Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (2/2/2026). Sejak pembukaan, indeks acuan pasar modal Indonesia ini langsung bergerak di zona merah.
IHSG dibuka melemah ke level 8.306,16, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 8.329,61. Tekanan jual berlanjut seiring meningkatnya aksi profit taking dan sentimen kehati-hatian investor terhadap sejumlah kebijakan yang tengah bergulir.
Memasuki sesi kedua perdagangan, pelemahan kian dalam. Hingga pukul 14.22 WIB, IHSG tercatat merosot 5,57 persen ke posisi 7.865,44. Penurunan tajam ini menunjukkan meningkatnya tekanan jual, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Pelaku pasar menilai pelemahan IHSG terkonsentrasi pada sejumlah saham yang terdampak oleh penyesuaian indeks MSCI, serta respons pasar terhadap langkah-langkah penguatan pengawasan yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saham-saham sektor perbankan dan emiten berkapitalisasi jumbo tercatat menjadi kontributor utama penurunan indeks.
Meski demikian, OJK bersama pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat reformasi pasar modal secara menyeluruh, termasuk penguatan tata kelola, transparansi, dan perlindungan investor. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pasar modal dalam jangka menengah hingga panjang, meskipun dalam jangka pendek memicu volatilitas.
Sejalan dengan itu, Bloomberg melaporkan bahwa tekanan pada bursa regional Asia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian global, termasuk arah kebijakan moneter negara maju dan fluktuasi aliran dana asing. Sementara CNBC Indonesia mencatat investor cenderung mengambil sikap wait and see, menunggu kejelasan kebijakan domestik serta perkembangan pasar global.
Ke depan, pelaku pasar diharapkan mencermati rilis data ekonomi lanjutan dan sinyal kebijakan regulator, yang akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG dalam beberapa hari mendatang. (Sn)