga bensin. Hal ini memberikan pukulan tambahan bagi Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November, sekaligus membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga akhir bulan ini.
Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari Departemen Tenaga Kerja pada hari Rabu (14 Oktober) menunjukkan bahwa tekanan harga tidak lagi terbatas pada sektor energi, yang memicu kekhawatiran di kalangan ekonom bahwa inflasi dasar mungkin menjadi sulit untuk diturunkan. Pasar keuangan kini menilai keputusan suku bunga Federal Reserve bulan ini menjadi lebih sulit diprediksi dibandingkan sebelum data tersebut dirilis.
Laporan ini melengkapi sejumlah survei bulan ini yang menunjukkan penurunan lebih lanjut dalam sentimen konsumen serta anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, yang dipicu oleh kekhawatiran akan meningkatnya biaya hidup. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 78 persen warga Amerika menyalahkan kebijakan Trump—termasuk tarif impor dan konflik di Timur Tengah—sebagai penyebab kenaikan harga yang kini melampaui pertumbuhan upah.
“Inflasi yang kita alami saat ini sebagian besar merupakan akibat dari kebijakan yang tidak menentu dari pihak eksekutif,” ujar Kyle Moore, kepala ekonom di Century Foundation, sebuah lembaga pemikir progresif.
“Lebih buruk lagi, perang yang tidak jelas arahnya di Iran terus mengganggu rantai pasok global. Pemerintahan ini juga sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk mengendalikan laju pembangunan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data.”
Biro Statistik Tenaga Kerja di bawah Departemen Tenaga Kerja menyatakan bahwa IHK naik 0,6 persen bulan lalu, setelah sebelumnya naik 0,4 persen pada bulan Agustus. Kenaikan IHK ini sejalan dengan ekspektasi para ekonom.
Dalam periode 12 bulan hingga September, IHK meningkat 3,7 persen, setelah sebelumnya naik 3,4 persen pada bulan Agustus.
Lonjakan harga bensin sebesar 9,1 persen menyumbang lebih dari separuh kenaikan IHK selama bulan tersebut. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran mendorong kenaikan harga energi. Jenis bahan bakar kendaraan lainnya, termasuk diesel, melonjak 11,9 persen bulan lalu dan tercatat naik 60,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Harga bahan bakar diesel di SPBU berada pada rekor tertinggi, dan muncul kekhawatiran bahwa biaya tersebut akan segera berdampak pada kenaikan harga di supermarket.
Harga pangan tidak mengalami perubahan setelah sempat naik 0,1 persen pada bulan Juli dan Agustus. Harga di toko bahan makanan turun 0,1 persen dalam sebulan terakhir, namun secara tahunan (year-over-year) tercatat naik 1,8 persen. Harga daging sapi turun 1,0 persen pada bulan September, sementara harga produk susu dan turunannya turun 0,9 persen. Sebaliknya, harga minuman non-alkohol melonjak 0,9 persen, dan harga buah-buahan serta sayuran naik 0,5 persen.
Inflasi Inti Di Atas Ekspektasi
Jika tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang fluktuatif, Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) inti naik 0,3 persen pada bulan September, sama dengan kenaikan pada bulan Agustus. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan IHK inti akan naik 0,2 persen. Kenaikan IHK inti ini didorong oleh peningkatan 0,4 persen pada biaya tempat tinggal, termasuk tarif hotel dan motel. Biaya sewa yang setara dengan nilai sewa pemilik rumah (owners’ equivalent rent) naik 0,3 persen.
Kenaikan juga terjadi pada biaya rekreasi dan pendidikan. Harga mobil dan truk bekas meningkat 0,7 persen, sementara tarif maskapai penerbangan naik 1,2 persen di tengah tingginya harga bahan bakar pesawat. Harga pakaian naik 0,3 persen.
Dalam periode 12 bulan hingga September, inflasi IHK inti meningkat 2,6 persen, setelah sebelumnya naik 2,4 persen pada bulan Agustus. Bank sentral AS (The Fed) menggunakan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures Price Index/PCE) sebagai acuan untuk target inflasi 2 persen.
Angka IHK inti cenderung lebih rendah dibandingkan inflasi PCE inti—yang tercatat naik 3,0 persen pada bulan Agustus—karena adanya perbedaan bobot yang diberikan pada komponen-komponen dalam keranjang perhitungan.
Berdasarkan data dari FedWatch Tool milik CME Group, pasar keuangan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed tanggal 27–28 Oktober menjadi sekitar 52 persen, naik dari sekitar 22 persen sebelum laporan IHK ini dirilis. Peluang kenaikan suku bunga bulan ini telah berkurang menyusul data pertumbuhan penggajian (payroll) bulan September yang kurang memuaskan, serta angka inflasi PCE untuk bulan Juli dan Agustus yang lebih rendah dari perkiraan.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) cenderung naik, sementara nilai tukar dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang lainnya. Bursa saham AS dibuka melemah.
Pada bulan September, The Fed menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen–4,00 persen—kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir—dan mengisyaratkan akan adanya kenaikan biaya pinjaman lebih lanjut di bulan-bulan mendatang. Para ekonom sebelumnya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember.
Laporan inflasi IHK (CPI) bulan September sangat dinantikan oleh jutaan pensiunan dan penerima manfaat Jaminan Sosial (Social Security) lainnya yang ingin mengetahui seberapa besar kenaikan tunjangan mereka tahun depan.
Social Security Administration mengumumkan penyesuaian biaya hidup sebesar 3,6 persen untuk tunjangan Social Security dan Supplemental Security Income pada tahun 2027. Program-program ini memberikan manfaat bagi warga Amerika lanjut usia yang telah pensiun, serta penyandang disabilitas dan kelompok tertentu yang terdiri dari janda, duda, dan anak-anak.
Sumber : CNA/SL