Impor Migas Indonesia Melonjak 49,91 Persen pada Juli 2026

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO,co Nilai impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mengalami lonjakan signifikan pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor migas mencapai US$3,77 miliar, naik 49,91 persen dibandingkan Juli 2025 yang berada di angka US$2,51 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa peningkatan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan total impor nasional sepanjang tahun berjalan.

Secara kumulatif, nilai impor migas selama Januari–Juli 2026 mencapai US$25,77 miliar, meningkat 40,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$18,38 miliar.

Kinerja impor nonmigas juga menunjukkan pertumbuhan. Nilainya naik 16,78 persen, dari US$117,80 miliar pada Januari–Juli 2025 menjadi US$137,56 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Dengan perkembangan tersebut, total nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$163,33 miliar, tumbuh 19,94 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat US$136,18 miliar.

China Masih Menjadi Pemasok Utama

Dari sisi negara asal, China masih menjadi sumber utama impor nonmigas Indonesia. Nilai impor dari negara tersebut meningkat dari US$47,60 miliar pada Januari–Juli 2025 menjadi US$58,29 miliar pada Januari–Juli 2026.

Selain China, peningkatan nilai impor juga tercatat dari sejumlah kawasan dan negara mitra dagang lainnya. Impor dari Australia naik dari US$4,92 miliar menjadi US$6,47 miliar, sedangkan impor dari kawasan ASEAN meningkat dari US$18,88 miliar menjadi US$19,98 miliar.

Kenaikan juga terlihat pada impor dari Uni Eropa, yang meningkat dari US$6,59 miliar menjadi US$8,75 miliar. Sementara itu, impor dari kelompok negara lainnya bertambah dari US$31,04 miliar menjadi US$36,36 miliar.

Adapun data BPS menunjukkan angka impor dari Jepang tercatat US$7,71 miliar pada Januari–Juli 2026, dibandingkan US$8,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, peningkatan impor sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencerminkan tingginya kebutuhan Indonesia terhadap komoditas energi maupun barang dari luar negeri. Kenaikan impor migas menjadi salah satu perhatian utama di tengah dinamika kebutuhan energi nasional dan perkembangan perdagangan internasional. (Sn)

Scroll to Top