Jakarta | EGINDO.com – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) memasuki fase transformasi penting yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap siklus harga pulp dimana pabrik baru INKP di Karawang diperkirakan menjadi penggerak transformasi.
Hal tersebut membuat perubahan dengan mendorong bisnis kemasan menjadi kontributor terbesar pendapatan dalam beberapa tahun kedepan. Proyek pabrik Indah Kiat Karawang (IKK) senilai sekitar USD3 miliar akan mengubah profil bisnis INKP dari produsen pulp yang sangat dipengaruhi siklus komoditas menjadi pemain kemasan dengan margin lebih tinggi.
Mengapa hal tersebut terjadi? Kondisinya karena berbeda dengan pabrik Serang yang sekitar 30 persen produksinya berupa kemasan putih atau white packaging, sedangkan pabrik Karawang memiliki komposisi sekitar 77 persen, sehingga menghasilkan harga jual dan margin yang lebih tinggi.
Fakta yang ada bahwa kemasan putih memberikan margin kotor sekitar 23 persen, jauh di atas produk dari pabrik Serang yang sekitar 15 persen. Hal itu didukung pasokan bahan baku internal berupa bleached chemi-thermomechanical pulp (BCTMP) dan bleached hardwood kraft pulp (BHKP) dari afiliasi perusahaan. Pabrik tersebut akan menambah kapasitas produksi kemasan hingga 3,9 juta ton, dengan tahap pertama mencapai 2,4 juta ton.
Kini seiring beroperasinya pabrik tersebut maka unit bisnis Asia Pulp and Paper (APP) dalam hal kemasan akan menyumbang hampir 50 persen, tepatnya 49,9 persen, pendapatan INKP pada 2028 mendatang. Perkiraan ini dapat diterima disebabkan kontribusi diperkirakan melampaui gabungan bisnis pulp dan kertas grafis, menandai perubahan struktur pendapatan perseroan.
Pada sisi lain harus diakui bahwa industri pulp diperkirakan menghadapi tekanan akibat tambahan kapasitas global dalam beberapa tahun mendatang. Hal itu juga melanda Indonesia dimana berada pada kelompok produsen dengan biaya produksi terendah di dunia. Untuk itu diperkirakan biaya tunai atau cash cos INKP sekitar USD250 per ton, ditopang kontrak pasokan serat dengan afiliasi hingga tahun 2035 mendatang.
Solusi cerdas dengan penggunaan energi terbarukan sekitar 54 persen, harga batu bara yang mendapat fasilitas domestic market obligation (DMO), serta mayoritas biaya dalam rupiah sementara pendapatan diperoleh dalam dolar AS. Kondisi tersebut membuat margin tunai INKP dinilai tetap tangguh meski harga pulp melemah.
Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain pelemahan harga pulp yang lebih dalam dari perkiraan, proses peningkatan produksi pabrik baru yang lebih lambat, serta risiko terkait kebijakan pemerintah dan transaksi dengan pihak berelasi.
INKP harus memperkirakan semua risiko yang bakal muncil dengan memperkirakan margin tunai masih berada di kisaran USD263 per ton padatahun 2028 mendatang. Sedangkan pada tahun 2026 ini kondisi USD298 per ton. Nah, transformasi bisnis diperkirakan mendorong pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam beberapa tahun mendatang.@
Bs/fd/timEGINDO.com