Indonesia Modern Hedonisme

Gaya Hidup Modern

Jakarta | EGINDO.co – Dua hari yang lalu saya berkesempatan mengajar di Universitas Paramadina untuk dua kelas sekaligus, pemasaran dan marketing. Topiknya hits banget, “Indonesia Modern Hedonism”.

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani, hedone , yang artinya kesenangan yang berlebihan dan (bisa) mendatangkan kesedihan atau penyakit. Misalnya pesta pora yang berlebihan sampai akhirnya sakit karena mabukmabukan sepanjang pesta pada zaman Yunani kuno. Sebenarnya hedonisme itu bukanlah hal atau kata yang baru di Indonesia.

Hanya, akhir-akhir ini kita sering mendengar kata “hedon” dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan gaya hidup seseorang yang terkesan berlebihan dalam mengumbar kemewahan. Hedonisme sudah ada di Indonesia sejak dahulu kala dan masih bisa terlihat sampai sekarang bentuk-bentuk hedonisme lokal.

Pesta pernikahan tujuh hari tujuh malam di Jambi, pesta sunatan tiga hari di Palembang, merupakan hal yang biasa masih bisa terlihat. Bangunan-bangunan megah seperti candi-candi raksasa adalah bentuk hedonisme kala itu, sama seperti megahnya piramida di Mesir yang memakan korban nyawa budak-budak dan megahnya gereja-gereja emas di Spanyol yang dirampok dari Kerajaan Inca dan Aztec.

Hedonisme tidak hanya sering menyulitkan atau mendatangkan masalah bagi para pelaku atau pemujanya, juga mendatangkan masalah bagi yang ada di sekitarnya. Hedonisme itu tidak hanya ada di strata masyarakat kaya, melainkan ada di setiap strata sosial dalam bentuknya masing-masing.

Pesta dangdutan tiga hari tiga malam dengan budaya “nyawernya” masyarakat nelayan di pesisir Jawa juga bisa dikategorikan bentuk hedonisme. Beda hedonisme lokal zaman dulu dengan hedonisme modern yang kerap terlihat di Indonesia adalah seringnya terlihat fenomena seakan orang begitu “memujanya” menjadi gaya hidup yang dianggap dapat merefleksikan atau menjadi status simbol orang tersebut.

Untuk itu, begitu banyak hal yang harus dikorbankan. Tidak saja finansial, waktu, energi, bahkan harga diri. Orang jadi cenderung memaksakan diri, menghalalkan segala cara agar bisa hidup dalam kemewahan. Sering jadi perdebatan tak berujung, mana yang sebab dan mana yang akibat, korupsi dan gaya hidup hedonis.

Setelah korupsi, jadi hedonis, atau karena ingin jadi hedonis, makanya harus korupsi. Di luar negeri, seperti di Jepang (hampir semua orang hidupnya wajar dan tidak berlebih sesuai dengan standar penghasilan masing-masing), seorang miliuner setiap hari ke kantor bersepeda setiap pagi atau naik subway. Sementara di Indonesia, adalah hal yang biasa orang belabelain kredit untuk membeli mobil mewah, padahal dia hanya karyawan biasa, atau kredit beli handphone iPhone 6, padahal dia tidak benar-benar membutuhkannya.

Semua hanya demi gengsi di depan teman-temannya, memakai handphone tercanggih. Seminggu yang lalu, sebuah label minuman keras merayakan ultah ke 300 tahun. Ada dua jenis undangan di acara itu, tamu yang diundang makan malam adalah kalangan terbatas, relasi dekat, dan VVIP di negeri ini. Undangan pesta hingga pagi menjelang dengan free flow minuman brand itu sendiri, nonstop.

Nah tamu yang hadir banyak banget dan sepertinya banyak banget orang (paling tidak, yang saya kenallah), yang niat banget agar bisa mendapatkan undangan dan terlihat di acara pesta hits yang katanya “Party of The Year 2015”. Banyak banget kenalan saya yang niat banget dress up from head to toe selama berjam-jam, bahkan seharian sampai bela-belain enggak ngantor dan udahannya, berhubung pada tipsy, bahkan ada yang pulang sudah tidak sanggup lagi berdiri lurus.

Bahkan, ada sebagian yang ramai-ramai patungan buka kamar di hotel berbintang lima di gedung yang sama dengan alasan tipsy sehingga tidak lagi sanggup mengemudikan mobil pulang ke rumah. Duh segitunya banget deh demi terlihat dan dilihat. Padahal, saya berani jamin deh sebagian besar “penggembira” yang ada di pesta itu bukanlah konsumennya brand minuman keras itu.

Suka atau tidak suka, penggembira, the hedonists inilah yang membuat pesta ini berhasil menjadi pembicaraan selama beberapa hari di Ibu Kota. Topiknya tentu bukan tentang minumannya, tapi kelakuan mereka sendirilah pastinya. Di sesi kuliah ini, saya juga ditanya, apakah hobi belanja barang mewah itu bentuk hedonisme atau bukan.

Menurut saya, jika Anda memang membutuhkan dan sudah pantas memiliki dan memakai barang itu, sanggup membelinya dan Anda tidak menyiksa diri dan finansial Anda saat membelinya, itu bukan suatu bentuk hedonisme. Itu akan jadi hedonisme kalau Anda belum layak memiliki atau memakai benda itu.

Misalnya Anda memaksakan diri memakai jam Rolex sport terbaru, sementara atasan Anda hanya memakai jam tangan yang mereknya biasa-biasa saja. Untuk bisa memiliki jam tersebut, Anda harus memaksakan diri terbelit utang kartu kredit selama bertahuntahun. Itu hedonisme. Hedonisme juga ada di setiap komunitas dengan pola yang berbeda-beda.

Ada simbol-simbol hedonisme tersendiri di kalangan komunitas Harley Davidson atau bahkan di kalangan para penggemar heavy metal, mulai aktivitasnya sampai atribut aksesorinya yang sanggup membuat para pengikutnya mengejarnya sampai ujung dunia. Jangan pernah menyalahkan uang Anda.

Itu karena uang hanyalah alat pembayaran semata yang tidak akan ada artinya kalau tidak ada yang bisa dibeli dengan “uang” tersebut sebagai alat pembayaran. Jangan salahkan juga barang-barang mewah kalau Anda seorang hedonis. Benda itu kan tidak pernah memaksa Anda untuk membelinya dan tidak pernah memaksa Anda memaksakan diri agar bisa membelinya.

Jangan pernah juga menyalahkan orang lain jika Anda hedonis. Itu karena pada dasarnya gaya hidup hedonis Anda itu sendiri justru sering menyiksa atau membuat orang yang ada di sekitar Anda merasa terganggu. Kesalahan jelas ada dalam diri Anda yang tidak dapat mengendalikan pola gaya hidup Anda.

 

Sumber: lifestyle.sindonews