Jakarta|EGINDO.co Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Selasa (23/6/2026) di zona merah. Pada sesi pembukaan, indeks terkoreksi 18,83 poin atau sekitar 0,31 persen ke level 6.097,86 seiring aksi jual yang masih mendominasi sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Tekanan terhadap indeks terutama berasal dari pelemahan saham-saham unggulan perbankan dan sektor energi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun 1,20 persen, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 1,66 persen. Di sektor energi, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga mengalami penurunan cukup dalam sebesar 3,79 persen. Saham PT Astra International Tbk (ASII) turut bergerak negatif pada awal perdagangan.
Meski demikian, tidak seluruh saham berada dalam tekanan. Sejumlah emiten masih mampu mencatatkan penguatan, di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang memberikan penahan terhadap laju pelemahan indeks.
Pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi menunggu menjelang pengumuman hasil Annual Market Classification Review oleh MSCI yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Hasil evaluasi tersebut dinilai penting karena akan menentukan apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang (Emerging Market), yang berpotensi memengaruhi aliran dana investor global.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada peninjauan peringkat Indonesia oleh S&P Global. Kedua agenda tersebut dipandang sebagai faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.
Dari dalam negeri, ketentuan terbaru dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang perubahan atas UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) turut menjadi sorotan. Beberapa investor menilai aturan yang mewajibkan Bank Indonesia memperoleh persetujuan DPR terkait anggaran tahunan dapat memunculkan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneter.
Mengacu pada analisis teknikal, IHSG masih bergerak di area krusial. Sejumlah analis memperkirakan level 6.000 menjadi batas dukungan utama, sementara area 6.220 berpotensi menjadi hambatan penguatan. Apabila indeks kembali ditutup di bawah 6.100, tekanan jual berpeluang berlanjut menuju level psikologis 6.000. Sebaliknya, jika mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG diperkirakan masih bergerak konsolidatif dalam rentang 6.050 hingga 6.220.
Sebelumnya, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang juga dikutip oleh CNBC Indonesia dan Bisnis Indonesia, IHSG menutup perdagangan Senin (22/6/2026) dengan pelemahan hampir 1 persen. Pada saat yang sama, investor asing membukukan aksi jual bersih lebih dari Rp1 triliun, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global dan domestik yang masih berkembang. (Sn)