Impor Perdana Minyak Rusia Direalisasikan, Pemerintah Perkuat Cadangan Energi Nasional

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah mulai merealisasikan impor minyak mentah dari Rusia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, sebanyak 770.000 barel minyak mentah telah didatangkan pada tahap pertama melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).

Menurut Bahlil, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan minyak mentah bagi kebutuhan dalam negeri, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.

“Sudah kita lakukan impor tahap pertama, dilakukan oleh pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas,” ujar Bahlil di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7/2027).

Ia menegaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah menjaga cadangan energi nasional, sekaligus memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman. Indonesia, lanjutnya, tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif sehingga dapat menjalin kerja sama dengan negara mana pun selama tidak bertentangan dengan ketentuan hukum dan kepentingan nasional.

Bahlil juga mengungkapkan bahwa minyak mentah asal Rusia diperoleh dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan sejumlah alternatif pasokan di pasar internasional. Namun, ia belum bersedia mengungkapkan besaran harga pembelian maupun nilai kontrak yang telah disepakati.

Realisasi impor tersebut merupakan implementasi awal dari kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia yang disepakati pada April 2026. Sebelumnya, pemerintah menargetkan pengadaan hingga 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Volume tersebut masih berpotensi bertambah sesuai perkembangan kebutuhan nasional dan pelaksanaan kontrak kerja sama.

Kesepakatan impor minyak tersebut merupakan bagian dari kerja sama government to government (G2G) yang dibangun antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pemerintah juga telah memperkuat landasan hukum melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 26 Tahun 2026 yang memberikan kewenangan kepada badan usaha serta Lemigas untuk melaksanakan pengadaan minyak mentah dan BBM.

Dari sisi ekonomi, kebijakan diversifikasi sumber impor dinilai dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia apabila harga minyak Rusia tetap lebih rendah dibandingkan harga acuan internasional. Biaya pengadaan yang lebih efisien berpotensi membantu menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus mengurangi tekanan terhadap biaya impor migas.

Sejumlah lembaga dan media internasional, seperti Reuters dan Bloomberg, sebelumnya juga mencatat bahwa banyak negara meningkatkan diversifikasi sumber pasokan energi sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga minyak dunia. Langkah tersebut dinilai menjadi strategi untuk menjaga ketahanan energi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya pengadaan.

Dengan dimulainya impor tahap pertama ini, pemerintah berharap pasokan minyak mentah nasional semakin terjaga sehingga kebutuhan kilang dalam negeri dapat terpenuhi dan stabilitas sektor energi tetap terpelihara di tengah dinamika pasar energi global. (Sn)

Scroll to Top