India: Sampel Makanan Bayi Nestle Tak Sesuai Standar, Langkah Hukum Diambil

Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India (FSSAI) dengan Nestle
Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India (FSSAI) dengan Nestle

New Delhi | EGINDO.co – Badan pengawas pangan India pada hari Jumat (18 September) menyatakan telah menemukan sampel makanan bayi Nestle yang tidak memenuhi standar dan sedang menempuh jalur hukum terhadap perusahaan asal Swiss tersebut di salah satu pasar dengan pertumbuhan terbesar mereka.

Nestle menyatakan bahwa produk-produknya “sepenuhnya mematuhi semua peraturan yang berlaku” dan akan terus bekerja sama erat dengan badan pengawas tersebut, tanpa memberikan komentar khusus mengenai temuan sampel yang tidak memenuhi standar itu.

Pengawasan ketat ini merupakan langkah terbaru dalam upaya penertiban industri makanan India yang bernilai US$100 miliar (S$127 miliar), yang mencakup inspeksi mendadak ke pabrik dan pengujian produk.

Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India (FSSAI) menyatakan bahwa mereka menemukan sampel “formula lanjutan” (follow-up formula) Nestle—sejenis produk susu untuk bayi—yang “tidak memenuhi standar terkait kandungan biotin”.

Badan pengawas tersebut menetapkan kisaran referensi standar untuk kandungan biotin—yang lebih dikenal sebagai vitamin B7—dalam makanan bayi.

“Analisis ulang” terhadap sampel tersebut menunjukkan ketidaksesuaian dengan ketentuan kadar biotin yang ditetapkan dalam hukum India, ungkap badan pengawas itu dalam sebuah unggahan di media sosial.

FSSAI tidak menyebutkan apakah mereka akan memerintahkan penarikan kembali produk tersebut dari peredaran.

Nestle Menghadapi Proses Hukum

Nestle, yang sahamnya di India turun hampir 3 persen setelah berita mengenai tindakan ini muncul, menganggap India sebagai pasar pertumbuhan yang penting.

Produk susu dan nutrisi, termasuk susu formula bayi dan makanan bayi, merupakan kategori penyumbang pendapatan terbesar bagi Nestle India pada tahun yang berakhir Maret 2026, dengan kontribusi sepertiga dari total penjualan produk senilai US$2,4 miliar.

FSSAI menyatakan pihaknya juga telah mengajukan kasus hukum terkait dua produk makanan bayi Nestle lainnya, yaitu NAN Excella Pro Stage 1 dan Lactogen Pro 1, karena mencantumkan klaim yang menyesatkan dan melanggar peraturan.

“Tiga kasus ajudikasi terpisah telah diajukan terhadap Nestle,” ujar FSSAI.

Menanggapi pemberitahuan tersebut, Nestle India menyatakan telah kembali menyerahkan tanggapan rinci kepada pihak berwenang mengenai pernyataan yang tercantum pada label produk, yang menurut mereka “bersifat faktual dan didukung oleh literatur ilmiah”.

Label-label tersebut “telah disetujui oleh komite ahli FSSAI,” tambah perusahaan itu. Nestle juga sempat bermasalah dengan badan pengawas pangan India pada tahun 2015, ketika pihak berwenang melarang peredaran mi Maggi yang populer akibat dugaan kadar timbal yang berlebihan dan kesalahan pelabelan, yang memicu penarikan produk secara besar-besaran. Maggi kemudian kembali dipasarkan setelah melalui serangkaian pengujian ulang.

Perdebatan mengenai keamanan pangan di India semakin memanas sejak Reuters melaporkan bulan lalu bahwa pemerintah memilih aturan pelabelan yang lebih longgar setelah adanya lobi dari Coca-Cola serta kelompok-kelompok yang mendukung Nestle dan PepsiCo, yang berargumen bahwa label peringatan tidaklah efektif.

Namun, banyak perusahaan telah menerapkan langkah-langkah semacam itu secara sukarela di pasar Eropa.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top