IHSG Terkoreksi ke 8.274 Usai BI Tahan Suku Bunga, Saham Big Caps Tekan Indeks

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 19 Februari 2026, seiring respons pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia, IHSG terkoreksi 0,44% dan berakhir di posisi 8.274. Sepanjang sesi, indeks bergerak fluktuatif di kisaran 8.251 hingga 8.376.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,99 triliun dengan volume perdagangan sekitar 49,25 miliar saham. Sementara itu, kapitalisasi pasar saham domestik menyusut menjadi Rp14.969 triliun.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pergerakan indeks. Tekanan terlihat pada saham-saham unggulan seperti:

  • PT Astra International Tbk (ASII)

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Pelemahan saham perbankan dan sektor siklikal dinilai mencerminkan sikap wait and see investor menyusul keputusan suku bunga yang tetap, di tengah dinamika global.

Keputusan BI mempertahankan BI Rate di 4,75% dinilai sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan inflasi. Namun, sebagian pelaku pasar sebelumnya berharap adanya sinyal pelonggaran untuk mendorong pertumbuhan kredit dan likuiditas.

Mengutip laporan Kontan, pelaku pasar masih mencermati ruang kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah ketidakpastian arah suku bunga bank sentral global. Sementara itu, Bisnis Indonesia menilai tekanan terhadap saham perbankan dipicu oleh kekhawatiran margin bunga bersih (NIM) yang berpotensi stagnan apabila suku bunga bertahan lebih lama.

Secara teknikal, analis memperkirakan IHSG berpotensi bergerak terbatas dalam jangka pendek dengan level support di area 8.200 dan resistance di kisaran 8.350–8.400, menunggu sentimen lanjutan baik dari domestik maupun eksternal.

Investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham, terutama pada emiten dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan laba yang solid di tengah siklus suku bunga yang relatif stabil. (Sn)

Scroll to Top