Rawalpindi | EGINDO.co – Industri pernikahan mewah Pakistan sedang berada di bawah tekanan karena keluarga mengurangi pengeluaran di tengah kenaikan biaya dan ketidakpastian ekonomi yang terkait dengan perang di Iran.
Pernikahan di Pakistan biasanya merupakan acara sosial yang rumit yang menyatukan ratusan – terkadang ribuan – tamu.
Keluarga biasanya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merencanakan pakaian, makanan, dan dekorasi.
Namun, bisnis di seluruh sektor mengatakan suasana telah berubah karena pelanggan mengurangi pemesanan dan skala perayaan.
Pelanggan Mengurangi Pengeluaran
Di butik pengantin Zari Palace, yang terletak di kota terpadat keempat di negara itu, Rawalpindi, pelanggan masih terus datang.
Namun pemiliknya, Hassan Sheikh, mengatakan banyak yang berbelanja lebih hati-hati karena ketidakpastian ekonomi membebani anggaran rumah tangga.
“Kami sudah menghadapi banyak kesulitan karena inflasi, penurunan aktivitas bisnis, dan pajak. Jika krisis Timur Tengah berlanjut selama enam hingga delapan bulan lagi, itu akan menciptakan situasi yang sangat sulit bagi kita semua,” katanya kepada CNA.
Musim pernikahan di Pakistan biasanya mencapai puncaknya antara November dan April, dengan tempat dan penyedia jasa sering menerima pemesanan hingga enam bulan sebelumnya.
Muhammad Saqib, yang telah mengoperasikan tenda pernikahan selama lebih dari 20 tahun, mengatakan permintaan telah melemah secara signifikan.
“Setelah perang (di Iran), saya menjadi sangat khawatir dan harus memberhentikan pekerja. Saya mengurangi staf saya karena tidak ada pekerjaan akibat perang,” katanya.
Gangguan Pasokan Menambah Tekanan
Pemilik bisnis mengatakan ketidakpastian regional juga memengaruhi rantai pasokan, membuat dekorasi impor semakin sulit didapatkan.
Banyak barang dekoratif yang digunakan di pernikahan Pakistan dikirim melalui Dubai, pusat logistik utama untuk kawasan ini.
Namun, jalur pasokan ini telah berada di bawah tekanan sejak pertempuran yang melibatkan Iran meningkat pada akhir Februari. Gencatan senjata telah berlaku sejak April, tetapi bentrokan terus berlanjut dan kesepakatan untuk mengakhiri perang belum tercapai.
Perusahaan pelayaran telah melaporkan gangguan, biaya asuransi yang lebih tinggi, dan penundaan karena kapal-kapal menghadapi risiko keamanan yang meningkat di wilayah tersebut.
“Ketika Teluk ditutup, bagaimana barang-barang akan sampai kepada kita? Semua barang dekoratif saya datang melalui Dubai sebelum sampai ke Pakistan, tetapi saya belum menerima kiriman apa pun selama dua hingga dua setengah bulan terakhir,” tambah Saqib.
Tantangan ini muncul karena otoritas Pakistan terus memberlakukan langkah-langkah penghematan yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi dan mencegah pengeluaran berlebihan.
Otoritas telah memberlakukan pembatasan waktu pernikahan, membatasi jumlah tamu hingga 200 orang, dan memberlakukan kebijakan satu hidangan di acara pernikahan.
Para pelaku industri mengatakan langkah-langkah tersebut semakin menekan permintaan.
Kegantungan pada Kiriman Uang
Kekhawatiran utama lainnya adalah kiriman uang.
Pakistan adalah salah satu penerima uang terbesar di dunia yang dikirim pulang oleh pekerja di luar negeri. Puluhan miliar dolar AS mengalir ke negara itu setiap tahun, dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab termasuk di antara sumber terbesar.
Dana ini merupakan sumber utama devisa bagi Pakistan dan pendapatan bagi jutaan rumah tangga.
Para ekonom mengatakan bahwa remitansi memainkan peran yang sangat besar dalam mendukung perekonomian Pakistan, terutama karena negara tersebut terus berjuang untuk menghasilkan pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan.
“Kita harus memiliki remitansi ini karena kita tidak meningkatkan ekspor kita. Dalam waktu dekat, tidak ada bukti bahwa kita dapat menggandakan ekspor kita. Remitansi sebenarnya merupakan tulang punggung devisa,” kata Nasir Iqbal, seorang profesor ekonomi di Pakistan Institute of Development Economics, sebuah lembaga think-tank yang berbasis di Islamabad.
Data dari Bank Negara Pakistan menunjukkan remitansi menurun pada bulan April dibandingkan bulan sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran di kalangan bisnis bahwa rumah tangga mungkin menjadi lebih berhati-hati dengan pengeluaran diskresioner seperti pernikahan.
Dampaknya sangat luas karena industri pernikahan mendukung jaringan bisnis yang luas, mulai dari katering dan dekorasi hingga fotografer dan penjahit.
Dengan inflasi yang tinggi, banyak perusahaan khawatir bahwa musim pernikahan di masa mendatang mungkin tidak akan membawa tingkat pengeluaran yang sama seperti yang pernah mereka andalkan.
Sumber : CNA/SL