Imlek Bermakna Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Petani

Tahun Baru Imlek 2575
Tahun Baru Imlek 2575

Oleh: Fadmin Malau

TAHUN Kelinci Air berakhir dan berganti Tahun Naga Kayu pada 10 Februari 2024. Perayaan Tahun Baru Imlek 2575. Tahun Baru Imlek di Indonesia memiliki arti tersendiri dimana pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, terbit Keppres No 6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14 Tahun 1967 dan pada pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan perayaan Imlek sebagai hari nasional lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002, maka perayaan Imlek sejak tahun 2003 sebagai hari libur nasional.

Penulis mengucapkan Gong Xi Fa Cai kepada masyarakat etnis Tionghoa, semoga selalu sehat, beruntung, dan bahagia sepanjang tahun. Kegiatan Perayaan Tahun Baru Imlek 2575 jatuh pada 10 Januari 2024 dengan shio tahun Naga Kayu memiliki makna kearifan tentang kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya.

Imlek terdiri dari dua kata. Im dan Lek. Im artinya bulan dan Lek artinya penanggalan, jadi Imlek adalah bulan penanggalan atau kalender atau almanat atau penanggalan yang dimulai dari tanggal 15 bulan ke-1 dalam kalender China. Namun, perayaan Imlek itu sendiri berlangsung dari tanggal 15 bulan ke-12 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1.

Mengapa Imlek memiliki makna kearifan tentang kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya? Hal itu karena berhubungan dengan pertanian dimana Tahun Baru Imlek dahulunya merupakan penyambutan musim semi bagi para masyarakat petani di China. Penyambutan musim semi itu para petani di China melakukan kegiatan beribadatan seperti sembahyang kepada Sang Pencipta atau leluhur sebagai wujud rasa syukur karena telah diberi rejeki oleh sang Pencipta.

Para petani sadar produksi pertanian yang diperolehnya bukan semata-mata karena kerja keras saja akan tetapi berkat pemberian Sang Pencipta kepada manusia. Setiap manusia ciptaan Tuhan wajar bersyukur atas rejeki yang diberikan Tuhan. Perayaan Tahun Baru Imlek sebagai ungkapan rasa syukur para petani di China. Perayaan rasa syukur itu puncaknya pada malam ke-15 bulan ke-1 dengan Bulan Purnama (bulan penuh) atau disebut Cap Go Meh. Pada saat malam ke-15 bulan ke-1 dalam penanggalan kalender China para petani di China memasang Lampion di sawah atau di ladang karena akan dimulai kembali musim tanam. Pemasangan lampu Lampion agar terang pada lokasi sawah atau perladangan mendatangkan keindahan dan mengusir hama serta menakut-nakuti hewan perusak tanaman.

Baca Juga :  Pesawat Penumpang Hilang Kontak Di Timur Jauh Rusia

Hal itu penting karena akan dimulai kembali bercocoktanam. Tanaman yang subur, terhindar dari hama dan penyakit tanaman, pintu masuk untuk menghasilkan produksi tanaman yang baik dan maksimal produksinya. Perlakuan memasang lampu Lampion sebagai wujud akan pertanian berhasil dan bila pertanian berhasil maka perekonomian masyarakat petani meningkat. Pembangunan di sektor pertanian menjadi kunci mengatasi kemiskinan bangsa Indonesia. Karenanya, pembangunan sektor ini harus dilakukan secara sungguh-sungguh melalui kerja keras.

Pemerintahan Era Orde Baru, tidak banyak berkata-kata dalam pembangunan pertanian tetapi selalu melakukan proses kerja dalam pembanguna pertanian. Terus selalu diinginkan meningkatkan faktor-faktor pendukung pembangunan pertanian. Berkat kerja keras membangun faktor-faktor pendukung pembangunan pertanian akhirnya Indonesia menjadi negara swasembada pangan yang diakui dunia. Pemerintah era Orde Baru bicara proses pembangunan pertanian bukan bicara hasil pertanian. Kerja pertanian memang harus bicara proses. Tidak mungkin memanen produk pertanian jika tidak pernah menanam. Sedangkan sudah menanam belum tentu memanen.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang ketahanan pangan dinyatakan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan sangat penting dan tanda ketahanan pangan tersedianya stok pangan di gudang-gudang logistik dan di pasar-pasar sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat tersedia.

Baca Juga :  Pramugari: Baju Penumpang Yang Cocok Di Pesawat

Ketersediaan pangan sangat penting maka Bung Karno (Presiden Indonesia pertama, Dr. Ir. Soekarno) pernah mengatakan, pangan adalah menyangkut hidup-mati bangsa. Bagaimana agar memiliki ketahanan pangan tentunya peran petani sangat menentukan.

Perayaan Tahun Baru Imlek 2575 memiliki makna kearifan tentang kehidupan manusia yakni sediakan payung sebelum hujan. Dalam prinsip ekonomi, kegagalan merupakan resiko dari kerja keras dan kegagalan itu harus diantisipasi hingga tidak mendatangkan kerugian yang besar. Prinsip ini terlihat adanya Kue Keranjang (Nian Gao) atau Kue Bakul yang terbuat dari tepung ketan dan gula dengan memiliki tekstur kenyal dan lengket pada perayaan Tahun Baru Imlek. Kue ini merupakan persediaan ketika kegagalan yang diperoleh. Kegagalan boleh saja datang akan tetapi harus disiapkan solusi dari kegagalan itu yakni jangan sampai kelaparan. Bahaya kelaparan satu tanda dari kegagalan perekonomian.

Tersedianya bahan pangan yang cukup tanda kemakmuran masih berpihak. Kehidupan para petani di China waktu itu sangat berharap keberhasilan itu harus terus diraih setiap tahun. Mengantisipasi terjadinya kelaparan yang disebabkan banyak faktor seperti banjir, tanah longsor, kemarau panjang yang membuat gagal panen harus memiliki solusi yang tepat. Kue Bakul merupakan antisipasi pangan bagi para petani di China waktu itu. Kue Bakul dapat menjadi solusi sebab kue itu rasanya enak dan tahan lama. Begitu hebatnya antisipasi yang dilakukan, memikirkan paling yang terburuk datang merupakan antisipasi yang paling baik.

Perayaan Tahun Baru Imlek banyak diilhami dari budaya meningkatkan perekonomian para petani di China waktu itu sehingga kala itu prinsip-prinsip ekonomi pertanian sudah dilaksanakan dengan baik. Sosial ekonomi pertanian atau pola agribisnis telah terjadi dan dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat petani di China. Apa yang dilakukan pada peringatan Imlek pada dasarnya perlakuan prinsip agribisnis, berlandaskan kepercayaan kepada Sang Pencipta yang memberikan rejeki. Artinya kerja keras, bercocoktanam sebagai kegiatan bisnis harus direstui atau ditentukan oleh Sang Pencipta dan manusia (para petani) harus berusaha secara maksimal.

Baca Juga :  Setelah Imlek 15 Hari, Muncul Keindahan Bulan Purnama

Kini juga berlaku prinsip itu karena ketika seorang petani menanam tanaman Kol, Jeruk misalnya, ketika selesai bertanam maka harus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tanaman itu dapat tumbuh dan berkembang sebab tanaman adalah makhluk hidup yang ketentuan hidupnya ada pada Sang Pencipta. Fenomena inilah dilakukan para petani di China yang dimanifestasikan dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Bersyukur kepada Sang Pencipta sebab hasil pertanian tahun ini baik dan berdoa agar tahun mendatang, Sang Pencipta memberikan hasil pertanian yang lebih banyak dan lebih baik lagi. Sikap berusaha, bekerja keras dan berdoa tergambar dalam perayaan Imlek.

Perayaan Imlek menjadi satu manifestasi dari keuletan, kegigihan, kerja keras yang didasari dengan memohon bantuan Sang Pencipta agar diberikan hasil produksi pertanian yang maksimal. Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan rejeki yang berlipat ganda. Sejarah dari adanya perayaan Imlek bermakna untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani di China waktu itu dan waktu kini perayaan Tahun Baru Imlek bermakna kehidupan yang lebih baik dari tahun yang sudah dilalui memasuki tahun yang baru. Hal ini sudah pasti menjadi harapan semua manusia di dunia ini tanpa terkecuali. Selamat Tahun Baru Imlek 2575.

***

Penulis Pemimpin Redaksi EGINDO.co mantan dosen Komunikasi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PD. Muhammadiyah Medan

Bagikan :