Imbal Hasil JGB Melonjak Seiring Kekhawatiran Inflasi Kembali Muncul

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) melonjak
Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) melonjak

TOKYO | EGINDO.co – Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB= Japanese Government Bond) melonjak pada hari Kamis akibat kekhawatiran baru mengenai inflasi, meskipun Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pekan lalu.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik 10 basis poin (bps) menjadi 3,075 persen, level tertinggi sejak Agustus 1996. Imbal hasil tenor lima tahun naik 10 bps ke rekor tertinggi sebesar 2,375 persen.

Aksi jual obligasi ini mencerminkan gejolak pasar global, kekhawatiran inflasi domestik, serta sinyal dari Gubernur BOJ Kazuo Ueda bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut akan terjadi. Hal ini memicu kekhawatiran pasar bahwa bank sentral mungkin masih tertinggal dalam merespons situasi ekonomi (kurang sigap). Perlu dicatat bahwa imbal hasil bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.

“Suku bunga sedang ditinjau ulang secara global, dan suku bunga Jepang tergolong sangat rendah,” ujar Masayuki Koguchi, kepala manajer investasi eksekutif di Mitsubishi UFJ Asset Management.

“Jadi, ketika pasar menemukan sinyal negatif, aksi jual pun semakin cepat,” tambahnya.

Imbal hasil obligasi Jepang naik di seluruh tenor pada hari Kamis, yang merupakan hari perdagangan pertama setelah BOJ menaikkan suku bunga acuan dari 1 persen menjadi 1,25 persen pada hari Jumat sebelumnya. Pasar Jepang tutup hingga hari Rabu karena adanya hari libur nasional.

Ueda memberikan sinyal adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut setelah pertemuan kebijakan tersebut, namun yen justru melemah. Hal ini mendorong otoritas Jepang untuk melakukan pemeriksaan nilai tukar (rate check) di pasar mata uang beberapa jam setelah keputusan BOJ diumumkan.

Pada hari Rabu, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) mencatat lonjakan harian tertajam sejak gejolak pasar tahun lalu. Lonjakan ini dipicu oleh laporan aktivitas manajer pembelian (PMI) yang lebih kuat dari perkiraan—sehingga memicu kekhawatiran inflasi baru—serta hasil lelang obligasi tenor lima tahun yang kurang diminati pasar.

Nilai tukar dolar menguat ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada hari Rabu, didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Pelemahan yen meningkatkan biaya impor, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga domestik.

Kabar di media lokal mengenai Menteri Ekonomi Minoru Kiuchi yang meminta masukan dari para ekonom pendukung kebijakan reflasi dalam menyusun cetak biru ekonomi turut meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral akan terlambat merespons kenaikan harga, kata Katsutoshi Inadome, ahli strategi senior di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management. Cetak biru ekonomi pertama Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang disusun pada bulan Juli dan berfokus pada pertumbuhan ekonomi, sempat mengguncang pasar dan memicu lonjakan imbal hasil obligasi.

Aksi jual obligasi berjangka sangat panjang mereda pada awal bulan ini seiring meningkatnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) yang lebih cepat.

Pada hari Kamis, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 20 tahun melonjak 8 basis poin menjadi 3,900 persen. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun naik 6 basis poin menjadi 4,130 persen.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top