Indah Kiat, Saham Grup Sinarmas Paling Unggul Selama 2020

Indah Kiat
Indah Kiat

Jakarta | EGINDO.co – Kinerja saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) melesat jauh atau ungguli di atas harga saham emiten Grup Sinarmas lainnya sepanjang 2020.

Hal itu berdasarkan dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipantau EGINDO.co Sabtu (2/1/2021), dimana emiten produsen kertas tersebut  itu melaju 36,13 persen sepanjang 2020 menjadi Rp10.425 per saham. Hal itu berdasarkan akhir perdagangan Rabu (30/12/2020).

Sedangkan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menyusul di belakangnya dengan kenaikan 15,32 persen secara year-to-year (yoy) menjadi Rp16.000 per saham. Saham dibawah Grup Sinarmas lainnya yang mencatatkan kinerja positif adalah PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk. (MCOR) dan PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS). Saham MCOR terpantau naik 7,75 persen pada tahun lalu menjadi Rp139 per saham.

Kemudian menyusul di belakang MCOR dan DMAS adalah emiten perkebunan PT Sinar Mas Agro Resources & Technologies Tbk (SMAR) yang menguat tipis 0,24 persen ke level Rp4.150. Sementara itu, saham emiten telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) menjadi emiten Grup Sinarmas dengan performa harga saham paling buruk dengan koreksi 51,45 persen ke level Rp67 per saham.

Lantas saham PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) menyusul di belakang FREN setelah anjlok 25,12 persen sepanjang 2020 di posisi Rp11.400.

Selanjutnya beberapa emiten dibawah Grup Sinarmas juga mencatatkan hasil negatif, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) terkoreksi 2,39 persen ke Rp1.225, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) turun 3,78 persen ke Rp9.850, PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) turun 13,68 persen ke Rp505, dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas Msig Tbk (LIFE) anjlok 20,66 persen ke Rp4.790.

Sementara itu dari kinerja keuangan,  Kinerja INKP juga terbilang moncer kendati mendapat tekanan seiring pandemi Covid-19 dan tren penurunan harga pulp dunia. Secara kumulatif, pada semester pertama tahun 2020, permintaan kertas turun 17,1 persen yoy menjadi 31,3 juta ton, dimana pelemahan permintaan tertinggi dari Amerika Utara sebesar 20.9 persen yoy, dan Eropa 19.9 persen yoy.

Untuk itu hingga September 2020, laba INKP naik 20,75 persen menjadi US$287 juta di saat pendapatan perseroan turun 11,15 persen menjadi US$2,19 miliar. Kondisi yang ada membuat optimis INKP Berjaya di lantai BEI tahun 2021 [email protected]

Fd/bs/TimEGINDO.co